Kidung Sendu Alina

 


Cerpen: Siti Aisyah

Gadis kecil itu berlarian dengan tapak-tapak kaki mungilnya menyusuri pematang sawah. Digeleng-gelengkan kepalanya seraya melompat kegirangan. Angin pagi menyapu wajah mungil yang sumringah di pagi sejuk berseri.

“Ma, Lina duduk di sini yah,?”

“Ya,”

Ema datar menanggapi ucapan anaknya yang sedari tadi tak henti berceloteh tentang segala hal yang ditemuinya sepanjang perjalanan menuju sawah garapannya.

“Abah, kalau Lina besar nanti, Lina pasti bantu Abah,” ujarnya yang kini ditujukan abahnya.

 Ayah Lina hanya mengangguk seraya menebar senyum pada anak semata wayang yang sangat disayanginya. Namun di balik itu, terasa ada raut sedih tenggelam dari wajah sederhana  itu, walau beban hidup sangat berat selama ini dijalani tak pernah sekalipun disesalinya. Pasrah dan terus berusaha itu menjadi sumber kekuatannya.

  Sawah garapan milik H. Junaedi itu sudah berpuluh tahun jadi ladang garapan dan penopang hidup keluarga sederhana. Sejak remaja orang tua abah atau kakek Alina sudah mempercayakan anaknya untuk menggarap sawah karena tak ada lagi harapan yang bisa dilakukan, bagi abah lulusan kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah di kampunganya itu tidak lagi punya harapan mengandalkan ilmunya untuk sebuah pekerjaan, bahkan dirinya tak sempat melihat nilai ijazah karena tidak mempunyai uang untuk menebusnya. Tak ada pekerjaan yang bisa dilakukan kecuali menjadi buruh tani

Kini abah sudah berkeluarga, hidupnya tak juga berubah, walau tak semiskin seperti saat dirinya kecil, kehidupan abah tak banyak berubah. Hidup sederhana dan  bersahaja. Alina kecil mendapat limpahan curahan perhatian kedua orang tuanya, kebahagiaan hidup sangat terasa bagi gadis kecil itu. Kebutuhan gizi dan pakaian sangat diutamakan, hingga tak jauh beda dengan teman sepermainannya.

Alina tumbuh menjadi gadis kecil yang sehat, ceria dan cerdas. Di antara teman–temannya. Alina selalu jadi pusat perhatian. Wajah mungil, kulit kuning langsat, bola mata bundar berpendar bak bintang kejora yang tak henti saat sedang berbicara membuat semua orang jatuh hati begitu melihatnya.

Hari itu Alina terseduh ema dan abah tak kunjung pulang, meski pelukan erat sang bibi sempat ia rasakan, namun tidak mampu menghapus dukanya. Alina kecil tak berhenti menangis sembari terus-menerus bertanya kemana kedua orang tuanya.

“Lina mamam yah neng?,” ujar bibi Minah mencoba merayu. Bibi Minah adalah kerabat dari keluarga ema atau ibunya Alina yang selama ini menjadi bagian dari keluarga kecil itu.

Alina menggeleng

“Ayooo  sayang. mamam dulu yah, ini enak loh, makanan kesukaan Lina,”

Alina masih juga menggeleng

“Tuh ada telur ceplok, kerupuk dan kecap, Lina suka kan?,”

Alina tetap meggeleng, bibirnya mengering karena sejak tadi pagi tidak ada asupan makanan yang mengisi perut kecilnya.

“Ayoo sayang..nanti kalau Alina gak maman, cantiknya jadi hilang,” bujuknya lagi.

“Bibi…aku mau ketemu ema sama abah dimana sekarang?”

“Ema sama abah lagi ke rumah wa Ical, jadi gak pulang hari ini,” jelas bibi mencoba memahamkan.

Bibi bingung dan sulit untuk menjelaskan  pada gadis kecil yang masih sangat polos itu. Walaupun diberitahu pasti tak akan memahaminya.

***
Hari itu hujan sangat deras, abah dan ema Alina masih berada di pematang sawah. Namun tanpa diduga kilat petir  menyambar suami istri saat berteduh dibawah pohon di tepian lahan sawah.

Kabar tersebut tentu menghantam diri Minah, lantaran kondisi Alina yang masih butuh perhatian serius akhirnya harus terbelah menjadi petaka keluarga.

Untuk menghindari kegelisahan dan persoalan psikologi Alina, akhir ia cepat cepat diamankan dan  dibawa ke rumah bibinya agar tak melihat jenazah kedua orang tuanya dengan kondisi  mengenaskan. Dan pada hari yang sama jenazah keduanya langsung di kebumikan di pemakaman umum kampung Marga Mulya Desa Tanjung Kait, Kecamatan Mauk Tangerang.

Malam kian larut namun hujan tak juga kunjung reda, Alina kecil terlelap dalam tidur, wajah polosnya terlihat kelelahan, gadis kecil itu tak tahu apa yang akan terjadi nanti dalam kehidupan selanjutnya.

Selama pengasuhan bibinya, Alina mulai beranjak menjadi gadis remaja  jelita, raut wajahnya yang manis dihiasi  lesung pipit di kedua pipinya. Rambut panjang hitam terurai menawan dan kedua alisnya seperti semut beriring. Gadis cantik ini kini telah genap berusia  17 tahun, dan sebentar lagi menyelesaikan sekolah SMAnya, dan setelah itu berencana akan mencari pekerjaan.

Keputusan itu dilakukan untuk membantu bibi yang selama ini telah merawat dirinya  sedari kecil hingga dewasa  dan bersusah-payah membiayai   pendidikan hingga tingkat SMA.

Pagi ini udara sangat dingin, angin berhembus basah menggigilkan. Rinai  gerimis  menyentuh bumi dengan rintik-rintik menjadikan alam jadi sendu. Meski suasana demikian kelabu Alina tetap bersiap karena inilah hari pertamanya bekerja di PT. Panarub Industri, sebuah perusahaan bernama Dwi Karya yang sudah berdiri sejak tahun 1970 serta memproduksi  sepatu berkualitas dan hasilnya di import ke beberapa negara. .

 “Bismillah, semoga Allah memberi kemudahan di hari pertamaku kerja,” demikian doa Alina sebelum melangkahkan kaki.

Penampilannya sangat cantik dengan memakai setelan atasan warna biru laut dipadu bawahan  dongker memberi kesan  tampilan  berbeda.

Sesampai di gerbang perusahaan itu Alina memasuki pintu pertama bertemu dengan Satpam,  ada pemerikasaan barang bawaan. Biasa sebagai standart baku di perusahaan tersebut.

Setelah pemeriksaan barang bawaan selesai, Satpam memberitahu beberapa aturan yang harus ditaatinya lalu menunjukkan kepada Alina ruangan kerjanya.

Saat memasuki ruangan tempat ia bekerja,  Alina sempat bertemu dengan seorang supervisor dan menerima penjelasan beberapa hal terkait aturan bekerja dan lainnya.

Didampingi seniornya, Alina mulai mempelajari cara- cara mengelem sepatu, lalu dengan hati- hati dicobanya. Tak terasa waktu demikian cepat dan pekerjaannya telah selesai. Semua pegawai berkumpul untuk pemeriksaan  barang bawaan stelah selesai barulah boleh pulang.

*****

Perjalanan malam telah berlalu, dan bertepatan kumandang adzan subuh. Dan saat itu pula Alina menyemangati diri bangun dari tidurnya dan mengerjakan kewajiban rutinnya.

Setelah selesai sholat Alina menyiapkan sarapan untuk bibi dan dirinya, sebagian di bawanya untuk bekal makan siang di tempat kerjanya.

“Bi, Alina berangkat dulu ya,” pamit Alina sembari mencium kedua tangan bibi.

“Ya Lina, hati–hati di jalan,” pesan bibi.

Bibi menatap kepergian Alina dengan perasaan haru, perempuan yang sudah lima tahun hidup sendiri itu kondisinya kini semakin memprihatinkan. Penyakit jantung yang dideritanya kadang kambuh secara tiba tiba. Setiap hari bibi harus minum obat, oleh karena itu untuk membantu bibi membeli obat Alina harus segera bekerja setekah lulus sekolah.

Memikirkan kondisi bibi yang sakit menyebabkan Alina tidak focus ketika bekerja.

“Hai, kamu! Mengapa lama sekali kerjamu?  Kalau seperti ini kapan selesainya?,” tiba-tiba ada suara membentak.

“Saya maksud ibu?” jawab Alina terbata-bata karena takut.

“Siapa lagi, ya kamu lah!”

“Baik bu.”

“Kerja yang benar!, ” ujarnya supervisor agak ketus.

Mendengar teguran keras  itu, wajah Alina menjadi pucat pasi. Tak disangka pekerjaan yang dilakukannya membuat supervisor marah besar. Hampir saja butiran jernih mengalir  dari pipinya yang mulus. Ditahannya sekuat tenaga agar bulir-bulir air matanya tidak jatuh.

  Pengalaman pertama ini menjadi cambuk bagi  Alina agar lebih hati-hati dan giat serta terus belajar supaya tidak mengecewakan atasannya.

Setelah sholat dan makan siang, Alina kembali ke pekerjaannya, kali ini mencoba lebih cepat agar memenuhi target. Ia laksanakan sebagaimana harapannya.

Angkot yang membawa Alina pulang menyusuri jalanan, meski kerap dihadang kemacetan.  Bafru menjelang maghrib Alina sampai di rumah. Seperti biasa bibi telah menunggunya di sambil menggenggam dengan harap-harap cemas.

“Assalamu’alaikum bibi,” seru Alina di halaman rumah.

“Wa’alaikum salam nak,” jawab bibi pelan dan tampak bergetar.

 “Bibi kurang sehat , ya?,”  tanya Alina khawatir.

Adzan mulai berkumandang bibi masuk sembari  menutup pintu dan jendela. Di dalam rumah itu sangat tenang karena penghuninya khusuk beribadah. Selesai sholat maghrib mereka makan malam bersama dipenuhi dengan  cerita dari Alina.

*****

Tengah malam Alina terjaga, sembari melihat jam bergumam, masih malam rupanya. Ditariknya kembali selimut dan tanpa menunggu lama, terlelap lagi.

Namun kali ini Alina bangun tidur benar-benar terlampaui. Kesiangan. Ternyata sinar matahari telah menyebar ke sejumlah celah.  

 “Kemana bibi?, kenapa nggak ada di ruang tamu?,” Alina tengok ke kamar bibi namun tampak tertutup. Diliputi rasa penasaran, Alina mencari di sekitar rumah, karena tak menemukan sosok bibinya. Ia bergegas membuka pintu kamar bibinya namun justru yang tampak tubuh bibi terlentang lemas diatas difan dan bernyawa. Seketika itu pula Alina menangis dan sadar bahwa bibinya sudah tiada.

 Tangis Alina makin menguat melihat tubuh bibi tetap bergeming meski telah digoyang-goyangkan berkali-kali. Tangisannya demakin menjadi dan  tak tahu harus berbuat apa, pikirannya benar-benar buntu.

Setelah mereda dan sedikit tenang  barulah mampu berfikir lebih jernih dan  ingat apa yang harus dilakukannya. Sembari terisak ditemuinya tetangga samping rumah.

Bu Difta paling dekat rumah bibinya, bergegas menuju rumah Pak RT yang ada di ujung gang. Setengah berlari dan sambil memberi kabar pada para tetangga sekitar tentang meninggalkan dunia bik Minah atau bibinya Alina.

Para tetangga mulai berkumpul di rumah, begitu pula petugas yang memandikan jenazah  telah menyelesaikan tugasnya. Terdengar lantunan tahlilan dari para pelayat penuhi seluruh ruangan yang tidak cukup besar itu.

Alina duduk bersimpuh di samping jenazah bibinya  dengan beribu pikiran hinggap di kepalanya tanpa diundang dan sulit dilawan. Sedangkan Bu Difta duduk tepat di sisi kanan Alina. Sambil menyapa beberapa tamu yang hadir memberi ucapan bela sungkawa.

Prosesi pemakaman telah usai. Alina terdiam, hanya sesekali terdengar desah napas yang berat dan terselip doa di dalamnya.

Dan selanjutnya kini Alina hanya menempati rumah itu sendirian sejak   kepergian bibinya. Kerabat jauh sudah kembali ke rumah masing-masing.   

Masa berkabung dilupakannya sejenak, walau dalam hatinya terasa berat. Alina berjanji pada dirinya sendiri untuk mengubah kehidupannya seperti yang diinginkan bibi semasa hidup. Dia mulai menabung. Sudah lama dalam pikirannya ingin kredit  motor, agar cepat sampai di tempat kerja.

 “Alina, Alina. Assalamualaikum!,”  suara itu terdengar dari luar rumah. Waktu menunjukkan hampir pukul 10 malam. Ia ragu dan khawatir. Siapa yang datang malam-malam begini?, gumamnya dalam hati.

Setekah menjawab salam, Alina segera keluar menemui tamu malam-malam itu. Namun tak disangka tamu yang ternyata anak kandung bibi itu tiba berucap dan mengultimatum agar dirinya segera meninggalkan rumah  yang ia tempati bersama bibinya itu.

 Alina menggeleng-gelengkan kepalanya dan ia kebingungan.,Alina terdiam, hampir saja ledakan besar terjadi lagi di kepalanya.

Alina hanya bisa terdiam ketika  tamu itu pergi. Dengan perasaan kalut lalu  menutup rapat- rapat pintu depan, dan berjalan menuju kamarnya. Ucapan orang itu mengusik ketenangan hatinya. Ada rasa tak percaya, selama ini bibi tak pernah bercerita kalau ia memiliki seorang anak. Mamang pun tak berpesan saat kematiannya waktu itu. Kecamuk dalam hati dan  pikirannya tumpah ruah jadi satu, sesak menyusupi dada dan mengaliri seluruh sendi hingga tak terasa menapak di bumi.  Buntu.

Butiran bening  menetes hangat di pipi, sesekali disekanya, namun butiran itu semakin deras berjatuhan. Malam kian larut. Alina tak mampu pejamkan mata. Apa yang harus diperbuatnya esok pagi, benar benar tak tahu.

Kumandang adzan subuh sayup terdengar, dengan langkah lunglai Alina menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu untuk tunaikan sholat subuh. Sambil berpikir keras antara merapikan baju  baju untuk dimasukkan ke tas atau bersiap kerja. Setelah sarapan dan mencuci  piring. Alina bersiap untuk berangkat kerja.

Di tempat kerja kegiatan seperti biasa dilakukannya, kini Alina sudah terampil  mengelem dan terbiasa dengan bau lem yang menyengat. Tak ada lagi teguran atau pun marah-marah atasannya. Alina pekerja  ulet dan selalu mampu lampaui target.

Jam kerja usai, setelah pamit pada rekan kerjanya Alina cepat-cepat naiki angkot. Di depan rumah sudah berdiri dua orang laki-laki. Tak asing baginya laki laki itu, karena baru saja semalam ditemuinya.

“Neng Lina, kenapa tidak segera meninggalkan rumah?,” ujar laki-laki dengan kalimat agak kasar.

Akhirnya terjadi pembicaraan yang tampak sedikit saling ngotot.

“Kalau begitu apa saya bisa bertemu dengan orang yang mengaku anak bibi saya?,” timpalnya.

Namun tampaknya ia menolak, entah apa alasannya. Alina curiga, jangan-jangan orang ini memanfaatkan luang kelemahan dirinya.

Laki-laki itu dengan kasar mendorong  tubuh Alina hingga tersungkur. Alina tidak bisa berbuat banyak, karena memang tidak ada bukti yang sah untuk mempertahankan rumah yang ia tempati sejak masa kanak bersama bibinya.

Dengan terpaksa Alina mengambil beberapa potong baju dan dimasukkannya ke tas, Alina memang tidak punya koper untuk membawa banyak baju, dan yang dimilikinya hanya tas ransel ukuran sedang. Alina menuju kamar Bibi dan mengambi foto Bibi beserta dirinya yang terpajang di dinding kamar.

“Sudah selesai belum?!,” teriak laki-laki itu dari luar.

Alina masih tetap terpaku menatap tempat tidur yang sudah tujuh hari tak ditempati pemiliknya. Sambil menyeka air mata Alina keluar tanpa menghiraukan kedua orang itu, terus berjalan entah kemana langkah kaki itu membawanya.


*****
Siti Asiah  lahir di Tangerang pada tanggal 1 Februari 1972.      Anak ke enam dari 7 bersaudara. Ia menempuh Perguruan tinggi di IKIP Muhammadiyah Jakarta. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tahun 2010 melanjutkan pendidikan Pasca Sarjana di UHAMKA Jakarta dengan jurusan yang sama. Saat ini ia mengajar SMA Negeri 4 Tangerang.Beberapa karya yang dihasilkannya antara lain; LKS  “Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik”  untuk kelas XII ( 2015) digunakan untuk kalangan sendiri. “Kumpulan  Beberapa karya ilmiah “Keterampilan Menulis Memupuk Kegiatan Jurnalistik di Sekolah”, (Mandiri, 2016).  “Melatih Hidup Disiplin dan Bertakwa  Melaui Kegiatan Pramuka” (Mandiri, 2016). Satu Novel yang ber ISBN dengan Judul “Sembilu Mengiris Langit”. (2017) Pustaka Media Guru, Surabaya. “Mahalnya Pendidikan Bermutu ditinjau dari sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” (mandiri, 2016). Dua buku berISBN Himpunan Artikel PTK karya bersama “Kegiatan Perbaikan Pembelajaran”( 2018) Elmatera, Yogyakarta. Buku Kumpulan Pengalaman Guru yang terbaik “Kegiatan Belajar Mengajar”.( 2019), Elmatera, Yogyakarta. Buku Antologi Puisi “Pengabdian Seorang Guru”.(2020). “Buku Pedoman Guru” (Mandiri 2020).

 
 
 
 


POSTING PILIHAN

Related

Utama 6295415276523045439

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item