Berayun Di Atas Gelombang Perburuan Naskah Kuno “Serat Sindujoyo” (1)

Ilustrasi : google image

 Mashuri Alhamdulillah

Begitu merasa ingin buang air kecil, saya langsung memarkir motor dan ngeloyor masuk ke kamar mandi di areal makam Eyang Sindujoyo di Desa Karangpoh, Gresik. Betapa terkejutnya saya, di bak kamar mandi sudah mengambang bangkai kucing! Warnanya putih! Saya tertegun sejenak, lalu secepat kilat keluar. Saya menuju musala di areal kompleks, karena saya melihat ada dua orang di sana, untuk memberitahu apa yang terjadi.

“Padahal baru saja saya dari sana,” kata lelaki 50-an tahun, yang mengaku sebagai salah satu pengurus musala, langsung ngacir untuk membereskan asal-usul keterkejutan saya. Sementara itu, saya tetap di musala bersama seorang lain, yang masih bertahan.

“Mas mau ziarah?” tanya seorang pria, berusia 40-an tahun.

“Iya, Pak!”

“Juru kunci, yang bawa kunci makam, belum datang. Masih ada keperluan, saya juga menunggu,” kata dia.

“Jenengan juga mau ziarah?” tanya saya pada lelaki berusia 40-an tahun itu.

“Ya. Saya juga belum lama datang. Belum ada setengaj jam. Baru juga ngobrol dengan Bapak tadi dan diberitahu posisi juru kunci,” seru dia.

“Jenengan asli Gresik?” tanya saya

“Saya Jakarta. Tetapi kakek nenek saya asli sini,” tutur dia.

“Wow! Jauh sekali!” seru saya.

Ia tersenyim, lalu mulai bercerita. Kedatangan ia adalah untuk menyantuni gelisah dan penasaran. Pasalnya, dalam beberapa hari yang lalu, secara berturut-turut, ia bermimpi didatangi buaya putih. Ia lalu menceritakan mimpinya pada ayahnya. Ayahnya lalu membuka identitas diri bahwa mereka masih keturunan Eyang Sindujoyo di Gresik. Ia kemudian diminta untuk berziarah. Kata ayahnya, mimpi itu bermakna panggilan leluhur.

Tuing! Entah kenapa, benak saya langsung keluar dop menyala dan menghubungkan peristiwa kucing mengapung di bak mandi dengan mitos buaya putih. Sudah menjadi rahasia umum, di pesisir utara Jawa, Eyang Sindujoyo identik dengan buaya putih dan kerbau putih. Ia diyakini memiliki peliharaan buaya putih dan jago bertapa di perut kerbau putih. Apalagi kata pengurus musala tadi, kejadian naas si kucing belum lama. Jangan jangan… Ah, dasar otak klenik!

Tanpa menunggu lebih lama, saya pamit kepada tamu tersebut ke makam Eyang SIndujoyo. Saya segera meninggalkan ia sendirian. Begitu sampai di bangunan makam atau cungkup, saya diam sebentar, umik-umik kulo nuwun, selanjutnya mengambil beberapa gambar dengan tustel. Saya melakukannya tanpa perlu membuka kunci cungkup, karena dinding cungkupnya mirip pagar dan pengunjung dapat melihat kondisi makam dari luar. Selain itu, kedatangan juru kunci pun tidak dapat dipastikan jamnya. Sungguh, saat itu, saya tidak peduli lagi. Dalam pikiran saya, saya harus segera pergi dari sana. Saya sendiri tidak tahu bagaimana insting ‘terancam’ itu menguasai diri saya.

Yup, peristiwa itu sudah lama, terjadi tahun 2012, hampir sepuluh tahun lalu. Saya ke makam Eyang Sindujoyo memang untuk berziarah, sekaligus memasu kisah tokoh pendiri kampung kawasan pesisir Gresik tersebut, sekaligus juga bila diizinkan akan melihat tinggalan naskah kuno “Serat Sindujoyo” yang disimpan di cungkup makam. Untuk yang terakhir tersebut memang merupakan agenda khusus. Saya tertarik dengan naskah tersebut. Rencananya, saya mau menjadikannya tesis pascasarjana di UGM. Kebetulan, saya berniat muallaf dalam filologi. Tentu akan sangat unik dan seksi mengkaji naskah lama dengan teori-teori kiwari.

Peristiwa itu pun menjelma menjadi kuda beban dan menyeret kereta ingatan saya 10 tahun sebelumnya, tepatnya pada 2002, pada saat saya masih aktif sebagai jurnalis di sebuah harian di Surabaya. Pertama kali saya mengenal nama Eyang Sindujoyo dari seorang paranormal Surabaya. Ia memiliki nama asli, tetapi menggunakan nama tenar Eyang Sambong Sindujoyo. Ia mengaku masih keturunan Eyang Sambong, pendiri kampung Sambongan di Surabaya dan Eyang SIndujoyo, pendiri kampung Karang Prasung atau kampung Lumpur di Gresik. Namun, saat itu, saya belum tahu detail kedua sesepuh tersebut.

Pada Ramadan tahun 2003, saya berkunjung ke makam Sunan Prapen, cucu Sunan Giri paling kondang, di Desa Klangonan, Kecamatan Kebomas, Gresik, untuk membuat laporan harian Ramadan di koran. Di sisi luar cungkup makam Sunan Prapen, saya mendapati sebuah makam, dengan tulisan yang mencolok: Kiai Sindujoyo. Saya sempat memotretnya. Namun, saya tidak menurunkannya sebagai laporan, karena saya mengkhususkan diri pada makam-makam di kompleks Sunan Prapen yang masih keturunan Sunan Giri, mulai Eyang Kawis Guwo, Eyang Panembahan Agung, dan lainnya. Bahkan, pada saat itu, saya tidak mempedulikan hubungan Sunan Prapen dan Kiai SIndujoyo dan kedekatannya di antara keduanya.

Baru pada awal tahun 2011, segalanya berubah. Secara tidak sengaja, saya membaca sebuah laporan berita di “Kompas”, mengenai liputan Pencak Macan yang digelar pada haul Eyang Sindujoyo di Kampung Lumpur, Gresik. Dilaporkan, haul itu merupakan festival tahunan. Digelar pula pembacaan macapat pesisiran seputar hagiografi Eyang Sindujoyo semalam suntuk. Bahkan, disebutkan pembacaan itu berdasar pada sebuah naskah berwarna-warni karena banyak gambarnya. Sebuah naskah yang disimpan di makam Eyang Sindujoyo di kawasan Kampung Lumpur, di Desa Karangpoh. Hmmm. Dari situ, saya baru tahu, makam tokoh tersebut ada dua sebagaimana ‘kebiasaan’ beberapa makam tokoh legendaris Jawa pada masa lalu.

Alhasil saya memutuskan untuk mengkaji naskah “Serat Sindujoyo” sebagai tugas akhir studi, apalagi transformasi teksnya ke multimedia, bahkan pertunjukan seni juga. Ini pasti sebuah riset yang menarik. Saya pun membayangkan ketika Vickers mengkaji Malat Bali dengan merujuk pada beberapa teks, tidak hanya naskah kuno. Saya pun mulai mencari informasi terkait dengan naskah kuno dan Eyang Sindujoyo. Kebetulan Balai Bahasa Jawa Timur pernah mengeluarkan buku tahun 2004 tentang naskah pesisiran. Naskah Serat Sindujoyo juga disebut, tetapi kupasannya terlalu ringkas. Nah, pada saat itulah, saya teringat dengan sastrawan yang tinggal Gresik, Mas Mardiluhung, yang kebetulan saat itu rumahnya masih di Kampung Lumpur, dan berada di Jalan Sindujoyo, Gresik.

Pada akhir tahun 2011, saya pun menghubungi Mas Mardi --demikianlah saya menyapa penyair tersebut, lalu membuat janji bertemu. Apa yang saya lakukan ini, dalam istilah Jawa, disebut ngiras-ngirus. Sekali merengkuh dayung, tiga empat pulau terlampaui. Pertama, saya jarang bersua dengan penyair yang berprofesi guru tersebut yang dikenal dengan karya-karya khas dan unik, karena posisi saya lebih sering di Yogyakarta. Kedua, saya butuh bantuannya terkait dengan penelusuran Serat Sindujoyo.

Dari Sidoarjo, saya menunggang motor roda dua keluaran 2006 menuju Gresik kota. Kami bersepakat bertemu di sebuah warkop di Kampung Lumpur Gresik. Warkop ini legendaris karena sajian kopinya unik. Sesuai dengan nama kampungnya, kopinya memang ‘berlumpur’. Jadi sebelum disruput, kopi itu harus didiamkan, kemudian ampasnya dibuang. Di warung itu sudah tersedia tempolong, sebagai wadah untuk penampungan ampas tersebut. Saya tiba di warung itu sudah agak sore. Sekitar pukul 14.30—an.

Tak seberapa lama, Mas Mardi datang. Dengan berjalan kaki. Yeah, warkop itu cukup dekat dengan rumahnya yang lama. Kami langsung mojok berdua, meskipun pengunjungnya bejibun. Karena jarang berjumpa, obrolan pun langsung mengarah ke perihal puisi dan ekosistem dunia persilatan sastra di Indonesia. Kebetulan saat itu, ada beberapa isu yang menarik untuk dibuat rasan-rasan. Mulai dari persoalan khatulistiwa literary award, pertumbuhan kepenyairan di Jawa Timur, hingga persoalan sastra koran. Meski demikian, saya tetap menariknya kembali ke pokok soal. Saya bertanya tentang tukang membaca macapat yang biasa membaca Serat Sindujaya pada saat perayaan haul. Saya juga mengaku berencana menjadikan naskah itu sebagai tugas akhir perkuliahan.

“Rumahnya di samping musala itu. Tetapi yang beliau pegang itu copian. Yang asli itu di makam. Tetapi biasanya baru keluar kalau pas digelar haul!” seru Mas Mardi.

“Siapa yang punya punya naskah lainnya?” tanya saya.

“Pak Kris juga punya kopian naskahnya,” seru Mas Mardi. “Mending ke sana saja,” lanjutnya.

Meski demikian, pada waktu magrib tiba, saya menyempatkan diri untuk ikut berjamaah di musala. Hmmm. Shalat dalam rangka! Namun, keterangan yang saya dapat sama persis dengan yang diutarakan Mas Mardi. Bila pada beberapa kesempatan, ia membaca naskah berwarna, ternyata itu diwarnai sendiri. Kreatif! Sayangya, kini, ia sudah almarhum.

Habis magrib, saya diantar Mas Mardi ke rumah Pak Kris, perupa, penggerak Mataseger (Masyarakat Pecinta Sejarah Gresik), sekaligus ketua Dewan Kesenian Gresik. Saya pun mendapatkan pinjaman kopian naskah Serat Sindujoyo.

“Jenengan kok bisa dapat kopiannya, Bos? Katanya, gak boleh dibawa keluar,” saya bertanya pada Pak Kris.

“Ada anak yang nekat. Dulu, pada saat naskah dibuka menjelang acara haul, langsung dibawa ke foto copian. Dari situ, akhirnya saya dapat dan dibagi-bagi ke dua orang lainnya,” seru Pak Kris.

Malam itu, saya dan Mas Mardi mencari gerai foto copian yang masih buka. Berputar-putar di Gresik kota. Akhirnya, kami menemukannya di sekitar alun-alun, sebelah timur. Alhamdulillah, malam itu saya mendapat satu copy dari foto copian naskah.

*****

 Tulisan bersambung:

  1. Berayun Di Atas Gelombang Perburuan Naskah Kuno “Serat Sindujoyo” (1)
  2. Berayun Di Atas Gelombang Perburuan Naskah Kuno “Serat Sindujoyo” (2)
  3. Berayun Di Atas Gelombang Perburuan Naskah Kuno “Serat Sindujoyo” (3)



POSTING PILIHAN

Related

Utama 8215445987651979234

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item