Ainuha Nur Syifa


Cerpen: Anik Sumarni

Sudah seminggu aku dan keluargaku rawat inab di rumah sakit ini. Mengapa aku harus bertahan di tempat ini? Karena memang ada sesuau yang harus aku perjuangkan, yakni kehidupan baru yang akan penuh cahaya cinta dalam keluarga kami.

“Panggilkan masmu, kakak mau bicara,” pintaku pada adikku.

“Mas Hanif masih mengurus bayinya, ak,” sahut adikku.

“Kakak ingin lihat bayi kakak,” pintaku lagi.    

“Tapi, kak,”

Tiba-tiba pintu kamar rawat inapku terbuka. Seorang perawat perempuan masuk, dia adalah suster yang biasa merawatku.

Suster itu mendekatiku. Dia memasangkan tensimeter pada lengan atas tangan kiriku. Dan aku memberanikan diri bertanya padanya.

“Suster, saya ingin ketemu anak saya,” harapku. Suster itu diam.

“Kenapa saya tidak diizinkan bertemu dengannya? Bayi itu anak saya. Saya yang melahirkannya!,” kataku dengan nada protes.

“Maaf bu, belum bisa. Kalau ibu sudah sehat, kami pasti membawanya ke sini.” jawab suster lembut.

“Sebentar saja, suster.”

“Tidak bisa, bu,” kata suster itu lagi. Dengan hati kecewa dan pikiran kesal, aku berkata seakan mengumpat pada suster itu.

“Apa suster tahu, bagaimana rasanya kehilangan anak? Saya, sudah kehilangan tiga anak. Dan dari ketiganya, saya tidak pernah melihat bagaimana wajahnya.”

Suster itu tertegun.

“Rasanya sakit. Sekarang, apakah saya juga harus kehilangan anak tanpa pernah tahu wajahnya lagi, suster?” tanyaku penuh isak tangis.

“Kenapa kalian tega, saya ini ibunya,” tuntutku kesal dan hampir menjerit

“Ibu yang tenang,” suster itu mencoba menenangkanku.

Tapi aku tidak bisa tenang. Aku ingin bertemu anakku. Adikku pun mencoba menenangkanku. Tetap tidak bisa. Akhirnya, suster itu berkata,

“Baik, saya coba bawa ibu menemui bayi ibu. Saya permisi,” katanya berlalu dari ruanganku.

Tidak begitu kemudian, suster itu kembali dengan kursi roda. “Silahkan duduk di sini, saya akan membawa Ibu menemui adik,” ujarnya perhatian.

Dengan bantuan adikku, aku duduk di kursi roda itu. Suster membawaku ke luar dari ruangan. Tepat di pintu keluar rumah sakit kami berhenti.

“Itu putri ibu,” suster berkata seraya menunjuk bayi yang di gendong seorang perempuan di pintu ambulance. Aku melihatnya. Anakku. Aku berusaha bangun tapi suster dan adikku melarangku.

“Ibu tidak bisa ke sana.” kata suster.

“Kenapa?,” tanyaku heran

“Maaf, kami harus segera membawa bayi ini, sebab bila terlambat sedikit akan membahayakan nyawanya,” jelas perempuan di ambulance itu menyelaku.

Aku kembali dengan perasaan dongkol. Kesalku makin menguat dan tanpa tiba-tiba nafasku teraa sesak ingin menjerit. Rasanya sangat kurang, hanya beberapa detik melihatnya. Aku ingin menggendongnya. Tiba-tiba suamiku keluar dari pintu depan ambulance itu dan mendekatiku.

“Tenangkan dirimu. Percaya padaku, bayi kita akan kembali,” ujar suamiku.

“Tapi mas,”    

“Biarkan kami segera membawanya. Semua akan baik-baik saja,” ujarnnya lagi. Aku hanya bisa menangis dipelukan suamiku.

“Kami berangkat,” bisik suamiku lembut seraya mengurai pelukannya dan segera menuju ambulance.

                *****

Ainuha Nur Syifa, lahir pra prematur 37 minggu dengan berat badan 2,1 kg dan panjang 49 cm. Kelahiran yang belum waktunya menyebabkan Syifa, begitu aku memanggilnya,  harus dirawat di rumah sakit. Kata dokter, organ dalam tubuhnya belum sempurna. Ususnya masih rentan, menyebabkan Syifa muntah darah setiap kali suster memberinya susu formula. Yang bisa diterimanya hanya ASI tapi waktu itu ASIku tidak keluar. Sama sekali tidak bisa keluar, walau berbagai cara sudah ku lakukan.

Aku pikir, setelah Syifa keluar dari rumah sakit semuanya sudah selesai. Aku akan melihatnya sama dengan anak pada umumnya. Ternyata aku salah, disinilah perjuanganku dimulai. Perjuangan merawat dan membesarkan Syifa dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
“Sini Fit, biar ibu yang pegang Syifa,” kata mertuaku meminta padaku.

“Tapi ibu, Syifa tidak bisa dipegang sembarang orang.” jawabku.

“Aku ngerti, aku kan bukan orang lain, aku neneknya.” tukas mertuaku.

Dengan terpaksa, aku serahkan anakku padanya. Benar saja, tidak sampai 10 menit di gendong mertuaku, Syifa sudah menangis keras. Segera aku hampiri ibu dan meminta Syifa padanya.

“Kenapa mau diambil? ibu bisa menenangkannya.” ibu bersikukuh tetap ingin menggendong anakku.

“Tapi Ibu !”

“Kamu tidak percaya pada ibu?,” tanyanya sambil menyerahkan Syifa padaku.

“Bukan seperti itu, Ibu, ”. Aku ambil Syifa darinya.

“Ya, kamu tidak percaya pada ibu,” kata mertuaku sambil berlalu menghampiri suamiku.

“Antarkan ibu pulang,”

“Bu ,” kata suamiku heran.

“Ibu mau pulang sekarang,” ucapnya sambil berjalan keluar tanpa menoleh.

Ibu marah padaku.

“Baik Bu, saya antarkan sekarang,” suamiku mengalah.

Aku tertegun. Bukan seperti ini yang aku mau. Tiba-tiba aku sadar, Syifaku.  Aku sentuh kening dan lehernya, terasa panas. Anakku sensitif, hanya aku dan mamaku yang bisa diterima badan Syifa.

“Ma, badan Syifa panas lagi,” ujarku panik.

“Panas lagi? Barusan tidak apa-apa, kenapa sekarang bisa panas, Fit.”

“Ibu minta Syifa ke aku, Ma, barusan Syifa di gendong ibu,” aku jawab pertanyaan mama.

“Untuk sementara, Syifa jangan boleh dipegang siapa-siapa dulu. Termasuk mertuamu. Tubuh anakmu masih rentan, Fit. Tidak sama dengan anak yang lain,”

“Syifa sama dengan yang lain, Ma,” aku memotong ucapan mama. Aku tersinggung.

“Hem, iya sama. Sini, biar Syifa sama mama. Kamu ambil air kompresnya, biar mama yang ngompres,” pinta mama.

Dan kejadian seperti itu selalu berulang saat Syifa bertemu dengan orang “asing” yang baru dikenalnya.

                *****

Beberapa bulan sudah berlalu. Syifaku tetap dengan keistimewaannya.

“Bagaimana kalau Syifa tidak bisa berjalan dan berbicara, ma,” tanyaku tiba-tiba pada mama penuh kecemasan.

“Kata siapa cucu nenek tidak bisa? Cucu nenek anak hebat, anak pintar, anak sholihah ya nak ya,” kata mama memuji sambil menyuapi Syifa.

“Ma,”. Aku selalu khawatir.

“Sudahlah, Syifa baik-baik saja. Berdoalah, mohon pada-Nya yang terbaik untuk Syifa,” kata mama padaku. Aku diam. Pasrah.

Dan sore itu, aku melihat papaku bersama Syifa.

Ia tampak sedang bergurau bersama Syifa. Aku senang, dengan harapan mudah-mudahan ini menjadi jalan membuka kemampuan anak untuk berkomunikasi, meski selama ini masih merespon dengan ekspresi wajah saja.

                *****

Malam itu kebetulan di depan rumah ada acara perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kebiasaan di desaku sebelum acara di mulai, ada pawai terlebih dahulu. Banyak pemuda desa berkumpul dan bermain petasan. Sebagian warga membakar petasan untuk sekedar meramaikan suasana. Keramaian itu terasa disana sini tampak terdengar suara letusan petasan yang memekakkan telinga.

“Suara-suara itu menyebabkan Syifa menangis  histeris,” ujar mama khawatir.

Aku diam mendengar penjelasan mama. Anakku takut akan keramaian dan suara keras. Tugas berikutnya yang harus aku selesaikan untuk Syifaku. Rasanya lengkap sudah. Saat itu, hanya suami, kedua orang tua dan mertua yang menguatkan aku. Aku hanya bisa pasrah pada takdir-Nya.

                    *****

Enam tahun kemudian.

 “Bunda, Syifa berangkat,” pamit anak semata wayang itu sambil mencium tanganku.

“Hati-hati, patuh sama ustadz ustadzah ya nak,”
    
“Iya bunda,” jawabnya, sambil berlari ke ayahnya. Tidak terasa mataku basah memandangnya. Syifaku sudah besar, lincah dan cerewet kalau di rumah. Tetap tanpa suara dan wajah datar kalau di depan orang yang tidak dia kenal.

“Ayah bunda selalu bangga padamu nak, engkau yang terbaik bagi kami,” gumanku sambil menutup pintu rumah.

Kami tidak pernah perduli dengan apa kata orang yang selalu menganggap Syifa tidak bisa, tidak sama dengan anak-anak yang lain. Dia Syifaku, cahaya penawar kerinduan yang Tuhan kirim untuk keluarga kecil kami.  

 *****

Raden Ayu Anik Sumarni, biasa dipanggil Anik. Lahir di ujung timur pulau Madura 40 tahun yang lalu. Ia adalah seorang guru matematika di SMPN 1 Sumenep. Sejak kecil menyukai dunia membaca. Menulis adalah hal yang baru berani ia coba dan AINUHA NUR SYIFA ini adalah tulisan pertamanya. 







POSTING PILIHAN

Related

Utama 4965514881033615937

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item