Dio, Anakku


Cerpen:  Lily Purwati

Sore yang melelahkan setelah beraktivitas seharian. Kurebahkan badan ini hanya sekadar umtuk melepas lelah, seraya kubuka handphone dan berchatting di whatsapp dengan teman  waktu masih duduk di SMA. Kini kami telah melampaui jenjang  pernikahan dengan pasangan masing-masing. Persahabatan itu tetap terjalin dengan baik. Meski dengan nasib hidup yang beda. Bedanya ia berjalan mulus dalam proses perkawinannya, sedang aku harus kandas setelah memasuki usia perkeawinan tahun kelima.

Dengan santai  aku tetap melanjutkan obrolan dengan Andika, Andika pun asyik mengobrol tanpa memperhitungkan waktu. Setelah hampir lima belas menit percakapanku berlangsung, mendadak ada notifikasi muncul di hp ku yang berasal dari guru anakku, ibu Ida dan menginfokan bahwa anakku tidak mengikuti pembelajaran daring di hari itu. Informasi itu membuatku sedikit kaget karena anakku adalah anak yang rajin dan tidak pernah bolos tanpa alasan.

Dan seketika itu aku menghentikan percakapanku dengan Andika. Tak lama kemudian aku menghubungi bu Ida, guru BK di sekolah anakku. Di sekolah ia mengajar adalah salah satu sekolah favorit dan berlokasi  tidak jauh dari  rumah.

“Kenapa puranya tidak ikut pelajaran daring bu,” tanyanya padaku. Namun ku elaskan bila ia sedang sakit.

Namun tampaknya bu Ida menyangkal alasanku dan memberitahu bahwa Dio, anakku telah menyalahi aturan yaitu keluar dari grup WhatsApp kelasnya dan membuat masalah dengan beberapa teman sekelasnya. Betapa kagetnya aku dengan alasan yang disampaikan ibu Ida, seketika itu aku menuju kamar anakku dan kutanya dengan nada setengah emosi.

”Dio, kenapa kamu tidak ikut daring hari ini? Ada masalahkah kamu? Kamu keluar dari group WA ya,” ttanyaku penasaran.

Pertanyaan demi pertanyaan kulontarkan pada Dio tanpa jela, namun dia tidak  menjawab dan tanpa sadar air mataku menetes. Betapa tidak? Dio yang kuanggap anak yang pendiam, penurut dan tidak neko neko, ternyata dengan berita tersebut membuat diriku tersentak kaget. Cukup lama aku di kamar Dio, ia pun terdiam tanpa sepatah katapun.

Aku segera beranjak meninggalkannya dalam diam, entah dia memahamiku atau tidak dan menelpon ibu Ida. Kuminta ibu Ida untuk menjadwal pertemuan antara anakku, aku dan teman-temanny. Ibu Ida pun menyetujui apa yang menjadi permintaanku. Hal ini sangat kusyukuri karena permintaanku yang ingin mempertemukan semuannya  langsung terpenuhi.

Menurutku, dengan adanya pertemuan ini akan ditekujan masalah dan mencari solusi masalah anakku. Setelah terjadu kesepakatan tentang pertemuan itu kututup perbincangan dengan bu Ida. Setelah emosiku mereda kembali kudatangi Dio, kali ini aku berusaha lebih tenang. Aku hanya ingin mengetahui yang sebenarnya.

Saat yang lain terlelap dalam mimpi, aku berusaha untuk istiqomah menemuiNya dalam hening, Aku sadar hanya Dialah satu satuNya tempat bersandar, Dia yang tak pernah menghadirkan kecewa, Allah SWT. Lantunan suara merdu muadzin menyeruak di tengah kesunyian,aku pun beranjak dan melangkahkan kaki ke kamar Dio.

Aku bangunkan agar dia pun sholat sekaligus kukatakan padanya bahwa hari ini dia harus ke sekolah dan menghadap ke guru Bk. Kuambilkan pakaian yang harus dikenakan dan kusuruh Dio untuk memakainya.

Kulihat gelagat Dio yang sepertinya ogah untuk memakainya. Aku pun mulai mempunyai rasa curiga bahwa anakku lah yang berbuat salah. Tapi rasa tersebut kutepis sesaat dengan melihat diamnnya Dio. Setelah kurasa siap semua, Dio kuajak untuk sarapan bersama. ketika sarapan bersama tidak sepatah katapun kuucapkan, karena melihat Dio tetap terdiam.

Selesai sarapan kukeluarkan mobil dari garasi dan memanasinya. Dio pun tetap diamdan berdiri saja seperti tukang. Namun setelah terdiam akhirnya Dio masuk dalam mobil yang sudah menghadap ke arah jalanan menuju sekolah. Di dalam mobi; un Dio tetap terdiam.

 “Nanti kalau ditanya guru BK, kamu harus bisa tetap tanggung jawab,” ujarku dengan tenang. Membuka percakapan.

Selama perjalanan aku redam amarahku karena aku yakin Dio bisa bertanggung jawab atas semua ucapannya di group whatsapp kelompok kelasnya. Kulirik, Dio menganggukkan kepalanya. Setelah tiga puluh menit perjalanan, sampailah di sekolah Dio dan dengan segera kuparkirkan mobilku sesuai arahan pak satpam. Setelah memarkirkan dengan baik aku keluar dari mobil dan bersama Dio menuju ke ruang BK,

Di ruang BK sudah menunggu ibu Ida dan tiga anak teman Dio. Tiba- tiba saja sedikit  rasa gemetar kualami entah mengapa hal ini terjadi tetapi sesaat rasa itu kutepis. Kumasuki ruangan BK bersama Dio dan langsung duduk. Setelah itu terjadilah perbincangan antara Dio dan temannya dan juga sedikit perdebatan antara di antara mereka. Aku hanya mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan., demikian juga bu Ida. Setelah beberapa saat akhirnya aku ikut menyatakan pendapay/

”Dio, kamu yang salah,kamu harus minta maaf.” Dio terdiam mendengar perkataanku.  

Kalimat itu kuulang melihat Dio hanya terdiam saka.

“Dio, segera kamu minta maaf sama teman temanmu, ternyata teman temanmu baik dan tolong Dio kamu harus bisa minta maaf sama mereka,”

Memang kusadari kali ini aku menyalahkan Dio padahal dalam hati, aku tahu Dio butuh pembelaan. Akan tetapi kali ini kusadari bahwa anakku yang melakukan kesalahan. Diopun tertunduk dan dengan suara pelan dia mengucapkan kalimat minta maaf pada teman temannya. Memang kuakui Dio masih kurang mempunyai rasa percaya diri. Itu semua mungkin Dio kurang mendapatkan kasih sayang. Terutama kasih sayang dari seorang ayah.

Beberapa saat kemudian aku pun meminta maaf pada  ibu Ida yang dari tadi memberikan support pada Dio. Kuanggap selesai sudah tugasku untuk mengantar Dio bertanggung jawab atas kelakuannya. Kupamit pada Bu Ida  karena aku masih harus WFO (work from office. Dalam perjalanan pulang kuceramahi  Dio.

Kuberikan nasihat dan meyakinkan dia bahwasannya dia mampu untuk melaksanakan tugas tugasnya di kelas IPA Memang pada saat penjurusan Dio lebih suka ke kelas IPS dengan alasan teman temannya baik akan tetapi karena phisikotestnya mengarahkan dia ke kelas IPA akhirnya kuikuti langkah tersebut.

Akupun tahu semua permasalahan hanyalah berpusat pada pelajaran yang sebegitu berat bagi dia. Akupun memberikan support untuk tidak menyerah pada keberadaannya di kelas IPA, Dio pun sesaat terdiam dan menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan semua ucapanku. Dio merupakan satu satunya putraku. Walau bagaimanapun, aku harus memberikan perhatian yang lebih .Insya Allah..aku tetap mendampinginya sampai akhir hayatku nanti. Semoga hal yang terbaik terjadi pada  putraku nanti.

 *****

Lily Purwati,lahir  25 Mei 1972 di Surabaya adalah seorang guru yang pernah mengajar di SDN.Kapasari VIII di tahun 2014 dan berpindah di SMP negeri 8 Surabaya di tahun 2017 sampai sekarang  dan di tahun 1997, merupakan salah satu lulusan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya di Falkultas Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris 











POSTING PILIHAN

Related

Utama 5993737492348100881

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item