Membangun Optimisme di Tengah Pandemi


Oleh Syaiful Rahman

Di tengah deraan pandemi ini, optimisme harus terus dibangun. Meskipun diakui, kondisi seolah-olah semakin tidak menentu. Banyak orang jatuh sakit dan banyak pula yang harus berpulang kepada Sang Pencipta. Berbagai ketakutan muncul di hati banyak orang. Belum lagi soal kondisi ekonomi yang cukup berat.

Optimisme tidak boleh diredupkan, apalagi dipadamkan, dari hati setiap orang. Bagi yang sakit, menyerah bukanlah solusi terbaik. Teruslah berjuang untuk menemukan obat penyembuh. Teruslah melakukan upaya-upaya nyata untuk mengembalikan kesehatannya.

Hal itu perlu dilakukan bukan untuk melawan takdir kematian. Akan tetapi, perjuangan untuk sembuh (diharapkan) dapat bernilai ibadah sebab itu merupakan upaya untuk menjaga anugerah Tuhan. Dengan kondisi jiwa dan raga yang sehat, seseorang lebih memungkinkan untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Sementara bagi yang sudah berjuang, namun tak kunjung sembuh, tetaplah berprasangka baik tanpa harus menghentikan perjuangannya. Tetaplah munculkan harapan untuk sembuh dan harapan semoga penyakit yang menimpanya dapat menjadi jalan diampuninya dosa-dosa yang dimiliki. Dengan kesabaran dalam menanggung sakit, semoga mendapatkan pahala yang melimpah.

Optimisme sangat penting dimiliki setiap orang. Sebab optimisme akan mampu membuat orang bangkit dari keterpurukan. Sangat banyak contoh bagaimana sebuah optimisme bisa mengubah sesuatu yang mustahil menjadi sebuah kenyataan menakjubkan.

Sudah sering diperdengarkan kisah bagaimana Nabi Muhammad SAW membangun optimisme para kaum muslimin menjelang Perang Khandaq. Kala itu, pasukan perang sudah keletihan saat membuat parit. Di situ ada sebuah batu besar dan kuat. Pasukan sudah merasa letih untuk menghancurkan batunya.

Namun, Nabi Muhammad SAW segera turun tangan untuk membangkitkan kembali optimisme pasukannya. Beliau memukul batu itu sembari berseru, “Allahu Akbar, Romawi pasti dikuasai …’’ pada pukulan pertama. Pada pukulan kedua, beliau berseru, “Romawi pasti dikuasai?” Pada pukulan ketiga, beliau berseru, “Allahu Akbar, Persia pasti dikuasai.” Batu itu pun pecah.

Sesulit apa pun kondisinya, optimisme tidak boleh dibiarkan terkikis. Optimisme harus terus ditumbuhkan. Bahkan, kata Nabi Muhammad SAW, “Bila hari kiamat tiba dan di tangan salah seorang dari kalian terdapat tunas pohon kurma, tanamlah!"

Mungkin pada saat tertentu seseorang merasa berada di jalan buntu. Bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Tapi, percayalah, Tuhan tidak pernah berbuat zalim kepada makhluk-Nya. Apa pun yang terjadi pasti ada pesan dan hikmah di dalamnya. Tuhan jauh lebih besar dan lebih berkuasa daripada masalah-masalah yang kita hadapi.

Tetaplah semangat! Tetaplah optimis! Semoga yang sehat senantiasa sehat. Semoga yang sakit segera sehat. Semoga yang meninggal, meninggal dalam keadaan husnulkhatimah. Aamiin.

Hms, 27 Juli 2021

 

Sumber: akun FB Syaiful Rahman

POSTING PILIHAN

Related

Utama 2368111092468532851

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item