Vaksin


Cerpen: Jamad

Heboh!. Itulah suasana yang terjadi di tengah masyarakat di desa itu. Kasak-kusuk tentang pemberian vaksin oleh petugas kesehatan mendapat reaksi keras dari masyarakat terutama yang tidak setuju dengan program pemerintah tersebut. Sebenarnya, tujuan pemberian vaksin itu untuk mencegah tertularnya wabah virus corona (covid-19). Kabar simpang siur yang beredar di media sosial menjadi pemicu munculnya reaksi dari masyarakat menolak program vaksinasi tersebut.

Kehebohan semakin memuncak ketika beredar kabar bahwa pengiriman vaksin itu sudah sampai di dinas kesehatan kabupaten. Pak Karmo yang memiliki bukti video tibanya rombongan pengiriman vaksin tersebut seperti kebakaran jenggot. Dia sangat gelisah. Dia berusah agar dirinya dan masyarakat tidak menjadi korban mati konyol akibat vaksinasi tersebut.

“Gawat, buk!” dengan tergesa-gesa Pak Karmo masuk kamar membuka bajunya. Dalam raut wajahnya terlihat ada sesuatu yang menjadi galau pikirannya.

“Mas, sudah saya buatkan kopi hangat, diminum dulu!” kata istrinya tanpa bertanya ada apa dengan suaminya kok tiba-tiba datang berkata “gawat.”

Sebenarnya apa yang terjadi. Semi, istri Pak Karmo, masih enggan bertanya apa maksud perkataan yang keluar dari mulut suaminya itu. Ditatapnya dalam-dalam wajah suaminya yang terlihat galau.

“Mas, belum makan? Ayo kita makan dulu!,” ajak Sumi untuk mengalihkan perhatian suaminya agar tidak konsentrasi pada masalah yang sedang dihadapinya.

“Kamu dengar nggak, bahwa vaksin itu sudah datang?,” kata Pak Karmo membuka pembicaraannya.

“Memangnya kenapa Mas dengan vaksin itu?,”. Sumi pura-pura bertanya, padahal dia sudah tahu kalau suaminya memang menolak keras program vaksin yang digagas oleh pemerintah. Sumi sebenarnya termasuk orang yang meragukan keberadaan vaksin itu namun tak  sekeras suaminya.

“Kita harus menolak program vaksinasi ini. Program ini hanya berkedok mengatasi penularan virus corona. Padahal di balik itu ada upaya terselubung yang secara perlahan akan membunuh kita,” jelas Pak Karmo pada istrinya. Ia tampak serius dan meyakinkan.

“Tapi, katanya vaksinasi ini untuk memberi kekebalan pada tubuh agar  tidak tertular virus corona, Mas?” sela Sumi.

“Betul, pemerintah sudah berupaya mencari alternatif pencegahan. Tapi ini sudah ditunggangi oleh pihak yang mencari keuntungan di balik ini semua,” jelas Karmo.

“Kita ini akan dijadikan kelinci percobaan. Coba kamu lihat, mana ada negara lain yang menggunakan vaksin yang akan digunakan di Indonesia?” lanjut Karmo.

“Ya, kita nanti terserah kepala desa, Mas! Kalau kata kepala desa disuruh vaksin, ya kita ikut saja. Bukankah kita sudah dapat bantuan melalui kepala desa,” kata Sumi.

“Diberi bantuan, tapi akhirnya kita akan dibunuh. Bantuan macam apa itu? Masyarakat kok dibodohi. Benar-benar gila, keterlaluan,” umpat Pak Karmo.

“Tapi bantuan itu kan betul-betul membantu kita, Mas,” kilah Sumi.

“Kamu tahu uang yang kita terima, itu dapat dari mana? Itu masih uang pinjaman dari asing. Nanti kalau negara kita sudah banyak hutang, negeri ini akan disita oleh yang memberi pinjaman.”

“Kita harus husnuzan, lho, Mas! Masak pemerintah mau mencelakakan kita dan seluruh masyarakat Indonesia,” jawab Sumi.

“Coba kamu lihat video ini!,”.

Pak Karmo memperlihatkan beberapa rekaman video yang berisi penentangan terhadap program vaksin yang diadakan oleh pemerintah. Sebelumnya memang banyak beredar di media sosial yang berkaitan dengan keberadaan vaksin yang dipesan oleh pihak pemerinth Indonesia. Ada pihak yang mendukung dan ada pula pihak yang menentang.

Sumi manggut-manggut setelah melihat video yang diperlihatkan oleh suaminya. Dia semakin kuat pikirannya untuk berpihak pada suaminya bahwa keberadaan vaksin itu perlu ditolak atau digagalkan, paling tidak di desa tempat tinggalnya.

“Bagaimana?. Betul, kan?,” tanya suaminya menatap tajam wajah Sumi. Sumi hanya bisa mengangguk tidak memberikan komentar sidikitpun. Ada beban dilema dalam dirinya. Jika dia menolak keberadaan vaksin itu mengikuti keyakinan suaminya, bagaimana dengan bantuan dana Covid-19 selanjutnya. Sementara keyakinannya untuk menolak vaksin tersebut semakin kuat setelah melihat tayangan video tadi.

“Aku besok akan menemui kepala desa bersama teman-teman seperjuangan,” pamit Pak Karmo kepada istrinya.

“Tapi hati-hati lho, Mas! Bagaimana pun kita masih butuh tenaga serta bantuan beliau,” saran Sumi.

“Dik, yang memberikan bantuan itu bukan kepala desa, tapi pemerintah,” jelas suaminya.

“Ya, tapi kan tetap berdasarkan kebijakan beliau. Bisa jadi, kalau kita tidak mendukung program desa, kita tidak akan diberi bantuan lagi,” jelas Sumi.

“Saya hanya akan menyampaikan bahwa vaksin itu berbahaya, harus ditolak! Khusunya di desa ini tidak ada warga yang divaksin,” tegas Pak Karmo.

Walaupun dengan sedikit ragu dan berat hati, Sumi harus mengiyakan apa yang menjadi rencana suaminya. Sebab jika tidak didukung, takut terjadi percekcokan. Sumi tahu persis watak suaminya yang sedikit keras kepala. Jika sudah kemauannya harus didukung dan jangan sampai dihalang-halangi oleh siapa pun.

*****
    
Hampir semalaman Karmo gelisah, tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya. Pikirannya dihantui oleh program vaksin yang sudah pasti akan dilaksanakan. Dia menyusun persiapan rencana yang akan disampaikan kepada kepala desa untuk memuluskan niat baiknya itu. Dibuatnya catatan-catatan kecil yang dirangkum dari isi video miliknya. Bahkan jika kepala desanya meminta melihat video miliknya sudah disiapkannya.

Beberapa hari yang lalu dia sudah mempelajari lewat media sosial video tentang kelebihan dan bahaya vaksin tersebut. Dari video tersebut lebih banyak yang mengungkapkan segi bahayanya. Dibukanya berulang-ulang video yang berisi tentang efek samping dari vaksin yang dipesan pemerintah tersebut, sehingga dia betul-betul yakin pada pendiriannya bahwa vaksinasi yang akan dilakukan pemerintah harus ditolak.

Video-video yang menyakatan bahaya vaksin itu juga dikirimkan ke beberapa komunitas grup WhatsApp yang ada HP Pak Karmo. Ada beberapa komunitas grup WA yang ada di HP miliknya di antaranya; Forum Rembug Desa, Komunitas Pemuda Desa, Jamaah Kifayah, serta termasuk grup WA komunitas ibu-ibu yang ada di desa itu mendapat kiriman video-video tersebut.

Dampak dari beredarnya informasi tentang bahaya vaksin itu cukup meluas, bukan hanya di desa tempat tinggal Pak Karmo. Saat merebaknya issu kedatangan vaksin di kotanya, banyak anak yang tidak masuk ke sekolahnya karena takut divaksin. Seperti pengalaman sebelumnya, anak-anak biasanya memang takut divaksin atau disuntik. Banyak orang tua siswa yang menelpon gurunya, ada pula yang datang ke sekolah untuk memastikan saat itu ada vaksinasi atau tidak.

Sebagian orang tua memang ada yang tidak mau anaknya disuntik vaksin. Entah itu vaksin imunisasi apa saja, apa lagi vaksin Covid-19 yang dianggapnya masih belum jelas keamanannya. Selain itu, masyarakat banyak yang tidak tahu kalau vaksin Covid-19 ini diberikan kepada masyarakat yang berusia di atas 18 tahun. Itupun masih akan diberikan secara bertahap. Tahap pertama untuk tenaga kesehatan, tahap kedua untuk petugas pelayanan publik, tahap ketiga untuk masyarakat rentan, dan tahap keempat baru masyarakat umum.

Pagi itu teman-teman Pak Karmo sudah berdatangan ke rumahnya untuk berangkat ke rumah kepala desa. Mereka memiliki tujuan yang sama untuk menolak vaksinasi corona yang akan dilakukan pemerintah. Dalam waktu yang ditentukan, semua yang akan ikut ke rumah kepala desa sudah lengkap. Mereka berangkat bersama-sama ngeluruk rumah kepala desa.

Pak Shobariyanto, sebagai kepala desa sangat menghargai kedatangan meraka. Mereka sebagai warganya diajak untuk ditemui di balai desa yang tidak jauh dari rumahnya.

“Bagaimana kabar Bapak semua, Pak Karmo terutama yang kenal baik dengan saya?,” sapa Pak Shobariyanto.

“Kabar kami baik-baik, Pak,” jawab Pak Karmo yang saat itu duduk paling depan sebagai perwakilan mereka.

“Ada yang bisa saya bantu sehubungan keperluan Bapak-Bapak ke sini?”

“Begini pak,” dengan rasa cemas tapi sigap Pak Karmo mengawali pembicaraannya seraya menoleh ke teman-temannya. Dia memang sudah terbiasa berbicara dengan orang-orang atas atau pejabat. Apa lagi dengan kepala desa, sehingga sama sekali dia tidak ada rasa canggung lagi.

“Kedatangan kami ke sini mewakili warga desa di desa kita. Mungkin Bapak sudah tahu kabar tentang adanya vaksinasi Covid-19  yang vaksinnya sudah tiba,” ungkap Pak Karmo.   

“Oh, ya betul saya  dengar. Mohon bantuan Bapak-Bapak nanti untuk membantu kelancaran vaksinasi tersebut!,” harap kepala desa.

“Maaf, bukan itu masalahnya, Pak,” sela Pak Karmo.

“Terus bagaimana?,” tanya kepala desa terperangah.

“Kami atas nama warga desa tidak setuju dengan rencana vaksinasi tersebut,” tegas Pak Karmo.

“Maksud sampeyan?,” raut wajah kepala desa tampak berubah. Ia heran.

“Ya, banyak warga desa yang tidak mau atau menolak vaksin corona tersebut, karena vaksin tersebut tidak jelas keamanannya. Kami punya bukti beberapa rekaman video yang menyatakan vaksin tersebut bahan bakunya tidak halal dan vaksin itu masih sebagai uji coba. Jadi semua warga Indonesia akan dijadikan kelinci percobaan, Pak. Bahkan bukan hanya itu, vaksin ini secara lambat laun akan menyebabkan kematian bagi penggunanya,” papar Karmo.

“Betul, Pak, kita harus waspada dan hati-hati terhadap vaksin yang masih baru diperkenalkan ini!” timpal yang lain.

“Maaf, saya mungkin sudah melihat juga video itu, dan saya mencermati semua isinya,” jelas Pak Shobariyanto.

“Terus menurut Bapak?,” tanya Pak Karmo penasaran.

“Kita harus cermat menyikapi semua persoalan. Dari siapa informasi dalam video itu, dan apa tujuannya? Yang jelas masalah vaksin ini pasti menimbulkan tanggapan pro dan kontra. Kita harus mengambil sikap secara arif dan bijaksana. Ini menyangkut keselamatan orang banyak. Kita tahu virus Corona ini kan merupakan wabah yang berbahaya. Dan program vaksinasi ini sebuah upaya pemerintah untuk menanggulangi atau mencegah penularan virus ini,” urai Kades Shobariyanto

“Coba bayangkan, bagaimana seandainya pihak pemerintah tidak mengambil tindakan, apa yang terjadi dengan saudara-saudara kita?,” tambahnya.

“Tapi pak, ada beberapa pejabat pemerintah yang juga menolak vaksin ini. Ini pejabat lho. Pak,” sela Karmo.

“Ya, betul. Makanya tadi saya katakan bahwa program vaksinasi ini pasti ada reaksi pihak yang mendukung dan pihak yang menentang atau menolak. Itu biasa dan wajar. Negara kita kan negara demokrasi. Setiap orang berhak berpendapat, termasuk Sampeyan ini. Silakan Sampeyan menyatakan pendapat, hanya dalam batas koridor rel demokrasi. Hanya perlu diingat, kita jangan sampai memaksakan kehendak kepada orang lain. Jadi saya tetap menghargai pendapat Sampeyan. Hanya saja, itu tadi jangan sampai dipaksakan kepada orang lain. Bukankah orang lain punya hak juga, kan? Ha ha ha ....,” saran kepala desa dengan nada santai dan santun.

“Ya, tapi mohon maaf, kami tetap menolak divaksin, Pak,” kata Pak Karmo tetap pada pendiriannya.

“Tapi, dengan catatan tidak usah membuat provokasi kepada warga yang lain. Orang lain kan juga punya hak untuk menerima vaksinasi,” harap kepala desa.

“Ya, maaf, Pak jika kedatangan kami mengganggu kesibukan Bapak. Kami mohon pamit pulang, Pak,” pamit Pak Karmo dengan teman-temannya dengan sedikit kecewa.

Suasana tegang di desa itu mulai mereda, setelah ada informasi bahwa kedatangan vaksin pertama masih untuk petugas-petugas kesehatan. Sedangkan vaksinasi untuk masyarakat umum masih menunggu tahap berikutnya. Jadi masyarakat di desa itu masih bisa bernapas lega. Warga di desa itu sama-sama berharap agar apa yang diperjuangkan Pak Karmo dan kawan-kawannya mendapatkan respon yang positif dari pihak petugas.

Namun pada akhir-akhir ini suasana tidak lagi seheboh seperti pada saat kedatangan vaksin itu. Informasi-informasi sumbang yang menentang keberadaan vaksin tersebut juga tidak sesanter dulu. Pak Karmo yang awalnya bersuara keras menentang dan menolak vaksin tersebut sudah tidak seperti dulu lagi. Masalah vaksinasi Covid-19 yang awalnya menjadi trending topic di berbagai Komunitas grup WA, sekarang sudah berkurang.

Belakangan ini yang menjadi pembincangan warga beralih pada kabar Pak Karmo. Tersebar kabar bahwa Pak Karmo sedang sakit. Sudah beberapa hari ini dia tidak kelihatan keluar rumah. Kasak-kusuk dari beberapa warga bahwa dia sudah beberapa kali berobat ke seseorang yang biasanya mengobatinya setiap dia sakit. Di sana dia biasanya diberi ramuan tradisional tertentu. Namun kali ini menurut kabar dari kerabatnya sudah beberapa kali diobatinya masih belum sembuh.

“Kok tidak periksa ke rumah sakit?,” tanya seseorang warga.

“Katanya dia tidak mau, sebab kalau dibawa ke rumah sakit pasti dinyatakan positif Covid,” jawab warga yang lain.

Pak Karmo memang pernah mengatakan bahwa banyak pasien di rumah sakit yang dinyatakan positif terpapar virus Corona walaupun sebenarnya si pasien itu memamng memiliki penyakit bawaan.

Menurut Pak Karmo, petugas melakukan hal seperti itu karena mengharapkan dana Covid. Bayangkan setiap pasien yang dinyatakan positif Covid itu mendapatkan dana perawatan yang cukup besar termasuk petugasnya.

Kerabat dan tetangga Pak Karmo hampir tidak ada yang membesuknya. Situasi pandemi seperti ini memang orang-orang perlu berpikir dua kali. Jika menyambangi orang sakit perlu kehati-hatian. Jangan-jangan yang dibesuk sakit karena terpapar virus corana yang sedang mewabah di negeri kita.

Kabar terakhir yang berkembang bahwa Pak Karmo sudah dibawa ke rumah sakit setempat. Kondisinya sudah lemas, sehingga dia pasrah tidak lagi menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Mungkin sudah waktunya perlu diberi cairan infus. Seluruh warga desa hanya bisa berharap agar kesehatan Pak Karmo segera kembali pulih dan bisa beraktivitas kembali. Mereka tidak ada yang berani membesuknya ke rumah sakit.

    *****
 
Jamad, salah seoang guru Bahasa Indonesia SMP di Sumenep. Dia aktif dalam organisasi keprofesian; PGRI, MGMP, IGI, serta tergabung dalam beberapa komunitas pegiat literasi baik di Sumenep maupun di luar kabupatennya. Sejak 2016 menjadi ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP/M.Ts. di Kabupaten Sumenep.
Beberapa hasil tulisannya berupa jenis fiksi dan nonfiksi terbukukan dalam bentuk antologi bersama di antaranya: Mengajar Daring Belajar Caring, Doa untuk Negeri (Antologi puisi), Goresan Pena Guru Bahasa Indonesia
Surat untuk Ibu, Hanya Nol Koma Satu (pentigraf), Memorabilia, Pelangi Hati, Untukku, Melihat Bapak dalam Jendela Waktu, Eksplorasa 1, dan lain-lain. Tulisan-tulisannya juga menghiasi media blog miliknya  yang alamatnya berikut ini:  JawaMadura.blogspot.comEmail : h.jawamadura65@gmail.com; FB: JawaMadura OK; WA: 081913666835


POSTING PILIHAN

Related

Utama 580629236613718700

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item