Kembali Ke Pelukan


Cerpen: Rosyidah Rohmah

Lembayung di langit senja menorehkan indahnya lukisan alam. Dan ini sebagai tanda kepada seluruh isi alam bahwa kini sudah waktunya untuk istirahat. Dan saat bersamaan alunan merdu orkestra tonggeret jantan ikut meramaikan nyanyian selamat datang untuk Dewi malam. Tingkatan nada yang berbeda, membentuk paduan irama lagu alam sebagai pemanggil kawanan yang sama; serangga spesiesnya, sinyal  penanda bahwa musim kawin tengah terjadi.

Di tengah riuhnya orkestra itu, Fadeli tergopoh- gopohlah turun dari masjid Hidayatullah. Masjid  wakaf Haji Ali yang berjarak sekitar limaratus meter di sebelah utara  rumahnya. Sedang Suparmi istri Fadeli sibuk di dapur menghangatkan sayur untuk makan malam mereka.

Demikian pula warga dusun Banyu Gede lainya. Saat senja turun, terlihat banyak penduduk memanggul cangkul, menenteng alat pertanian dari sawah. Ada yang menggiring ternak kembali ke kandang, dan memberi upah rumput serta comboran dari limbah tahu dan garam kepada sapi mereka sebagai ucapan terimakasih bahwa telah bekerja keras hari ini membantu petani membajak sawah.

“Kopine, Pak,” ujar Suparmi saat mendengar langkah kaki mendekat.
“Iya, tak nyumet lampu bale disik,” jawab Fadeli.

Rumah sederhana keluarga Fadeli ini terletak di desa Banyu Gede, juga merupakan salah satu dari 220 desa yang berada di Kabupaten Blitar, termasuk desa yang dilewati aliran lahar dingin saat  gunung Kelud meletus beberapa tahun lalu karena letaknya hanya sekitar 20 km dari gunung yang melahirkan hujan abu saat itu.

Rumah sederhana itu kini tampak sepi, kecuali hanya mereka berdua menempati. Apalagi setelah anak bungsunya, Ninis tahun lalu harus diboyong suaminya ikut pindah ke Jakarta, kesepian Fadeli dan istrinya nampak terasa

Pasangan suami istri ini sebenarnya punya tiga anak, Ali si sulung, dan Zulaikha, namun mereka telah berkeluarga dan enempati rumah masing- masing.

Sebagai guru ngaji di kampung, Fadeli termasuk orang yang berpandangan  maju untuk urusan mendidik anak. Dia dan istrinya yang sama- sama hanya lulusan tsanawiyah, tidak ingin anak-anaknya merasakan kurang pendidikan seperti yang ia alami. Namun untung Fadeli sempat melanjutkan mondok di salah satu pondok pesantren salaf di daerah itu. sehingga dia termasuk salah satu orang yang cukup dipandang di desanya.

Meski dengan perjuangan berat, suami istri dianggap berhasil menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke bangku perguruan tinggi. Itu hal yang langka bagi lingkungan lingkungan mereka, mengingat pandangan keberhasilan yang lumrah di dusun Banyu Gede tak lebih dalam usaha klise dan tidak menguntungkan.

“Nyapo sekolah duwur–duwur lak ora njamin sugih;”  (mengapa sekolah tinggi kalau tidak menjamin kekayaan), demikian kerap diungkap oleh warga masyarakat setempat.

Lebih baik uang buat modal kerja ke luar negeri (TKI/TKW) pulang bisa membangun rumah, atau buat modal dagang. Dan mereka kebanyakan belum memandang pentingnya hakikat pendidikan.
Istirahat Lek Mi, ngaso dulu!, kok sampeyan isuk sore nggak leren blas yo? Opo nggak kesel?” kataYu Rah,tetangga samping kanan rumah, saat Suparmi tampak sibuk memecah batu kali, yang diambil Fadeli pagi tadi.
Nggak Yu Rah, lumayan iso nggo tambah sangune bocah-bocah,” sahutnya dengan tenang.

Salah satu berkah dari lahar gunung Kelud adalah melimpahnya material batu dan pasir yang bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar, termasuk keluarga Fadeli. Jika tidak ada garapan sawah, atau masa tunggu panen, mereka akan memecah batu atau menambang pasir. Saat pasir atau pecahan batu sudah dirasa cukup, akan ada pengepul yang mengambil dan dibawa ke pembeli, bahkan ke luar daerah juga.

Fadeli dan Suparmi melakukan pekerjaan apa pun yang dianggap halal, hidup sederhana dan berhemat, begitu prinsip hidupnya, asal ketiga anak mereka bisa sekolah dan terpenuhi kebutuhan pokoknya, itu sudah cukup. Karena Fadeli mempunyai prinsip, anak adalah amanah orang tua, yang kelak diminta pertanggung jawabanya di akhirat. Prinsip itu juga dia tanamkan ke anak-anak mereka.

Dan hasilnya, sekarang ketiga anak mereka sudah berhasil tamat dari bangku kuliah semua. Ali, sebagai insinyur pertanian, sekarang bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten, dan telah membangun rumah tidak jauh dari rumah tinggal orangtua mereka. Anak kedua, Zulaikha juga diangkat ANS sebagai guru SD dan ditempatkan di Kabupaten Kediri. Sedang Ninis, si bungsu lulusan seni tari ini banyak melanglang ke sejumlah daerah untuk mengikuti prfesi kerja sang suami. Jadi tempat tinggal berpindah-pindah.

“Alhamdulillah yo Mak’e Ali, kita harus bersyukur. bocah–bocah wes mentas kabeh,” ucap Fadeli sambil menyesap kopi pagi itu. (Mak’e Ali adalah panggilan Fadeli untuk Suparmi, dimulai sejak dia melahirkan Ali si anak sulung sampai sekarang. Suatu kebiasaan atau ungkapan sayang bisa jadi)

“Nggeh Pak’e”

Masiho omah saiki sepi, nanging aku seneng, bocah – bocah wes iso disawang kabeh.  tugase awake dewe wes purna,” lanjut Fadeli

“Didungakne wae, mugo sehat lan lancar kabeh uripe bocah – bocah, Pak ” jawab Suparmi.
“Iku wes mesti, mbendino. ora lidhok mengko kabeh yo bakale dewe-dewe lak wayahe bali.”. Fadeli meyesap kopi terakhirnya, kemudian berdiri mengambil cangkul dan sabit. Hari ini waktunya matun, yakni membersihkan rumput dan gulma diantara tanaman palawija agar panenya nanti melimpah.

*****

Suatu saat, menjelang subuh

Suara dering gawai tak berhenti berbunyi di pagi yang gerimis itu. Jam dinding menunjukkan menunjukkan angka 04.00 pagi. Langit masih tampak temaram dan agak gelap. Ninis tertidur di atas sajadah, setelah saholat tahajud satu jam lalu. Mukena yang dikenakan masih utuh menutupi auratnya. Dering gawai yang tak jauh dari tempat sholatnya sayup-sayup menyusup di telinganya. Namun beberapa saat kemudian ia meraih benda kecil itu, meski masih dalam kantuk.

“Hallo. Waalaikumsalam mas,” jawab Ninis menimpali suara kakaknya, Ali dari seberang sana.

“Nis, Wira sudah bangun?, tolong sampaikan aku ingin bicara,”  suara Ali tampak penting.

Secepat itu pula Ninis menyerahkan gawainya pada suaminya.
“Wir, tolong kamu dengarkan, jangan sampai Ninis kaget.” Ungkap kakak iparnya. Ali tidak ingin adik bungsunya yang lagi hamil muda itu kaget.

Sambil mendengarkan suara dari seberang, sesekali dia melirik istrinya yang wajahnya dipenuhi rasa penasaran. Wira mencoba mengatur ekspresi raut wajah dan berusaha setenang mungkin mendengarkan penjelasan kakak iparnya itu.

Suasana hening. Dan saat bersamaan suara adzan subuh berkumandang dari masjid komplek. Wira pun memutuskan untuk mengajak istrinya sholat subuh berjamaah dulu. Baru kemudian menyampaikan kabar berita dari Ali.

Mendengar berita dari Ali yang disampaikan Wira, tubuh Ninis tiba-tiba lunglai. Ia menangis sejadi-jadinya. Berita itu benar-benar menghantam jantung dan hatinya yang menjadikan pilu mendalam.

Diputuskan, hari ini pula mereka harus pulang ke kampung halaman Ninis di Blitar. Kegalauan dan kegeliasahan Ninis tampak sekali menyelimuti wajah istri Wira selama perjalanan.

“Bapak wes sedo nduk,” itu sapaan awal setiap di rumah orang tuanya.
“Sing ikhlas ya, ben Bapak jembar dalane,” suara mamak ibu Ninis lirih tanpa air mata.

Setelah itu terjadilah tangis Ninis mengharu biru suasana belasungkawa itu. Para saudara, kerabat dan para tetangga tampak berkumpul dalam uantaian duka cita.
Ninis menciumi wajah laki yang sudah tua itu. Di bibirnya tampak senyum meski  dalam bujur dan diam.

“Bapak sangat tampan, wajahnya bersih, harum dihiasi senyuman,” desah Ninis dalam hati.
Prosesi pemakaman pemakaman teah diselesaikan dengan khitmad. Smpai hai ke tujuh masih berdatangan para kerabat dan handai taulan untuk taksiah di rumah duka

Dari penuturan para saudara dan kerabatnya menyebut wafatnya Fadeli tidak ada gejala sakit, atau jatuh atau apa pun. Namun Tuhan ternyata berkehendak lain meskipun sebelumnya Ali telah membawanya ke rumah sakit agar tertolong.

Ada kenangan yang terbersiht dalam diri Ninis. Suatu ketika saat ia dari kamar mandi, melihat Suparmi, ibunya, tidur sambil memeluk selimut lorek kesayanganya. Segera Ninis hampiri mamaknya itu. Dan seperti menyadari maksud kedatangan anaknya, Suparmi berkata:

“Mamak, nggak kesepian kok nduk?” mata sayunya menyiratkan kebohongan, berlawanan dengan perkataanya barusan.
“Ninis pingin tidur sama Mamak malam ini.”
“Wes, ora usah. Kono kembali ke kamarmu. Baturi bojomu!” tolak Suparmi sambil mendorong anaknya keluar. Tapi Ninis tetap membandel, naik dipan dan memeluk mamaknya dari belakang.

Setelah kepergian Fadeli, biasanya anak- anak mereka bergantian untuk tidur di sana. Kadang Zulaikha kadang juga Ali. Mereka sepakat untuk tidak membiarkan Suparmi kesepian.

“ Wes to kono, mesakne bojomu,”
“ Mas Wira lho ngijinin, kalau aku tidur sama Mamak” Ninis mengeratkan pelukan.
Aku sing nggak kasih ijin Nduk,” jawab Suparmi.

Suparmi selalu menekankan kepada anak- anak perempuanya, bahwa yang menjadi surga bagi mereka adalah para suaminya. Bakti ke suami lebih penting dan harus diutamakan. Kalau suami anak perempuanya ridho, Alloh ridho, maka itu akan mengantarkan dia ke surga juga. Karena memiliki anak perempuan yang sholihah. Sesederhana itu.

“Mamak mung kangen Bapakmu,” akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut Suparmi, sambil matanya nanar menatap tembok.
“Iya, nanti kalau Bapak datang tak bilangne Mamak kangen” jawab Ninis enteng
“Hah?” Suparmi kaget sambil menoleh ke belakang melihat anak bungsunya itu.

“Lho, Bapak kan masih ngaji manaqiban di masjid, Mak?” akhirnya mereka berdua tertawa.
 “Wes kono, ndang bali ke kamarmu kono!” akhirnya suparmi benar-benar mengusir anaknya untuk kembali ke kamarnya sendiri.

Hari-hari terus melangkah, dan masa duka mulai sirna. Seperti hari-hari sebelumnya, pagi ini keluarga sederhana kerap berkumpul ketika ketiga anaknya menikmati libur kerja. Apalagi kondisi Ninis sedang hamil, butuh ketahanan tubuh dan mental agar bila kelahiran anaknya pertamanya kelak berjalan lancar dan normal.

Memang sementara ini Ninis menetap di rumah ibunya sekedar keriuhan suka cita.

*****

Rosyidah Rohmah, lahir di Blitar, 23 Nopember 1980. Ibu dari seorang putra, istri dari seorang suami. Antusias dan masih sedang belajar dalam bidang penulisan. Jejaknya bisa di temukan di akun instagram @ocix08. Suka bernyanyi walau tak diberkahi suara indah. Menonton film dan membaca adalah kesukaan yang lain. Berkeinginan bisa menelorkan buku sendiri. Saat ini masih setia menemani belajar fisika dengan anak didik di SMA Hang Tuah 2 Sidoarjo. Hidup adalah ‘saat ini’, jalani-nikmati-syukuri. Perihal  ‘nanti’ adalah rahasia Ilahi.   



POSTING PILIHAN

Related

Kabar Rulis 9054386724702424157

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item