Pentigraf Rinny Soegiyoharto, Windhihati Kurnia, dan Gatot Sarmidi


Rinny Soegiyoharto

Selingkuh

"Kamu tak kan mungkin bisa merasakan sakitku, Bren. Terlalu beruntung kamu nikah dengan Ranto." Helly selalu mengucapkan kata-kata itu tiap kali mengakhiri sedu-sedannya. Musim pertengkaran di dalam rumah tangganya seolah-olah terjadual. Berpola sama, Leon, suaminya ditengarai selingkuh. Helly melesat ke rumahku, curhat, sesenggukan panjang, lalu pulang. Esoknya dia mengabari, Leon tidak selingkuh, cuma pertemuan bisnis. Sigh!

Lama-kelamaan tuduhan Helly merusak sinaps di otakku yang tertata rapi. Memori itu mengawang. Iringan piano nan sahdu, 'Here Comes the Bride', mengantar ayunan langkahku menuju altar, bagaikan sorak kemenangan untuk Helly. Sahabatku ini yang paling menentang hubunganku dengan Brasco, pembalap romantis yang menggilaiku dan membuatku tergila-gila. "Percayalah, kamu sangat beruntung menikah dengan Ranto," bisik Helly saat pemberkatan usai.

Helly melesat ke rumahku, bukan curhat, tanpa sesenggukan. Terdengar genderang perang dalam kata-katanya yang pedas. "Keterlaluan kamu, Brenda! Selingkuh dengan Brasco?!?! Kamu menciptakan bencanamu sendiri!" Dia tak peduli lengkingannya menggaung hingga ujung blok. Bahkan dia menuduhku pembohong, ketika kuucapkan dengan nada rendah, bukan aku yang selingkuh dengan Brasco, tapi Ranto.

Omah Srikandi, 28.07.2021


Windhihati Kurnia

Vonis

Di kamar serba putih ini tiba-tiba May merasa sesak. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Jantungnya berdetak cepat, debarannya seakan mengalahkan detak jam dinding yang merambat. Hari ini adalah hari penentuan bagi hidup May.

Bibir mungil May nampak bergetar melangitkan doa-doa. Matanya terkatup, jemarinya menguncup. May larut dalam hening. Betapa setelah sekian lama dalam penantian, vonis itu akan jatuh hari ini. May pasrah.

Riuh gemuruh di luar kamar membuat persendian May lunglai. Ketukan lembut di pintu kamar seiring munculnya seraut wajah berhias senyum manis membuat mata May berkaca-kaca. "Alhamdulillah, Bule Belanda itu sukses mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas," bisik Kay, adik semata wayangnya. May lega, vonis itu telah dijatuhkan dan dia bahagia terpenjara selamanya di hati lelaki pujaannya itu.

Bandung, 2021


Gatot Sarmidi

Potret Dari Rembulan

Pagi itu Mas Kluwung yang lama tak jumpa datang ke rumah Karto. Ia mengirim potret. Katanya potret dari Rembulan. Pada potret itu terlihat sebuah roket yang siap meluncur. Ada astronot yang siap memasuki kapal. Kendaraan itu meluncur tengah malam jurusan rembulan.

Mas Kluwung tidak memberikan penjelasan apa apa. Dalam potretnya berisi pesan yang terisi doa doa. Tak terlihat bunga bunga di rembulan. Yang terlihat hanya pendaran cahaya. Roket itu membawa bidadari. Biar tidak kelelahan, para bidadari tidak usah terbang. Mereka mempunyai kecepatan yang lebih tinggi daripada kilat halilintar. Sekejap saja bagai kiriman media maya. Bidadari bidadari pengantar jenazah tiba di rembulan.

Mas Kluwung tidak memberitahu jenazah siapa. Ia meninggal mendadak. Sekarang saatnya para astronot membawa bidadari bidadari dan satu jenazah menuju rembulan. Di sana, mereka foto bersama. Semua berpakaian putih dan semua bias cahaya menjadi latarnya. Kata Kluwung rembulan dalam keadaan baik baik. Sementara di bumi masih belum terkatakan sudah baik. Virusnya masih bandel. Oleh karenanya Mas Kluwung cukup mengirimkan potret dari rembulan kepada sahabatnya. Karto. Wasalam.

*****

Diangkat dari Kampung Pentigraf Indonesia

POSTING PILIHAN

Related

Utama 2525553497911311379

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item