Indahnya GLN

Para tokoh literasi (tengah: Sutejo)

Oleh: Sutejo

Jika merenungi tujuan literasi –berakar pada enam pilar literasi--, sungguh menyentakkan impian baru tentang sosok kualitas peserta didik ke kedan. Tetapi, jika melongok realita guru dan sekolah, sungguh membuat diri menjadi berkecil hati. Tak banyak guru dan dosen menjadi pelopor atau pioneer literasi. Mereka begitu malas dalam menyelami lautan hakikat literasi, terlebih untuk mengarungi indahnya samudera literasi –yang sesungguhnya menjadi pintu besar perubahan peradaban dan keadaban manusia. Itu jika kita melongok dunia pendidikan kita –sekolah dan perguruan tinggi--.

Jika menengok masyarakat, barangkali lebih parah, mengingat masyarakat kita –mayoritas berada di garis menengah ke bawah--. Kebutuhan indah akan memasyaratnya gerakan literasi di masyarakat, hanya akan menjadi ilusi jika tanpa kepedulian tokoh-tokoh masyarakat yang mampu menjadi teladan literasi. Bukankah masyarakat kita masih berbasis keteladanan dalam kehidupannya.

Terakhir, jika kembali pada dunia keluarga maka setali tiga uang dengan realita masyarakat. Tak banyak keluarga yang memiliki kepedulian besar pada dunia literasi, sementara pagutan teknologi dengan berbagai ancamannya –sungguh sangat mengerikan--. Singa atau serigala di depan mata, yang siap menerkam dan membunuh dengan taring-taringnya yang sangat tajam!

Dalam buku Peta Jalan Gerakan Literasi Nasional (PJ-GLN) (Kemendikbud, 2017) dirumuskan secara rinci masing-masing tujuan dari literasi baca-tulis, numerasi, sains, digital, financial, serta budaya dan kewarganegaraan. Coba kita tengok sebentar filosofi tujuan GLN di sekolah berikut.

Tujuan Literasi Baca-Tulis di sekolah meliputi tujuan indah berikut: (1) Meningkatkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia yang ditunjukkan melalui keterampilan baca-tulis disertai ekspresi sesuai dengan budaya Indonesia; (2) Meningkatnya kemampuan siswa dalam literasi baca-tulis; (3) Meningkatnya partisipasi public dalam berbagai kegiatan baca-tulis; dan (4) Tumbuhnya budaya baca tulis di sekolah sebagai kebutuhan. (2017:11-12).

Dapatkah sekolah mewujudkannya? Bahasa Indonesia misalnya, di sekolah sering dipandang sebelah mata, bahkan tidak dianggap sebagai bahasa penting. Hal ini jika dibandingkan dengan bahasa asing sebagai justifikasi atas globalisasi dan kepentingan kemutakhiran. Sikap berbahasa yang bangsa atas keberadaan bahasa Indonesia menarik untuk ditumbuhkembangkan tanpa syarat! Di sinilah, maka diharapkan para siswa memiliki kesadaran tinggi atas kebudayaan Indonesia (bahasa sebagai identitas budaya) penting untuk diekspresikan dalam kegiatan baca-tulis yang mengena dan bermakna. Adakah motivasi dan semangat guru-guru kita untuk mewujudkannya? Rasanya, saya sendiri merasa pesimis, meskipun di beberapa tokoh dan sosok guru, saya masih bisa berharap lebih. Tetapi secara umum, sungguh mencemaskan!

Mengharapkan meningkatnya kemampuan literasi baca-tulis siswa, tanpa menuntut kemampuan yang sama pada para guru adalah kemunafikan massif yang harus dilawan. Untuk itu, guru wajib memiliki peningkatan berliterasi baca-tulis dulu sebelum menuntut anak didiknya untuk melakukannya. Jika sudah terbangun kultur saling meneladani antara guru-murid maka harapan akan tercapainya tujuan ketiga dan keempat tentu akan lebih mudah untuk diwujudkan.

Bayangkanlah kita menuntut peningkatan partisipasi public siswa dalam berbagai kegiatan baca-tulis? Renungkan juga bagaimana kita bermimpi akan tumbuhnya budaya baca tulis di sekolah sebagai kebutuhan? Dua harapan yang nyaris mustahil jika tanpa kerja keras guru, kepeloporan guru, dan dibingkai oleh kultur sekolah yang mendorong adanya kepekaan massif atas terbudayanya literasi di sekolah. Acuh tak acuh kecenderungan sekolah atas kebijakan nasional sama artinya dengan merongrong nasionalisme dirinya kepada bangsa.

Lantas, dimanakah kita akan berada dan bekerja jika kita tak mampu melahirkan keteladanan dalam gerakan literasi nasional? Dosa besar rasanya, jika kita munafik dalam mengawal pendidikan berbasis literasi sementara kita sendiri tidak menjadi guru yang literat. Jangan banyak menuntut siswa dulu terlalu banyak, tetapi mari kita hadirkan sosok-sosok diri yang berliterasi di depan siswa, di sekolah, masyarakat, dan rumah.

Karena itu, hemat saya guru dalam konteks gerakan literasi nasional adalah guru yang (i) ke mana saja membawa buku, (ii) cerdas dalam membaca buku, (iii) mampu mencontohkan bagaimana bersahabat yang indah dengan buku, (iv) mahir dalam memanfaatkan hasil bacaan dalam menulis, dan (v) mampu menjadi teladan penting bahwa dengan baca-tulis kualitas diri (SDM) dapat dipacu dan ditingkat-lipatkan. Negara-negara maju menjadi literasi menjadi akar untuk menumbuhkan pohon besar kualitas anak generasi bangsanya. Kita? Butuh gerakan masih –yang barangkali perlu dikawal secara militeristik ala Jepang di awal tahun 1980-an—sehingga budaya baca-tulis dapat diwujudkan.

(bersambung)

Sumber: akun FB Sutejo

POSTING PILIHAN

Related

Utama 3207240744913385575

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item