Kehadiran "Takhayul" di Era Digital


Maimun Main


Science without religiion is blind and Religion without science is lame (Albert Einstain)

Ilmu tanpa agama buta dan Agama tanpa ilmu pincang. Demikian kalam mutiara dari ilmuan yang bernama Albert Einstain. Bagi pelajar tentunya kalam mutiara ini sudah tidak asing lagi. Maka mengutipnya di sini hanya sebatas bernostalgia dengan kalam yang ditahun 2004-an amat sangat populer di telinga ini

Tentu di tahun sebelum itu kalam dari sang maestro fisika ini sudah amat sangat lazim di telinga para akademisi. Sebab para senior saya di Perpus sudah sering mengutip kalam sakral itu di beberapa kesempatan

Jadi bermula dari lisan para senior itulah saya bisa tahu dengan kalam tersebut. Selanjutnya sering bertemu dengan beberapa buku yang isinya soal agama dan sain. Atau bisa di temukan di balik buku filsafat dan buku ilmiah lainnya. Yang penting suka baca, insyaAllah pasti bertemu dengan kalam mutiara itu

Ada dua redaksional dari kalam diatas. Ada yang menggunakan kata "Faith" dan ada yang menggunakan kata "religion". Yang menggunakankata "religion" sebagaimana diatas, sedangkan yang memakai kata "faith" seperti ini: Science without faith is blind, faith without science is lame. Jadi artinya, ilmu tanpa iman adalah buta, iman tanpa ilmu adalah pincang

Jadi antara ilmu dengan agama memiliki hubungan yang sulit di pisahkan. Keduanya senyawa dalam tubuh yang berbeda. Jika ada yang mau memisahkannya, tentu konsekuensinya antara buta dan pincang. Sama-sama cacat dalam dataran realitasnya jika keduanya tidak diajak bareng

Dari dikotomi ilmu agama dan ilmu umum inilah akhirnya muncul gap yang begitu kuat yang konotasinya tidak enak di dengar. Misal, ilmu agama itu hanya untuk urusan akhirat sedangkan masalah dunia tidak ada gunanya belajar ilmu tersebut. Bahkan terkadang muncul pandangan yang mengatakan bahwa ilmu agama yang mendatangkan kemerosotan suatu negara

Eksistensi ilmu agama dan umum itu tidak sekedar hanya pemetakan belaka. Parahnya lagi sampai melahirkan fans dari keduanya. Ketika realitasnya seperti ini, yang ada justru "hater" dan "Lover". Dua terminologi ini tidak sesederhana mengucapkan dan mengdengarnya

Kedunya menjadi hambatan yang cukup berarti terhadap laju dari dua fan keilmuan tersebut.

Makanya sampai ada orang tuanya yang tidak mau anaknya mencicipi ilmu umum sama sekali. Dari PAUD sampai perguruan tinggi semuanya dibawah naungan pendidikan agama

Justru ada yang sebaliknya, si anak di proyeksikan menjadi anak yang ahli dibidang ilmu umum. Si orang tua alergi dengan yang namanya pendidikan agama. Sebab di matanya ilmu agama hanya berkorelasi dengan kolot, jumud, konservatif, anarkis, teroris, fatalis, tidak up to date dengan perkembangan zaman, suka mengklaim, hobbi menjustis, dan sederet stigma negatif lainnya

Dalam dunia selebritis realitas ini disebut "pembenci" dan "pemuja". Sesungguhnya fakta ini butuh didiagnosa sedini mungkin, agar penyakit yang cukup mematikan laju perkembangan keilmuan anatara ilmu agama dan umum segera menemukan obat mujarabnya

Ada cerita lucu dari polarisasi diatas. Seorang kiai yang sedang mengisi ceramah berapi-api memberikan tausiah keagamaannya. Di part time beliau meminta agar hadirin yang hadir agar tidak menyekolahkan anaknya ke pendidikan umum. Karena ilmu umum entitasnya tidak signifikan bagi kehidupan

Lantas salah seorang mustami' yang hadir menggerutu dalam hatinya. "Kenapa kiai ini yang kok telat mikir, emang mikrofon yang di pegang hasil dari ilmu apa?" Begitu cerita orang tersebut kepada alfaqir di pondok dulu. Di kala itu saya masih duduk di madrasah Tsanawiyah. Jadi mendengar cerita ini hanya sebatas ketidak setujuan beliau kepada pernyataan sang muballigh Dikotomi ini sesungguhnya benang kusut dari realiatas yang bernama akademik.

Dualisme pendidikan ini sudah pernah dibahas di panggung ilmiah internasional. Bahkan Sekjen International Conference For Islamic Scholars (ICIS) KH A Hasyim Muzadi menegaskan bahwa tidak ada dikotomisasi ilmu. Klasifikasi yang ada selama ini hanya bertujuan untuk spesialisasi saja

Harun Nasution dalam bukunya, Pembaruan dalam Islam menyebutkan bahwa di bidang sains muncullah nama Ibnu Hayyan, al-Khawarizmi dan Ar-Razi. Saintis muslim tersebut tidak pernah memisahkan  ilmu pengetahuan dengan agama

Pandangan dikotomis itu sejatinya bertentangan dengan ajaran islam yang sebenarnya. Karena di dalam islam memiliki ajaran integralistik. Urusan agama duniawi tidak bisa dipisahkan dengan urusan ukrawi pun demikian sebaliknya

Melihat realitas diatas, Naquib Al-Attas dan Ismail Raji Al-Faruqi mempopulerkan dan mengusung konsep islamisasi ilmu pengetahuan. Amat sangat panjang kisah ini jika mau diketik di sini, jadi kalian bisa di cari sendiri di berbagai referensi untuk mengetahui kisah lengkapnya. Namun yang jelas menurut Al-Faruqi yang mendatangkan dikotimasasi ilmu dikarenakan kemunduran umat islam dalam berbagai bidang. Lengkapnya bisa dibaca di buku Fachri Ali Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam

Nama Al-Attas dan Al-Faruqi cukup populer di telinga anak yang mengambil jurusan pendidikan islam. Nama keduanya sering sekali dilontarkan di berbagai forum ilmiah. Ditambah di dalam kelas lebih sering lagi diucapkan oleh lisan-lisan calon para sarjana pendidikan islam. Jadi InsyaAllah nama keduanya bagi anak jurusan pendidikan islam sepopuler nama Aldebaran dan Amanda Manopo saat ini

Kedua tokoh tersebut cukup memiliki panggung dan daya tarik untuk selalu dikutip dan diperbincangkan. Mendiskusikan konsep-kosnsep islamisasi ilmu pengetahuan merupakan tema yang memicu adrenalin para akademisi. Namun sayang sejuta naif, diskusi-diskusi itu hilang ditelan masa. Kok bisa?

Jawabannya, karena justru negeri ini masih saja tabu dengan yang namanya ijtihad saintis. Di saat dunia mengakui akan adanya pandemi covid 19, negeri ini masih saja ngeyel soal virus yang mematikan ini. Kenapa ngeyel? Karena soal kematian sudah ditangan Allah SWT. Kenapa tidak percaya akan hasil uji klinis? Karena medis bukan bagian dari agama. Medis lahir dari ilmu umum. Medis bukan ilmu soal tata cara sholat, wudhu', tayammum dll. Jadi percaya kepada medis itu naif dan bisa kafir

Semoga kalian generasi harapan bangsa dan negara, akan meng-counter paradigma jahiliyah ini. Kami dengan segenap jiwa dan raga akan mendidik dan mengajar kalian untuk bisa menjadi penawar bagi virus kebodohan yang ada di negeri ini

Kalian yang akan menggawangi kemajuan bangsa ini. Kalian di proyeksikan tampil sebagai pioner dan menjadi agent of change di setiap lini kehidupan bangsa ini. Kawal perubahan di negeri ini, jangan sampai kami para guru kalian mendengar bahwa kalian justru yang menjadi batu sandungan untuk kemajuan di negeri

Lima belas tahun kedepan, masa depan negeri ini sudah ada di pundak kalian. Bopong negeri ini ke level peradaban yang maju. Tolong jangan di amputasi lagi bangsa ini dengan KKN dan khurafat. Giring negara ini menjadi negara yang diperhitungkan di kancah internasional

Pulau tercinta ini kembali viral dengan menghadirkaan part "takhayul" di era digital ini. Ada sebuah kepercayaan kuno yang mengatakan bahwa untuk menghentikan kemantian beruntun di sanak famili seseorang, maka yang memikul keranda ke kuburan harus perempuan. (Lihat di status kiai atas nama: Nur Hasyim S Anam II)

Ditambah dengan syarat, para perempuan tersebut harus melepaskan kerudungnya. Artinya memikul mayat dengan rambut terurai. Maka sepertinya covid 19 ini bukan hanya menyerang badaniyah saja, akan tetapi keimanan juga ikut terongrong. Akal sehat dan amaliyah bernash sepertinya tidak mampu memberikan solusi dari masalah yang datang saat ini

Maka kalianlah yang kami harapkan untuk bisa mendobrak khurafat yang ada sekaligus mampu menciptakan kondisi masyarakat yang ilmiah. Dualisme tarbiyah itu sama-sama kami ajarkan kepada kalian. Agar kelak kalian mampu "survive" dari tantangan zaman yang tentu lebih parah dari zaman kami sekarang

Terakhir dari kami, ambillah falsafahnya padi, semakin berisi semakin merunduk. Tetaplah sambung sanad keilmuan kalian dengan para guru-guru kalian dengan cara mendoakan dan mengamalkan apa yang telah diajarkannya. InsyaAllah kalian akan tetap menjadi orang yang "pojur" fiddun-ya wal akhirah. AAmiin...


POSTING PILIHAN

Related

Utama 2504055928303312264

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item