Berayun Di Atas Gelombang Perburuan Naskah Kuno “Serat Sindujoyo” (2)

 

Ilustrasi: Serat Sindujoyo (google image)

Mashuri Alhamdulillah

Setelah mengantongi naskah kopian, saya dan Mas Mardi begadang di alun-alun Gresik. Kami melewati malam hanya berdua, hingga subuh. Pada kesempatan itu, kami bercakap banyak hal. Selain meneruskan pembicaraan siang tadi, kami juga membicarakan hal-ihwal terkait dengan Mas Mardi sendiri. Mas Mardi bercerita tentang diri, keluarga dan latar belakang hidupnya. Tentu ini untuk konsumsi saya pribadi. Pada saat itulah bermunculan begitu banyak ide puisi. Setidaknya, pasca-pertemuan itu, muncul lima puisi saya, dan semuanya tersiar di media, yang merupakan ‘pembacaan ulang’ pada puisi Mas Mardi sebelumnya, yang berjalin kelindan dengan perspektif saya pada personalitas dan estetika pesisirannya.

Pada awal tahun 2012, proposal tesis saya sudah kelar. Saya mengkaji Serat Sindujoyo dari sisi teksnya, baik itu teks tertulis dan tergambar, karena naskah itu dominan ilustrasinya. Jika saya mengaitkannya dengan teks lain, seperti pertunjukan seni pembacaan, kelisanan & keberaksaraan, tata sungging pesisir, Damar Kurung, pencak macan, pengantin Sindujayan, mitologi, dan lainnya, sungguh itu terlalu banyak cakupannya. Itu berkelas disertasi dan dimungkinkan studi saya bakal lama selesai! Saya pun mengajukan proposal penelitian dengan teori Roland Barthes, karena saya merasa, teori itu yang cocok untuk menyantuni dinamika teks dalam Serat Sindujoyo.

Saya pun maju pada dua forum untuk uji proposal. Pertama, saya mendiskusikannya di Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya, pada sebuah kesempatan ketika saya sedang pulang ke Surabaya. Tradisi diskusi itu sengaja dirutinkan kembali setelah vakum lama karena beberapa eksponennya tersebar ke berbagai kota. Hasil diskusi dimuat kawan di “Seputar Indonesia” sebagai berita. Kedua, saya maju seminar proposal di kampus. Ada beberapa masukan dari kawan-kawan dan pembimbing tesis saya, Bu Kun.

Namun, jalan yang kelihatan mata semulus kening Amanda Manopo itu menyimpan aral. Batu sandungan muncul. Masalahnya bermula ketika saya hanya mengantongi foto kopian naskah yang hitam putih. Pembimbing saya menegaskan, untuk mengkaji sesuai proposal harus menghadirkan naskah aseli, dengan iluminasi dan ilustrasi berwarna.

“Kalau kajiannya terkait dengan ilustrasi dan iluminasi harus berwarna, Mas! Tidak boleh foto kopian,” tutur Bu Kun, ketika saya sudah menyerahkan Bab II, terkait dengan pernaskahan dan perteksan.

Saya pun balik arah, menghubungi Mas Mardi lagi. Ternyata, kawan-kawan di Gresik memang tidak ada yang memiliki foto digital naskah koleksi makam Karangpoh. Wah, berarti saya harus ke makam Mbah Sindujoyo langsung! Repotnya, naskah ini codex unicus, alias naskah tunggak. Saya sudah melacaknya ke seluruh katalog di dunia dan akhirat, tetapi tidak ada turunan atau salinannya. Repotnya, naskah ini hanya keluar pada saat haul Eyang Sindujoyo. Repotnya lagi, saya selalu tidak tepat jadwal pada saat haulnya. Karena sudah repot tiga kali, akhirnya saya nekat untuk mendatangi makam Eyang Sindujoyo, tanpa mempedulikan waktu haul atau tidak, siapa tahu juru kunci bermurah hati dan meminjami saya naskah tersebut, lalu mengizinkan saya memotretnya di tempat.

Lalu terjadilah yang terjadi, sebagaimana peristiwa yang saya kisahkan pada bagian awal ngablak ini: kedatangan saya pada 2012 disambut dengan kematian kucing di bak mandi! Peristiwa yang membuat saya terpaksa ngacir dan lari terbirit-birit!

“Jangan-jangan bukan tamu dari Jakarta yang membuat peristiwa itu berlangsung dan mencekam?” tutur seorang kawan karib, ketika saya menceritakan peristiwa itu.

“Terus?” sergah saya.

“Bisa juga karena kehadiran sampeyan!” lanjut teman saya tadi.

Saya diam, tetapi diam-diam menolaknya. Bagaimana bisa, bukankah saya penyayang kucing? Gak nyambung, Coy! Yang jelas, setelah perburuan naskah yang gagal itu, saya pun kembaali ke Yogyakarta. Saya memberitahukan pada pembimbing saya, bahwa saya tidak mendapatkan naskah asli, yang ilustrasi dan iluminasinya berwarna. Akhirnya, pembimbing tesis menyarankan saya untuk mengganti naskah kajian. Mumpung penulisan tesis belum terlalu jauh, katanya. Hmmm. Ibarat seorang petinju, saya kena hook keras tepat di rahang. Banyak yang harus saya tinggalkan dengan mengganti naskah kajian. Hal itu karena saya sudah membaca cukup detail naskah tersebut, baik teks tertulis maupun teks tergambarnya. Saya juga sudah menyiapkan perangkat teori dan memiliki ancangan dalam mengkajinya. Namun, takdir berkata berbeda.

Begitu pula dengan takdir tesis saya selanjutnya. Setelah berobjek Serat Sindujoyo gagal, saya beralih ke naskah Syiir Madura. Ketika sudah berlangsung dua semester dan sampai pada bab penutup, pembimbing tesis saya berpulang ke rahmatullah. Akhirnya, saya pun berganti pembimbing. Jadi setelah berganti naskah kajian, saya berganti pembimbing. Sebuah perjalanan yang sungguh asolole! Karena itulah, studi yang seharusnya saya tempuh selama 2 tahun itu, molor menjadi 5 tahun!

Kembali ke Serat Sindujoyo. Saya melihat Serat Sindujoyo merupakan karya klasik yang menarik. Meski ceritanya perihal hero lokal, yaitu Kiai Sindujoyo, kandungan naskah dan teksnya ciamik soro. Naskahnya dominan ilustrasi daripada teks tertulisnya. Saya bahkan sudah menyiapkan sebuah temuan: naskah kuno ini proto-komik di Nusantara. Bahkan, saya dapat menyatakan naskah inilah yang menjadi cikal-bakal seni Damar Kurung yang kini menjadi ikon Gresik.

Siapakah Kiai Sindujoyo? Ia bernama asli Pangaskarta, berasal dari Klating, Lamongan. Kini berupa dusun berada di Desa Takeran Klating, termasuk Kecamatan Tikung Lamongan. Ia termasuk murid Sunan Giri Prapen pada awal tahun 1600-an, yang berkelana ke beberapa kawasan usai sang mahaguru wafat. Ia dikenal sebagai yang babat alas Desa Kroman, Karang Prasung, Roomo dan kawasan Kampung Lumpur di Gresik. Tak heran, ada pula yang menyebut Serat Sindujoyo sebagai Babad Kroman, selain Babad Karang Prasung dan Serat Sindujoyo. Saya menggunakan nama Serat Sindujoyo karena saya merasa itu lebih tepat sesuai dengan watak dan potensi naskah.

Agar perjuangan saya tidak sia-sia, pada tahun 2013, naskah kuno tersebut saya jadikan objek penelitian mandiri-tugas tahunan di Balai Bahasa Jawa Timur. Hasilnya, sebuah laporan penelitian dengan tebal yang na'udzubillah. Kajian saya ini tidak mempertimbangkan warna ilustrasi yang menjadi momok sebelumnya, tetapi relasi narasi teks tertulis dengan narasi ilustrasi –seperti komik hitam putih. Saya masih menggunakan Barthes, dengan sekuen-sekuennya, agak meniru Barthes saat menganalisis Sarrasine dalam S/Z. Sayangnya, ada kode-kode dari Barthes yang belum maksimal saya gunakan karena ‘warna’ kembali harus terpenuhi. Saya mencatat bahwa ini lubang dalam penelitian saya tersebut, meskipun dari sisi penelitian filologi sudah terpenuhi.

Pada tahun 2016, saya mengikuti diklat penelitian di LIPI selama dua minggu atas biaya Badan Bahasa. Saya kembali menggeluti naskah kuno Serat Sindujoyo saat digembleng di LIPI. Hal itu karena keluar dari diklat harus menghasilkan sebuah KTI (Karya Tulis Ilmiah) layak muat jurnal ilmiah. Saya pun menelusuri kembali KTI lain yang membahas Serat Sindujoyo sebagai tambahan kajian pustaka. Ternyata, sejak 2011, banyak karya tulis ilmiah berdasar pada Serat Sindujoyo yang ditulis orang, baik berbentuk skripsi maupun KTI di jurnal ilmiah.

Akhirnya, saya menggarapnya dengan bertumpu pada kekuatan teks dan naskah, salah satunya ilustrasi, karena penelitian yang lain tidak membahas secara khusus keberadaan ilustrasi tersebut. Saya bersikukuh memilih objek tersebut karena ilustrasi naskah memang berbeda dengan ilustrasi cerita tantri dalam tradisi lontar parsi, berbeda pula dengan Serat Asmarasupi dan ilustrasi naskah kuno lain di Jawa, baik pesisir maupun pedalaman.

Di sisi lain, Serat Sindujoyo ini unik. Ia masuk kisah perjalanan. Saya mencatat genre ini memiliki akar yang jauh ke dalam tradisi kesusastraan Nusantara. Dalam dunia filologi dikenal naskah 'santri kelana', di antaranya meliputi Serat Centini, Serat Asmarasupi, Serat Jatiswara, dan lainnya. Sebelumnya, pada era Majapahit, ada sebuah karya reportase sastrawi yaitu Kakawin Negarakertagama atau Desawarnana karya Mpu Prapanca. Pun ada kisah Bujangga Manik dari tlatah Sunda. Nah, saya sempat mengimani bahwa prosa khas Nusantara ini jenis demikian.

Selama diklat itu, saya membongkar temuan saya pada penelitian mandiri tahun 2013. Saya pun merevisinya. Meski kajian saya ini tetap menggunakan pisau semiologi imaji Barthesian, namun saya sudah memodifikasinya tidak sebagaimana pada 2013. Lebih ramping dan operasional. Hasilnya saya menemukan pola-pola khusus dan umum, termasuk orisinalitas dan relasinya dengan kultur rupa di pesisir dan Jawa, seperti damarkurung, seni rupa Islam, dan tata sungging wayang purwa.

Tulisan saya hasil diklat diterima di sebuah jurnal ilmiah terakreditasi nasional A, terbitan LIPI sendiri. Namun sungguh status saya ini bukan berniat pamer. Apalah yang menarik dipamerkan dari sebuah karya tulis ilmiah (KTI) yang kaku dan metodologis. Saya kira penerimaan jurnal tersebut adalah gol pertama saya ke publik, dalam menggeluti naskah yang isinya berkisah tentang perjalanan Kiai Sindujoyo, kebetulan ia dari Lamongan --sama dengan asal saya, yang seusai ia berguru pada Sunan Giri Prapen, lalu laku batin ke beberapa tempat, membantu beberapa raja menyelesaikan problemnya, hingga membuka hutan untuk membangun desa-desa kecil di pantura Gresik, sebagaimana yang sudah disebutkan, dan yang menarik: bersahabat karib dengan buaya putih dan selalu dianggap identik dengannya.

Terkait dengan soalan Buaya Putih itu dapat ditelisik dari kutipan kecil: "Sindupati kang jejuluk, kang punika Gusti kawula, kang dedukuh ing Dermaling" (Serat Sindujoyo, hlm. 132). Yup, kutipan tersebut adalah pengakuan induk Buaya Putih yang anaknya berhasil dilepaskan oleh Kiai Sindujaya dari belitan akar bakau di pesisir Gresik. Pengakuan tersebut digurat dalam metrum macapat pesisiran, dalam bahasa Jawa baru (yang sering keliru disebut sebagai Jawa Kuno oleh beberapa kalangan), dan berabjad Arab pegon.

Soal buaya putih tersebut terkait dengan garapan saya pada potensi Serat Sindujoyo selanjutnya, pada tahun 2017. Yeah, karena sudah kepalang basah, saya pun menggarap hal lain dari Serat Sindujoyo yang tetap ciamik soro, yaitu tentang kesejarahan desa-desa di pesisir utara Jawa yang disebut Serat Sindujoyo. Saya berusaha merunut masa lalu desa-desa yang pernah bersinggungan dengan Eyang Sindujoyo sebagai sosok historis, meski mengalami irisan sebagai sosok mistis.

 *****

Tulisan bersambung:

  1. Berayun Di Atas Gelombang Perburuan Naskah Kuno “Serat Sindujoyo” (1)
  2. Berayun Di Atas Gelombang Perburuan Naskah Kuno “Serat Sindujoyo” (2)
  3. Berayun Di Atas Gelombang Perburuan Naskah Kuno “Serat Sindujoyo” (3)




 

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 4400085104235317146

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item