Menyingkap Rahasia Alam Gaib


M.Rizal

Dalam Islam, mengimani atau mempercayai hal-hal gaib merupakan kewajiban setiap muslim. Bahkan Al-Quran menyebutkan, di antara ciri orang yang bertakwa adalah beriman kepada yang gaib. Setelah itu, disebutkanlah ciri yang lain yaitu mengerjakan shalat, menginfakkan sebagian hartanya, dan beriman kepada (Al-Quran) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya serta mereka meyakini akan adanya akhirat. Seseorang yang memiliki ciri tersebut adalah orang yang telah mendapatkan petunjuk dari Allah dan kelak akan menjadi orang yang beruntung. Mengimani hal gaib haruslah disertai rasa takut kepada Allah, maka Allah akan memberikan ampunan-Nya dan pahala yang besar. Hal ini sesuai dengan firman Allah “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk (67) : 12)

Sebagaimana telah diketahui, bahwa inti ajaran Islam bertumpu pada keimanan akan hal yang gaib. Ini dibuktikan dengan rukun iman yang enam yang menuntut kita untuk mengimani yang gaib. Semisal iman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, qadha dan qadar termasuk juga surge dan neraka. Semuanya gaib. Karena itulah Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ fatawanya mengatakan bahwa “Pokok keimanan adalah beriman kepada perkara gaib.” Ibnu Qayyim juga menegaskan dalam kitab Thariqul Hijratain bahwa “Beriman kepada perkara-perkara gaib merupakan derajat paling mulia dari semua perkara.”

Pertanyaannya sekarang, apa yang dimaksud gaib? Secara bahasa, gaib berarti segala sesuatu yang tidak tampak dari penglihatan kita, atau segala sesuatu yang tidak terlihat oleh mata, sekalipun sampai ke hati (Ma ghaba ‘anil ‘uyun wa in kana muhasshalan fil qulub). Seseorang yang hanya mendengar suara tanpa melihat sumber suara, secara bahasa, dikatakan ghaib. (hlm.10)

Malaikat termasuk hal yang gaib. Mengimani malaikat merupakan rukun iman yang kedua. Mengimani malaikat tidak sebatas memercayai keberadaannya, tetapi juga mengetahui sifat, keadaan, dan hal lainnya yang layak disandang malaikat. Semua malaikat adalah taat kepada semua perintah Allah. Mereka tidak pernah berbuat maksiat dan tidak pernah membangkang perintah-perintah Allah, sebagaimana firman Allah dalam surah at-Tahrim ayat 6. Malaikat diciptakan dari cahaya. Dan juga malaikat memiliki ciri khusus yang melekat pada malaikat itu sendiri. 

Di antara ciri khusus itu yang dijelaskan dalam buku ini adalah bahwa malaikat itu memiliki sayap, ada yang dua, tiga, empat, bahkan lebih. Dalil untuk ini adalah firman Allah dalam surah Fathir ayat satu, “Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus bermacam urusan), yang mempunyai sayap, ada yang dua, tiga, dan empat.” Selain itu, rupa malaikat sangatlah elok, tidak berjenis kelamin, tidak makan dan tidak minum, tidak pernah bosan dan lelah, para malaikat tinggal di langit, serta jumlah malaikat sangatlah banyak.

Terkait jumlah malaikat, hanya Allah-lah yang mengetahuinya. Namun, kita sebagai orang beriman hanya diperintahkan untuk mengetahui sepuluh malaikat beserta tugasnya yang disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah. Sepuluh malaikat tersebut adalah Jibril yang sering kali disebut dengan Ruh al-Amin yang bertugas menurunkan wahyu, Mika’il bertugas menurunkan rezeki dan hujan, Israfil sang peniup sangkakala, Izrail sang pencabut nyawa, menanyai manusia di alam kubur ada malaikat Munkar dan Nakir, pencatat amal manusia (yang baik dan yang buruk) dipegang malaikat Raqib dan Atid, ada malaikat Malik yang bertugas menjaga neraka, sementara di surga dijaga malaikat Ridhwan.

Di antara kemampuan dan kelebihan malaikat adalah mampu berubah bentuk, seperti malaikat yang datang bertamu kepada Nabi Ibrahim. Mereka datang dalam wujud dan bentuk manusia (hlm.47). Malaikat juga mampu bergerak dengan sangat cepat. Tugas malaikat hanyalah taat kepada perintah Allah dan selalu bertasbih kepada Allah tanpa henti-hentinya, Allah berfirman “Mereka selalu bertasbih pada malam dan siang tanpa henti (al-Anbiya’ (21) : 20).”

Makhluk gaib selain malaikat adalah jin dan setan. Tidak seperti malaikat yang selalu taat, setan justru selalu bermaksiat kepada Allah. Setan memiliki sifat yang bertolak belakang dengan malaikat. Jin atau setan diciptakan dari api. Jin maupun setan adalah makhluk tak kasatmata yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang kecuali mereka mewujud dalam rupa manusia atau hewan. Tetapi, tidak dengan hewan. Karena ada sebagian hewan yang bisa melihat mereka seperti ayam jantan, anjing, dan keledai.

Dalam kitab Ahkam al-Marjan Fi Ahkam al-Jann, as-Syibli memaparkan pendapat Ibnu Aqil yang mengatakan bahwa disebut Jin karena secara bahasa artinya “yang tersembunyi,” “terhalang,” “tertutup.” Jin adalah makhluk yang tidak kasat mata. Sedangkan kata Setan dalam bahasa Arab berasal dari kata “Syathana” yang berarti “jauh.” Disebut setan karena ia selalu menjauhkan manusia dari kebenaran. Kata “setan” kemudian digunakan untuk setiap yang durhaka dan membangkang. Tidak semua jin adalah setan. Sebab, jin juga ada yang saleh dan mukmin. Jadi, setan adalah jin yang kafir dan membangkang. Demikian juga tidak semua setan adalah jin. Karena dalam surah an-Nas ditegaskan bahwa setan juga ada yang dari golongan manusia. Setiap manusia yang membangkang, durhaka, dan selalu menjauhkan manusia lainnya dari Allah berarti mempunyai sifat-sifat seperti setan.

Jin itu sama seperti manusia; berjenis kelamin (ada yang laki-laki dan perempuan), menikah dan mempunyai keturunan, tertawa, menangis, bertempat tinggal terutama di tempat-tempat yang kotor, tempat-tempat tak berpenghuni, lubang-lubang, pasar-pasar ataupun di kandang unta. Jin juga meninggal. Hanya saja, usianya lebih panjang daripada usia manusia. Kecuali Iblis, nenek moyang setan. Ia kekal sampai kiamat tiba. Di antara jin itu sendiri ada yang mukmin dan ada pula yang kafir. Bahkan, yang beragama Islam ada yang bermadzhab Qadariyyah, Ahlussunnah, Syi’ah, ada yang fasik, munafik, termasuk yang benar-benar taat. (hlm.90)

Membahas jin adalah hal yang sangat penting. Karena di beberapa ayat Allah telah menyebut makhluk gaib satu ini dengan sebutan yang berbeda-beda. Kadang Allah menggunakan kata Jin, al-Jan, dan Jinnah. Bahkan Allah menamai satu surah khusus dalam Al-Quran dengan surah Jin (surah ke-72). Meyakini adanya jin ini bukan berarti kita harus mengetahui secara detail alam jin, atau berinteraksi dengan jin. Kita hanya dituntut untuk mengetahui mereka dengan sifat-sifat dan keterangan-keterangan yang berkaitan dengan jin sebagaimana dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Lebih dari itu, para ulama melarang kita untuk membahas yang gaib lebih dalam karena dikhawatirkan keimanan (akidah) kita menjadi goyah, terutama bagi yang akidahnya lemah.

Buku setebal 279 halaman ini ditutup dengan pembahasan seputar alam barzakh. Setiap manusia pasti akan mengalami kematian. Karena tidak ada yang kekal di dunia ini selain Allah. Apabila sudah meninggal dunia, seseorang akan pindah ke alam berikutnya, yaitu alam barzakh. Alam barzakh adalah alam pemisah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Alam barzakh ini sering kali disebut dengan alam kubur. Alam barzakh berbeda dengan alam dunia. Di alam dunia ada keperluan bersifat materi (maddiyyah) maka pada alam kubur tidak ada keperluan akan materi. Ketika di alam dunia maupun di alam barzakh ada kesamaan yaitu di kedua alam tersebut, ruh manusia dapat merasakan sakit, bahagia, dan sedih.

Alam kubur merupakan tolak ukur keselamatan bagi kita. Apabila di dalam kubur kita selamat maka setelahnya akan lebih gampang. Namun ketika kita tidak selamat di alam kubur, maka kita akan celaka. Hal ini sebagaimana sabda Nabi, “Kubur itu adalah rumah pertama menuju akhirat. Apabila di alam kubur telah selamat, maka proses setelahnya akan lebih mudah. Namun, apabila di alam kubur tidak selamat, maka perjalanan setelahnya akan lebih sulit lagi.” (HR. Tirmidzi dan Ibn Majah)

Buku yang ditulis oleh Dai muda dan kandidat doktor dari Universitas al-Azhar, Kairo ini berisi tentang segala hal yang berkaitan dengan malaikat, jin, setan, dan barzakh yang perlu kita ketahui sebagai orang yang beriman. Digali dari nas-nas Al-Quran dan Hadis. Selain itu penulis juga merujuk kepada kitab-kitab klasik yang dikarang ulama terdahulu sebagai penjelasan mendalam terhadap kedua sumber tersebut. Buku ini dikemas dalam bentuk tanya-jawab, dan disampaikan dengan gaya ulasan yang mudah dicerna, agar para pembaca bisa menikmati dan memahami apa yang ingin disampaikan penulis.

Sekali lagi, ciri pertama orang bertakwa adalah beriman kepada yang gaib. Buku ini hadir membantu kita mengenal alam gaib yang berhubungan dengan malaikat, jin, setan, dan barzakh dengan lensa Al-Quran dan Hadis. Buku ini layak dibaca dan dijadikan pegangan setiap muslim untuk membangun keyakinan yang benar dan menjalani hidup berdasarkan pengetahuan itu. Pengetahuan tentang alam gaib bisa menjadi rambu-rambu dan petunjuk jalan pulang menuju kehidupan yang hakiki. Apa yang kita raih di akhir tujuan kelak tergantung pada apa yang kita ketahui dan kita perbuat saat melewati jalan itu. Wallahu A’lam.


***

M.Rizal, Santri Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Selatan dan  Mahasiswa INSTIKA Guluk-Guluk Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir  







POSTING PILIHAN

Related

Utama 5727908617869576267

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item