Di Ujung Karang


Cerpen:  Samudera Ghozuwan

Di atas sepeda motor warna hitamnya, Gandi mematikan mesin. Dia berhenti sejenak, sebelum satu rumah lagi  yang akan dituju. Dipandanginya rumah warna biru yang agak kusam. Daun pintu rumah tampak tidak tertutup rapat. Sorot lampu dari dalam rumah menembus menggaris sampai teras depan. Lampu teras tampak redup, sinarnya tidak begitu terang.

“Masuk atau tidak ya?” pikiran Gandi berkecamuk. Apakah Afiani Irawati akan menerima keinginannya. Dirinya ingin menyambung kembali asmaranya saat masih di bangku sekolah dulu. Waktu itu mereka berdua berada di satu Sekolah Pendidikan Guru di kabupatennya, Jombang.

Sejak masuk sekolah pendidikan guru, gadis tetangga kecamatan di kabupaten tempat Gandi tinggal, menggelitik hatinya. Muncul  perasaan getar campur senang ketika berpapasan atau mendengar namanya. Setiap pergi ke sekolah, Gandi  ingin berangkat pagi agar secepatnya bisa menjumpainya. Getar-getar itu memompa jantungnya setiap kali berpapasan. Entah seperti ada perasaan suka, kala menatap wajahnya, pun kala bercakap. Dengan gaya Afiani yang khas, menyilangkan rambut lurus dengan menggerakkan kepalanya.

Pemuda asal desa di pinggir kali Brantas  itu terus berusaha  mendekat. Dia sendiri tidak paham mengapa keinginan untuk tidak jauh darinya  terus muncul tiap saat. Rasanya tidak ingin ada hari tanpa bertemu dengannya.

Kedekatan Gandi pada Afiani, lambat laun terdengar dan diketahui teman-teman di sekolahnya. Utamanya  kelas jurusan IPA-Matematika, jurusan ini memiliki dua kelas. Walau beda kelas Gandi di kelas C dan Afiani di ruang D, temannya mulai mencium hubungan khusus diantara kedua insan ini.

“Gan ditunggu Afiani di kantin, kau dicari,” kata Giono teman sekelas Gandi menggoda.

“Betul ta?,” tanya Gandi.

“Benar,” jawab Giono singkat.

Mendengar nama Afiani disebut, degub jantung Gandi langsung  meninggi. Tak terasa kakinya mendadak ingin melangkah menuju gedung kantin.

“Hai Gandi, ayo sini makan bakso bersma,” sapa Afiani.

Bak disambar petir rasanya mendapat tawaran Afiani. Cepat badannya ditempatkan di kursi seberang Afiani.

“Ayo cepat pesen, nanti keburu bel masuk pelajaran lho,” ujar Afiani.

“Ya , ya,“ Gandi berusaha menutupi saltig sekalugus perasaan senang tiada tara.

Hari berganti hari, pekan berganti pekan, begitu pula bulan terus berjalan. Hubungan kedua insan ini semakin akrab.

Menjelang ujian akhir sekolah yang menentukan kelulusan siswa, Gandi tak ingin status hubungannya tidak jelas. Ia ingin   sebuah kepastian. Hatinya tak ingin rasa cintanya tidak bersambut, cintanya tidak berbalas. Meski  Afiani selama ini memberi sambutan hangat setiap jumpa, setiap ketemu, juga saat kegiatan esktra kurikuler.

Suatu  saat,  pada malam minggu yang cerah, kurang sepekan  menjelang kelulusan sekolah. Ia mendatangi rumah Afiani. Hatinya ingin kejelasan dari hubungan yang terjalin selama ini.

“Fin sebenarnya aku ke sini ingin kepastian hubungan diantara kita selama ini,” kata  Gandi memberanikan diri.

 “Aku mencintaimu Fin,”ucap Gandi lirih memecah keheningan .

Pandangan Gandi menatap tajam ke wajah gadis di depannya. Lambat tapi pasti bibir  gadis itu mengucap.

 “Aku tidak Gan,” sahut Afiani.

Bagai disambar halilintar di siang bolong mendengar jawaban Afiani.

“Lho iya ta Fin,” tanya Gandi memperjelas.

Gadis berambut lurus sebahu di depannya itu, menganggukkan kepalanya.

Itulah sekilas banyangan yang sulit dihilangkan dari kepala Gandi. Walau peristiwa itu telah terjadi sekitar tiga puluh tahun lalu. Kejadian yang dirasa di luar dugaanya. Namun dalam rentang waktu tiga dasawarsa ini rasa sayang pada wanita  itu tidak pernah sirna. Ketika nama itu diingat, masih terasa  berdesir darah di tubuhnya. Bahkan bila sedang berjumpa teman sesama alumni dan mereka menyebut nama Afiani, hati Gandi merasa berbunga-bunga.

“Aku tadi jumpa dia di pasar, kau dicari Gan,” kata Giono teman sekelas yang mengabarkan telah berjumpa denga Alfin. Entah Giono jumpa sungguhan atau tidak, yang jelas Giono menyebut namanya saja  hati Gandi serasa mengembang.

Gandi rela tidak menikah sampai sekarang. Dirinya rela menjomblo sampai tiga puluh tahun. Rela tidak menikahi wanita  manapun. Seperti terkunci saja hatinya.

Saat ini posisinya sudah di depan rumah Afiani. Enam bulan lalu suami Afiani meninggal. Meninggal akibat tertabrak kereta api, palang pintu di lintas jalan itu macet, sehingga kereta terus melaju. Gandi mencari informasi lebih lanjut. Wanita yang dikaguminya itu belum menikah  lagi. Hasil perkawinannya dikaruniai dua anak. Si sulung sudah menikah dan tinggal di Bandung. Sedang adiknya masih kuliah.

Wajah Gandi masih menatap rumah warna biru tua dari sebrang jalan. Malam terus merambat. Jam yang menempel di tangannya menunjuk hampir angka delapan.  

‘Masuk apa tidak ya?’ hati Gandi berkecamuk. Diterima tidak ya kesetiaan yang dia simpan selama  ini.

Namun perang diotaknya dimenangkan oleh keberanian bahwa dia harus masuk. ‘Aku harus mendapat kepastisan,’ tekad batin Gandi.

Kini dia sudah berhadapan dengan wanita yang dirindukannya selama ini. Rambut lurusnya masih terlihat seeprti dulu, hitam mengkilau tampak anggun dan menarik. Wanita yang mampu membangkitkan semangat dan harapannya. Dia berharap di sisa umurnya ini bisa bersanding dengan wanita idamannya. Hatinya berharap Alfiani mau menerima dirinya sebagai pengganti suaminya yang telah meninggal. Ia ingin mengakhiri kesendiriannya dengan wanita yang bertambat dihatinya sejak di bangku sekolah menengah atas.       

 Dengan penuh harap, bibir Gandi berucap.

“Fiin aku ingin menjalin kisah cinta dulu. Aku ingin berumah tangga denganmu. Aku tidak masalah  walau dirimu  telah memiliki anak, ” ucap Gandi.

“Gimana Fin,” lanjutnya menunggu jawaban.

 “Maaf Gan, terima kasih atas perhatianmu. Aku ingin sendiri saja,” jawab Alfiani.

“Benar itu Fin. Kau masih tidak mau menerimaku lagi.”

“Benar Gan,” jawab wanita.

  Mendengar jawaban itu, Gandi merasa bagai disambar petir yang kedua kali. Gendang telinganya berdengung-dengung.

Ruangan tamu serasa gelap gulita. Tubuhnya lemas.                                                     

Gresik, Februari-Maret 2021

 *****

Samudera Ghozuwan M.I.Kom. Lahir di bumi Jombang Jawa Timur. Setelah menamatkan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri di kabupatennya, lelaki ini melanjutkan studi ke IKIP Negeri Surabaya (sekarang Unesa). Karena ingin mendalami  komunikasi pria ini mengambil Prodi S2 Ilmu Komunikasi di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, dan diwisuda Maret  2014. Sekarang pria penggemar lagu Soneta Grup ini ingin lebih menekuni bidang tulis fiksi dan non fiksi, karena kecintaan terhadap dunia kepenulisan ia rasakan sejak di bangku sekolah guru. Bagi yang ingin menyambung hubungan dengan lelaki yang kini tinggal di Kebomas Gresik ini bisa di alamatkan ke surel : samuderag@rocketmail.com 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8836636641720249296

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item