Selesaikan Pandemi Ala Islami


Pandemi yang tidak berkesudahan merupakan suatu cobaan yang  Tuhan berikan, atau bisa jadi karena ulah-ulah tangan keserakahan. Namun apapun penyebabnya kita merupakan makhluk tuhan yang dituntut untuk tidak tunduk pada keadaan, dan terus melakukan perubahan untuk dapat mencapai apa yang kita inginkan sebagaiman termaktub dalam Al-Quran “Sesungguhnya Allah tidak akn merubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubahnya sendiri.”  Dari ayat tersebut dapat kita pahami dengan jelas mengenai pentingnya menciptakan perubahan khususnya dalam menuntaskan pandemi di negri kita.

Memang, jika kita mengatakan pandemi adalah takdir, maka dengan menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi merupakan usaha menghindar dari takdir, namun menuju takdir tuhan yang lain seperti kejadian yang menimpa sayyidina Umar ketika hendak keluar menuju Syam, kemudian mendapat kabar bahwa  di syam sedang terjadi wabah, lalu beliau bermusyawarah dengan sahabat muhajirin, anshar, dan tetua Quraisy yang menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap perjalanan yang akan dilakukan sayyidina Umar, sehingga beliau membatalkan untuk kembali, Abu Udaibah yang menjabat sebagai gubernur Syam berkata “apakah engkau lari dari takdir Allah ?” sebagaimana kita ketahui bahwa sayyidina Umar tidak senang ada orang yang menyelisihinya beliau pun menjawab “ kalau saja bukan engkau yang berkata wahai Abu Udaibah, iya, kita lari dari satu takdir Allah, menuju takdir Allah yang lain.”

Untuk menghindari virus menular, hendaknya kita menerapkan protokol kesehatan yang diterapkan oleh tenaga ahli seperti ketika lock down kita tidak diperkenankan keluar rumah, hal ini sesuai dengan hadist yang melarang  kita keluar masuk tempat yang sedang terkena wabah, yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Auf RA. “Apabila kalian mendengar penyakit (taun) terjadi di suatu tempat, maka janganlah kalian datangi tempat tersebut, dan apabila ia terjadi di tempat yang kalian berada di situ, maka janganlah kalian keluar untuk melarikan diri darinya.”

Selain melaksanakan protokol yang diterapkan, hal yang sangat urgen untuk kita implementasikan di saat pandemi yaitu berdoa kepada Allah agar penyakit tersebut dapat segera diangkat dan dihilangkan. Kita ketahui bersama bahwa sesuatu tidak akan terjadi tanpa kehendak-Nya. Antara lain doa yang dikutip penulis yaitu yang dikatakan Az-Zarkasyi “ wahai Allah, sesungguhnya kami berlindung dari bala yang berat dari jiwa, keluarga, harta, dan anak-anak kami, Allah maha besar 3x dari segala yang kami takuti dan kami hindari, Allah maha besar 3x sebanyak dosa-dosa kami sampai engkau ampuni, wahai Allah, sebagaiman engkau memberi syafaat kepada Nabi Muhammad SAW di tengah kami maka berilah kami tunda, makmurkanlah tempat-tempat tinggal kami dengan kami, janganlah engkau hukum kami karena keburukan kami dengan dosa-dosa kami, wahai tuhan alam semesta.”  

Disamping berdoa buku ini juga menganjurkan kirta untuk membaca dzikir-dzikir penangkal wabah yang tersaji di dalam buku ini beserta sumber-sumbernya.

Buku yang lahir dari tangan suci Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari ini dapat dijadikan rujukan terpercaya dalam menuntaskan pandemi, khususnya yang sedang terjadi di negeri kita saat ini yaitu covid-19, karena tidak dapat dipungkiri bahwa protokol yang ditetapkan para ahli (dokter) untuk mencegah covid-19 seperti tidak keluar rumah atau bepergian ke daerah wabah, menjaga jarak , serta tidak berkerumun , menjaga imun, dan lain-lain ternyata sudah di praktikkan sejak zaman dahulu dalam menghadapi wabah.

Syekh Zakariya al-Anshari sendiri merupakan seorang yang ahli fikih yang dibuktikannya dengan karya yang tidak lagi asing di telinga kita mengenai nama kitab ushul fikih yang beliau karang yaitu kitab Lubbul Ushul. Maka tidak salah jika pada buku ini diberi nama fikih pandemic, karena mengaca dengan apa yang terkandung di dalamnya, yang lengkap dengan hukum-hukumnya. Nama asli kitab yang diterjemahkan menjadi buku ini ialah Tuhfah ar-Raghibin fi Bayani Amr ath-Thawain.

Mengenai latar belakang ditulisnya kitab tersebut adalah karena banyaknya umat Islam yang merasa sulit dalam memahami kitab yang beliau karang sebelumnya yaitu kitab Badl al-Maun fi Fadl ath-Thaun.

Keunggulan yang sangat terasa dari buku ini adalah pemaparannya yang singkat dan padat namun tidak melupakan argumentasi-argumentasi yang harus dirasionalkan jika terdapat dalil yang agak musykil untuk dipahami. Serta buku ini dilengkapi dengan teks Arab aslinya, sehingga pembaca dapat menganalisis terhadap teks asli jika menemukan kerancuan dalam memahami buku ini. 

Dan juga buku ini dilengkapi dengan pertanyaan beserta jawabannya seputar Covid-19 sehingga memberikan tambahan nilai positif bagi reputasi buku ini. Keunggulan buku ini dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, buku ini merupakan buku klasik yang merekam fenomena wabah taun yang dialami kaum muslimin sejak masa Rasulullah SAW. Kedua, buku ini adalah ringkasan kitab wabah dan taun karya Ibnu Hajar al-Asqalani, yang mana kitab beliau sangat mendetail dan terlalu banyak riwayat yang dikutip sehingga terasa sulit bagi banyak orang termasuk para muridnya. 

Maka Imam Zakaria meringkas karya sang guru (Ibnu Hajar al-Asqalani) sekaligus menambah poin-poin penting dan kejadian yang belum terekam sebelumnya. Ketiga, buku ini juga dilengkapi FAQ tentang covid-19 dan diparipurnai dengan teks Arab kitab aslinya.

Buku ini sangat cocok untuk dibaca oleh setiap kalangan, apalagi di waktu pandemi seperti sekarang. Dengan membaca dan menelaah pasal demi pasal dalam buku ini, kita akan mendapatkan pencerahan dan berbagai solusi agar kita tetap sehat dan selamat dalam menjalani aktivitas sehari-hari di masa pandemi. Tentunya solusi-solusi itu berlandaskan pada dalil-dalil syari’at. Selamat Membaca. Wallahu A’lam.(*)   

*Moh. Bahrudi, Santri Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Selatan dan  Mahasiswa INSTIKA Guluk-Guluk Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Semester II



    

POSTING PILIHAN

Related

Utama 9133929298254474534

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item