Duka Tana Sangkolan

Cerpen: Henny Jufawny Aroma  kopi tubruk, ikan asin, dan sambal terasi menembus celah-celah dan mengarungi runag-ruang rumahku. Kepulan asap...


Cerpen: Henny Jufawny

Aroma  kopi tubruk, ikan asin, dan sambal terasi menembus celah-celah dan mengarungi runag-ruang rumahku. Kepulan asap menyeruak ke kamar kecilku bersama batuk ibu yang sedang memasak di dapur. Sinar matahari pagi perlahan mengusir pengap, dan memantulkan kelebat bayangan bapak dengan kaos yang sudah kusam, topi caping yang sudah berlubang dan cangkul di pundaknya.

Dengan tangan menjinjing dua plastik hitam bapak melangkah menuju ladang. Satu berisi sebungkus nasi jagung dengan lauk ikan asin dan sambal terasi, juga sebotol kecil kopi hitam. Sementara, satu lagi berisi sarung, baju lengan panjang, dan songkok yang pinggirnya sudah berwarna kemerahan. Dari balik jendela, aku terus memperhatikan langkahnya  yang berat ke arah timur laut, menuju ladang luas tepat di pesisir pantai.

Di ladang  yang tak jauh dari pantai itu, bapak dan pekerja lainnya bekerja sesuai komando mandor yang masih terasa asing baginya. Sang mandor yang beraksen Jawa medok itu, memberinya tugas menggali tanah untuk membenamkan pipa saluran pembuangan limbah. Setiap kali cangkulnya membentur tanah, hatinya terasa dihantam palu. Aku tahu, ada kegelisahan, kegetiran dan kecemasan yang tak bisa ia ungkapkan, persis seperti yang kurasakan saat ini.

***

“Nor, apa bumbu petisnya sudah siap?,” panggil Dullatib dari atas pohon bukkol.
“Sudah Dul, cepat turun.”

Setelah lelah dan bosan bermain, aku bersama teman sepermainanku selalu menikmati rujak buah bukkol di bawah pohonnya yang rindang. Setiap hari minggu atau ketika libur sekolah, kami biasa menghabiskan waktu untuk bermain hingga matahari mulai condong ke arah barat. Kami  hampir tak pernah absen berkumpul di ladang luas milik H. Sami’un.

Pohon bukkol  tumbuh di pinggir pemakaman kuno yang dipercaya terdapat salah satu makam wali Allah. Tak ada gundukan, makam itu hanya dikenali dari batu nisan yang bertebaran, berlumut dan tak utuh. H. Sami’un menyewakan tanah di sekitarnya, dan hanya mengambil hasil dari penjualan beribu-beribu kelapa yang hampir setiap bulan panen. Banyak yang menyewa untuk ditanami semangka, termasuk Bapak meski hanya sepetak kecil.   

 Di sebelah pohon bukkol, terdapat pula gentong tanah liat yang selalu terisi air. Para petani selalu mengisinya untuk melepas dahaga. Selain itu, air yang diambil dari sumur tua di samping makam kuno, dipercaya mengandung barokah. Orang yang tiba-tiba sakit tanpa diketahui sebabnya pun, dengan izin Yang Maha Kuasa, bisa sembuh setelah meminum airnya.  

***

 Bapak masih duduk di atas lincak, ketika Man Durrakib, yang juga adik H. Sami’un pergi dengan sepeda motornya. Pandangan matanya kosong, dengan tarikan napas panjang, seperti memendam kepahitan. Di hadapannya masih tersedia setengah cangkir kopi yang sudah dingin, rokok kretek yang tinggal separuh dan tiga lembar uang warna merah. Cahaya lampu neon memantulkan raut wajah bapak yang muram. Aku tahu, bapak sedang dilanda kekhawatiran.

“Ada perlu apa Durrakib ke sini, Kak?,” ibu melontarkan pertanyaan sambil membawa sekeranjang kecil kerang laut hasil perburuan kami sore tadi.

Bapak masih diam. Ia menyesap kopi dingin di hadapannya dan memantik korek api untuk menyulut kretek di bibirnya. Ia seolah ingin membuang kerisauannya bersama kepulan asap yang ia semburkan  ke udara. bapak menarik napas panjang.

“H. Sami’un akan menjual tanahnya,” suara bapak terdengar berat.

Seperti air tenang yang diceburi batu besar. Riak wajah ibu seketika tampak gusar. Ia menghentikan aktivitas mencongkel kerang laut yang akan dimasak untuk lauk esok pagi.

“Kenapa dijual, Kak?,” pertanyaan ibu lebih mirip protes, namun begitu lirih.

“Durrakib tak menjelaskan apa-apa. Dia hanya mengatakan, tanah itu dibeli orang asing untuk dijadikan tambak udang. Uang sewa yang kubayar kemarin juga dikembalikan,” bapak kembali menghela napas.

Ada kegetiran di wajahnya. Bukan karena akan kehilangan lahan mata pencaharian semata, tapi ada kegusaran lain yang tak bisa kuterka. Sementara ibu kembali mencongkel kerang laut. Ia hanya diam, napasnya tak beraturan.

Bapak  bangkit dari lincak, melangkah menuju dapur dan berlalu di hadapanku, yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka di teras rumah, sambil mengulek bumbu. Bapak menengguk segelas air, dengan langkah gontai, ia pergi menuju kamar.

Aku masih kaku, ulekan bumbu masih kasar. Aku teringat, saat orang-orang di toko H. Muhri,  memperbincangkan soal tanah-tanah di desa sebelah yang begitu cepat berpindah tangan, dan berubah menjadi tambak udang. Tanah tegalan yang berdekatan dengan pembuangan limbah tambak udang, jadi tercemar. Belum lagi, limbah yang dialirkan ke pinggir pantai yang mengancam kelestarian ekosistemnya.

Sekarang aku mengerti mengapa bapak tampak risau, meski tanah yang dijual bukan miliknya.

“Si Dulla ro, sudah beli mobil sekarang. Tanahnya dijual dengan harga yang sangat tinggi,” terdengar seorang perempuan berbincang dengan temannya.

“Bech, si Sabri sudah mendaftar naik haji, bersama istri dan dua anaknya,” sahut teman perempuan di sampingnya.

Perbincangan soal jual beli tanah semakin sering kudengar. Ada kebanggan, ketika menceritakan berapa harga yang diterima untuk sepetak kecil tanah tegalan. Tapi kadang juga ada kekhawatiran, ketika terdengar kabar yang menyayat hati. Pembangunan tambak di desa sebelah, telah memakan korban. Seorang pekerja terjatuh, kemudian tertimbun tumpukan tanah, yang hendak dijadikan tanggul. Ada kabar pula, seorang pekerja tambak tewas, terlilit sarung yang ia selempangkan di leher,  ketika membenarkan kincir yang mati, lalu tiba-tiba berputar kembali.

Tambak udang, ternyata juga menimbulkan kemelut baru di kampung kami. Seperti suara keributan yang terdengar siang ini. Beberapa orang berkerumun menghalau eskavator saat hendak mengeruk tanah,  yang terdapat beberapa makam kuno. Meski H. Sami’un berkata, tanah kuburan bagian dari tanah miliknya, orang-orang kampung tetap tidak mengizinkan. Konon, tanah itu sudah dihibahkan untuk pemakaman umum. Selain itu,  juga  dipercaya terdapat makam keramat di sana. Mereka khawatir akan mendapat bala jika lahan itu ikut dihancurkan.  

Kericuhan terus berlangsung selama berhari-hari. Pihak pengusaha bersikukuh untuk mengeruk lahan yang sudah dibeli. Beberapa aparat keamanan ikut turun tangan untuk menemukan kesepakatan. Tapi orang-orang kampung semakin kukuh, hingga salah seorang menyarankan untuk meminta pendapat Kiai Durrahman, tokoh masyarakat yang disegani.

Dengan wajah teduh, Kiai Durrahman menyambut kedatangan warga dan perwakilan perusahaan.  Adu mulut masih berlangsung, tapi dengan tutur beliau yang penuh wibawa, keadaan berangsur tenang. Apalagi ketika Kiai Durrahman memberikan pendapatnya, yang juga tidak menyetujui pengerukan tanah kuburan.  

Kelegaan dan kepuasan menyelimuti hati warga, lain dengan pihak perusahaan, yang masih terus mempengaruhi Kiai Durrahman. Hampir setiap malam, mereka mendatangi rumah beliau, menurut laporan beberapa warga.

Tak berselang lama, mesin eskavator mulai mengeruk tanah kuburan. Orang-orang kampung kembali berbondong-bondong dengan kekesalan berlipat. Di tangan mereka terlihat parang, pentungan, dan batu. Terjadi adu mulut yang sengit, namun H. Sami’un yang kini menjadi kepala keamaan pihak perusahaan menyampaikan bahwa Kiai Abdurrahman sudah menyetujui. Sontak membuat mereka kaget dan penuh tanya. Ternyata uang bisa mengubah segalanya.

 Tak ada yang bergeming. Mereka hanya saling pandang dengan wajah heran. Pelan-pelan membubarkan diri dan membiarkan tanah itu dikeruk tanpa perlawanan berarti. Tak ada yang berani memastikan ucapan H. Sami’un tentang Kiai Durrahman. Meski kecewa, mereka tetap menghormati satu-satunya kiai kampung, yang sudah sepuh itu.

“Ya Allah, semoga kami tidak terkena bala,” ucap seorang perempuan setengah baya penuh kekhawatiran, saat menyaksikan satu persatu kerangka manusia tersangkut mesin eskavator.

***

“Sudah, terima saja tawaran Durrakib Kak,” ucap ibu setelah Man Durrakib pulang. Malam itu, adalah kali kedua Man Durrakib menawarkan Bapak untuk bekerja di tambak udang.

Bapak tak menanggapi ucapan ibu. Ia menundudukkan kepalanya, memilin-milin tasbih untuk menepis keraguan di kedalaman hatinya.

“Meski yang terjual itu bukan tanahku, tapi aku tidak ingin membuat kecewa para leluhur, Sum. Mereka berjuang merebut tanah ini dengan mengorbankan jiwa raga, agar anak cucunya merdeka di tanah sendiri. Tana sangkolan ini, harus tetap dijaga, Sum.”

Kalimat itulah yang ingin ia sampaikan pada istrinya. Tapi lidahnya menjadi kelu, mengingat istrinya harus berhutang beras ke sana ke mari untuk bisa makan. Sedangkan hasil menjaring tak cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Bapak juga harus menempuh jarak yang lebih jauh menuju pantai, karena jalan utama telah ditutupi pagar bambu oleh pihak tambak.

Dengan hati penuh rasa was-was, akhirnya bapak menerima tawaran Man Durrakib. Ia seolah merasakan kutukan leluhur atas keputusannya. Mesin eskavator membuat luka yang terus menganga di hatinya. Merobohkan harapan-harapan leluhur yang berdiri tegak di atas tana sangkol. Ketidakberdayaan, membuat bapak harus tunduk pada kenyataan, yang melukai hatinya dan hati para leluhur.

***

Menjelang tengah hari, angin bertiup begitu kencang. Aku dan ibu yang tengah menggerus lidi di bawah pohon mangga, berkali-kali kelilipan sampai mata kami merah. Deru mesin eskavator semakin nyaring dan tak beraturan. Burung gagak beserta burung-burung kecil lainnya, terbang berkeliling di sekitar kami. Gagak terus mengoak berpadu dengan deru mesin eskavator. Beberapa menit kemudian, deru mesin itu lenyap. Kulihat beberapa orang berlarian menuju tambak, aku dan ibu saling pandang penuh tanya.

“Sum...” lengkingan suara Bi’ Salama, yang berteriak dari arah timur, terdengar parau. Ia lari terbirit-birit dengan tangan kiri menyingsing sampir yang dikenakannya sampai lutut.

“Sumaiye !!!,” teriaknya lagi memanggil nama ibu.

 Bi’ Salama terus berlari, dengan memangil-manggil nama ibu, hingga ia tiba di hadapan kami, dengan napas tersengal-sengal. Bibirnya pucat, tangannya gemetar, dan genangan air di matanya tiba-tiba mengalir.

“Ada apa Salama?” tanya ibu yang juga tampak gusar melihat wajah adik iparnya yang pucat pasi.

“Kak Addus, Sum,” kata-katanya kembali terhenti setelah menyebut nama bapak.

Aku melihat segerombolan orang dari arah timur. Mereka berjalan tergopoh-gopoh dengan memanggul tandu yang terlihat berat di bahu mereka. Jarak mereka semakin dekat, mengarah ke  rumah kami, dan tangis Bi’ Salama seketika pecah. Aku dan ibu masih penuh tanya, apa kiranya yang terjadi. Hingga orang-orang itu memasuki teras rumah, dan menurunkan tandu di atas lincak. Dengan langkah ragu, aku dan ibu mendekati tandu dan terlihat lelaki terhebat kami, terbujur kaku dengan tubuh penuh pasir.

Dunia kami seketika runtuh. Ibu roboh terkulai lemas di dekat tandu. Sekelilingku kemudian menjadi gelap. Kunang-kunang bertebaran memberi cahaya yang menampakkan sosok lelaki dengan kaos yang sudah kusam, topi caping yang sudah berlubang, dan cangkul di pundaknya. Tangannya menjinjing dua plastik hitam dan berjalan ke arah timur laut. Arah kemana bapak pergi setiap pagi.            
       
Buraja, 08 Februari 2021

tana sangkolan: tanah warisan, pohon bukkol: pohon bidara, lincak: bale-bale bambu

*****

Henny Jufawny adalah nama pena dari Heniyatun. Lahir pada 10 Juli 1993, di Dusun Buraja, Desa Lapa Laok, Dungkek, Sumenep. Memiliki hobi menulis dan berwirausaha. Pernah aktif di komunitas PEARA. Tulisan-tulisannya, baik berupa opini maupun cerpen, sering dimuat di media Pondok Pesantren Bata-Bata. Seperti di majalah New Fatwa (Cetak), bata-bata.net dan puteriimaba.or.id (Oline) Cerpennya yang berjudul Senja yang Luka, dimuat dalam antologi bersama, Semesta dalam Duka,  yang diterbitkan oleh Lingkar Mata pada tahun 2017. Pernah menjuarai LKTI Santri tahun 2015 yang diselenggarakan oleh santrinews.com, dengan judul:  Zakat dan Social Capital: Urgensi Zakat Sebagai Media Pemberdayaan Ekonomi Umat.

Tinggal di meltasmanjalin.blogspot.com


POSTING PILIHAN

Related

Utama 2809492535185444183

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item