Hasrat Emak dan Anik

 


 Pentigrafis : Lilik Rosida Irmawari

Hasrat  

Setiap kali mengunyah makanan, aku seperti ingin menancapkan gigiku dalam-dalam pada batang tenggoro-kanmu seperti kulihat dalam film-film vampire. Dengan begitu hasrat membunuh dan menghisap darah mem-buncah di tengah ketidakberdayaanku.

Tapi aku tetap tak berdaya. Dari waktu ke waktu dan hanya ada rasa marah semakin lama semakin meng-gunung. Aku kalah dengan rasa lapar, kesombonganku runtuh pada titik nadir. Aku tak berdaya dan tetap saja makanan ini kukunyah mengenyangkan hasrat laparku.

Ketika engkau meletakkan piring makanan serta sung-ging senyum darahku memanas, perlahan mendidih naik ke ubun-ubun. Sama seperti ketika aku melihatmu bergu-mul penuh hasrat, panas demikian bergairah di depanku dengan laki-laki lain hanya untuk membangkitkanku dari kekelaman malam yang demikian membeku.

Bondowoso, April 2016


 

Emak

Masih benar-benar pagi dan belum ada semburat ca-haya. Aku masih memeluk lutut, rasa hangat perlahan menjalar ke sekujur tubuh. Dari balik sarung kuperhatikan Emak memupuri wajahnya dan mengoleskan lipstik. Sam-bil mematut wajah di cermin beliau tersenyum-senyum. Ada kepuasan tergurat. Emak tidak tahu kalau tingkahnya kuperhatikan. Aneh, perasaan itu muncul dalam benakku karena akhir-akhir ini Emak sedikit berubah. Sebelum berangkat mencari kayu bakar, biasanya tidak pernah memakai pupur, membiarkan saja kulit wajah yang mu-lai keriput. Tidak terlalu hitam kulit Emak karena sangat rajin memakai lulur beras dicampur kunir dan akar teki. Karena kerjanya lumayan berat otot-ototnya menonjol di sekitar lengan, bahu, leher akibat mengangkat beban kayu yang dirangkai jadi satu yang panjangnya terkadang sam-pai 4 meter.

Biasanya satu minggu sekali Emak berjalan kaki menu-ju hutan desa sebelah, jaraknya sekitar 5 km. Pagi buta berangkat dan setelah lohor baru kembali. Kayu bakar itu nantinya dipergunakan untuk memasak air nira menjadi gula. Seingatku satu bulan terakhir ini Emak semakin ra jin mencari kayu bakar, tidak lagi seminggu sekali tapi dua kali. Benar-benar luar biasa dan aku lihat bukan wajah ca-pek tapi malah semakin seger, benar-benar aneh.

Hingga suatu siang aku memergoki Emak sedang cengar-cengir sendiri di cermin. Begitu melihatku Emak memasang muka masam, secepat kilat menutupi bagian lehernya dan menyembunyikan sesuatu di balik ban-tal. Aku pura-pura tidak melihat dan keluar dari kamar. Ketika Emak tertidur sangat pulas aku memperhatikan dengan seksama warna merah kehitaman di leher Emak, banyak sekali bercampur dengan kerokan. Aku semakin penasaran lalu mengambil bungkusan dibawah bantal. Ketika kubuka, duh dari mana Emak dapat duit sebanyak ini? Duh Tuhan, Emakku....Emakku…, aku terkulai tak berdaya, jiwaku terbakar.

Sumenep, April 2016


Anik
 

Mata kejora. Senang sekali menatap matanya yang berkelip seperti bintang pagi, kepyur-kepyur, gemerlap. Mata itu tetap berkelip, bercahaya pada usia setengah abad. Anik, mata kanak-kanaknya yang dulu sering kunik-mati menelusuri pematang sawah, tegalan dan pohon perdu sambil menenteng kaleng bekas mencari bekicot di sela-sela rimbun nanas. Matanya terbeliak membesar ketakutan ketika ada kalajengking mempersiapkan diri seperti rudal yang siap diluncurkan, ekornya keatas siap menyengat. Beliak mata membesar itu demikian indah, aku demikian menikmatinya seperti kemilau gemerlap bintang pagi di subuh yang syahdu.

Anik terbahak kemudian memelukku sangat erat. Pos-turnya tetap kecil, mungil dan imut seperti tiga puluh dua tahun silam terakhir kami bertemu. Tentu saja menghabis-kan masa kanak-kanak, remaja bersama dan bersekolah di sekolah yang sama ikatan batin kami sangat kuat. Inilah pertemuan pertama kami setelah berpisah karena selepas Sekolah Pendidikan Guru aku hijrah ke Kalimantan Ten-gah. Ada kabut kesedihan yang mengambang di kerjab bola mata Anik ketika kugenggam tangannya. Sedu-se-dannya tumpah seperti irama gerimis. Bibirnya bergetar ketika menceritakan bahwa ia dan Pram sering kali me-larungkan surat yang dimasukkan ke dalam botol dengan harapan laut bisa mengantarkannya padaku. Dimanapun aku berada.

Aku menahan perih dan sakit yang menyodok ulu hati. "Pram menderita sirosis, mamamu, May yang ia sebut se-belum meninggal " Tangisku pecah. Keheningan demikian mencekam, kesedihan dalam kerjab bola mata Anik men-erbangkan anganku pada masa dimana rasa indah itu tumbuh, sangat membahagiakan dan memabukkan. Cinta yang bersemi dan disemaikan hanya pada satu hati. Dua hati mencintai satu hati, dan aku memutuskan mengikuti jejak elang, menjauh pergi menjejakkan kaki di belantara yang masih sangat luas. Di belantara yang sunyi nan luas aku masih bisa merasakan kebahagiaan ketika menatap kerjab kemilau bintang pagi. Kerjab bola mata Anik.

Bondowoso, April 2016


POSTING PILIHAN

Related

Utama 4341671764691221939

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item