Bekal Dasar Pengapresiasi Sastra


Djoko Saryono

Yang dimaksud dengan bekal dasar pengapresiasi sastra ialah bekal minimal yang harus ada dan dimiliki oleh pengapresiasi sastra agar dapat melakukan kegiatan apresiasi sastra secara minimal dan bersifat dasar. Segala sesuatu yang, inheren, melekat dalam diri pengapresiasi sastra bisa dijadikan bekal dasar. Jadi, bekal dasar ini bukan hasil pembelajaran yang khusus, melainkan bawaan dan penguasaan secara alamiah. Dalam batas tertentu memang dapat berupa hasil pembelajaran yang umum.

Terdapat bermacam-macam bekal dasar. Berikut ini bekal-bekal dasar apresiasi sastra. Pertama, bekal dasar paling utama dan penting yang harus ada dan dimiliki oleh pengapresiasi sastra ialah kemauan, kesudian, kesediaan, dan ketetapan hati untuk menggumuli dan menggauli karya sastra. Tanpa kemauan, kesudian, dan ketetapan hati ini niscaya kegiatan apresiasi sastra tidak akan bisa berlangsung.

Sebagai contoh, jika Laila Kinanti akan mengapresiasi Amba karya Laksmi Pamuntjak terbitan Gramedia paruh kedua Abad XXI, maka pertama-tama dia harus memiliki kemauan, kesudian, kesediaan, dan ketetapan hati untuk menggumuli dan menggauli Amba agar kegiatan mengapresiasi Amba dapat berlangsung dengan baik. Tanpa ini semua jelas Laila Kinanti tidak akan bisa mengapresiasi Amba karena proses kontak atau komunikasi antara dirinya dan karya sastra Amba tidak dapat berlangsung atau bersimpang maksud. Tanpa kontak atau komunikasi dengan karya sastra, niscaya makna karya sastra yang tak berpendaran atau bermunculan.

Kedua, bekal dasar selanjutnya yang harus ada dan dimiliki oleh pengapresiasi sastra ialah perasaan, keyakinan, dan pikiran yang positif akan manfaat, nilai guna, dan faedah karya sastra dalam kehidupan manusia baik kehidupan sehari-hari maupun segi-segi kehidupan tertentu. Bahwa karya sastra memenuhi hajat rohaniah manusia, merupakan tempat mendulang bahan-bahan renungan, dan merupakan kebutuhan rohaniah manusia perlu dirasakan, diyakini, dan diakui oleh pengapresiasi sastra agar bisa melakukan kegiatan apresiasi sastra secara khusuk dan sungguh-sungguh nikmat.

Sebagai contoh, jika Aruming Ramadani mengapresiasi Duka-Mu Abadi (Sapardi Djoko Damano), maka dia harus bisa merasakan, yakin, dan tahu bahwa Duka-Mu Abadi bisa menjadi bahan renungan dan memenuhi kebutuhan rohaniahnya. Misalnya, dengan membaca kumpulan puisi tersebut dia yakin akan mendapatkan permenungan tentang kemaha-segalaan Tuhan. Kalau tidak, niscaya proses apresiasi sastra tidak dapat berlangsung sebagaimana diharapkan sebab ibaratnya gayung tidak bersambut; dalam hal ini gayungnya karya sastra.

Ketiga, pengalaman hidup sehari-hari juga merupakan bekal dasar. Adanya dan dimilikinya pengalaman hidup sehari-hari, misalnya merasakan bunyi-bunyi yang demikian merdu, keindahan-keindahan ketika mendengarkan sesuatu, kegembiraan dan kesedihan saat menghadapi sesuatu, dan kepekaan menangkap sesuatu yang sesuai dengan cita rasa dan tidak sesuai dengan cita rasa, menopang proses berlangsungnya apresiasi sastra. Jika Laila Kinanti mengapresiasi puisi-puisi Chairil Anwar dalam Aku Ini Binatang Jalang, maka pengalaman-pengalamannya tentang hal-hal tersebut akan ikut menopang proses keberlangsungan apresiasi Aku Ini Binatang Jalang. Setidak-tidaknya apresiasinya akan lebih bermakna, meluas, dan mendalam. Jadi, dalam batas-batas tertentu pengalaman hidup sehari-hari bisa memantapkan proses apresiasi sastra.

Keempat, kemampuan dan kemahiran berbahasa juga merupakan bekal dasar yang perlu ada dan dimiliki oleh pengapresiasi sastra. Kemampuan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis secara minimal perlu dimiliki oleh pengapresiasi sastra. Menguasai keempat kemampuan dan kemahiran tersebut tentulah baik sekali. Namun, setidak-tidaknya pengapresiasi sastra menguasai dengan baik salah satu di antara empat kemampuan dan kemahiran tersebut. Kemampuan membaca dan berbicara seyogianya dikuasai dengan baik karena diperlukan untuk membaca karya-karya sastra tulis dan melisankan karya-karya sastra tulis seperti deklamasi, teatrikalisasi, poetry reading, dan story telling.

Keempat bekal dasar tersebut di atas menjadi prasyarat agar seseorang dapat melakukan kegiatan apresiasi sastra. Keempat bekal dasar tersebut menentukan berlangsung tidaknya kegiatan apresiasi sastra sehingga seseorang pengapresiasi sastra perlu memiliki empat bekal dasar tersebut. Untuk memilikinya seorang pengapresiasi sastra tidak perlu mengikuti pembelajaran secara khusus karena empat bekal dasar tersebut dapat dimiliki selama menjalani hidup dan kehidupan (bermasyarakat). Jadi, pengapresiasi sastra dapat memiliki dan menguasainya dengan sendirinya jika benar-benar memaknai setiap perjalanan dan pengalaman hidupnya.


Tulisan bersambung:

  1. Makna Apresiasi Sastra
  2. Pokok Persoalan Apresiasi Sastra
  3. Wilayah Garap Apresiasi Sastra
  4. Status Kehadiran Apresiasi Sastra
  5. Tujuan Apresiasi Sastra
  6. Fungsi Apresiasi Sastra
  7. Keterpaduan Fungsi Apresiasi Sastra
  8. Kehadiran Apresiasi Sastra 
  9. Prasyarat Keberlangsungan Apresiasi Sastra  
  10. Keanekaragaman Proses Keberlangsungan Apresiasi Sastra
  11. Yang Memengaruhi Apresiasi Sastra 
  12. Proses Keberlangsungan Apresiasi Sastra
  13.  Keidiosinkretisan Dan Kemomentanan Apresiasi Sastra  
  14.  Jati Diri Pengapresiasi Sastra  
  15. Keragaman Pengapresiasi Sastra 
  16. Bekal Dasar Pengapresiasi Sastra 
  17.  Bekal Lanjut Pengapresiasi Sastra



POSTING PILIHAN

Related

Utama 7516368888013359336

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item