Jula-juli Hidup Parmin

 


Cerpen:  Sri Ariefiarti Wijaya
    
Tuku wesi nang pasar loak,
Muleh awan lek lewat dupak.
Gak peduli wes anak-anak,
Nggudo prawan  ketatap becak


Jula-juli Parmin menyapa pagi yang cukup cerah. Tangannya sibuk mengelap sepeda kumbang kesayangannya.

 “Kapan siaran, Min?,”  tanya Leman sembari senyum pada Parmin. Parikan lucu itu membuat Leman tak bisa menahan senyum dan berhenti sejenak.

“Gak ada kabar. Lama-lama orang juga sudah lupa.”   Laki-laki itu menghela napas sambil meneruskan mengelap sepeda merk Ralley kesayangannya.

“Lha tanggapannya kapan?”

“Tanggapan opo, Man? Nggak ada tanggapan!,” sahutnya.

“Pak Pono?. Jadi nanggap nanti pas sunatan?,”. Leman masih bertanya penuh harap

“Tarifnya belum cocok! Nawarnya segitu, yo ora cukup untuk mbayar tukang tabuh.”. Wajahnya tampak muram.

“Mudah-mudahan Pak Pono jadi  nanggap,” ujar Leman berujar penuh harap.

Parmin diam. Setelah Leman berlalu ia kembali merasakan perih yang tadi coba ia lupakan. Panjak ludruk yang masih bertahan itu duduk di teras rumah, biasa tempat berkumpul tujuh orang pemainnya. Dari sinilah cerita bergulir setiap Jumat malam. Diperdengarkan siaran langsung di radio  Minggu siangnya. Rumah sempit itulah saksi cerita keseharian masyarakat kelas bawah. Mengalir dari buah pikiran yang turut menjalani hidup susah di dunia nyata.

Tak hanya Parmin, Wartini  juga sebagai pemain utama,  ia nikahi ‘kembang’ di kelompok itu 30 tahun yang lalu. Namun sayang dari perkawinan itu tidak menghasilkan anak, hingga usia  sudah menapaki senja.

Dulu, pernikahan adalah musim panen baginya. Rezeki mengalir lebih banyak, meski cukup untuk membayar hutang yang lebih dulu menumpuk di bulan sebelumnya. Kini seiring waktu, bukan  ludruk yang mereka tanggap tapi orkes dangdut yang lebuh banyak peminatnya. Goyangan aduhai  dianggap lebih memuaskan  banyak orang dibanding drama yang ia kelola dengan cara sederhana. Cerita yang tak pernah bernaskah itu malah dicap kesenian masa lalu dan tidak layak dalam era sekarang ini.

“Leman ngomong opo tadi?,” Wartini yang tengah merapikan properti Tari Remo penasaran dengan obrolan suaminya dan Leman.

“Dia tanya apa Pak Pono jadi nanggap kita,” sahut Parmin

“Leman itu penonton setia. Dia pasti duduk paling depan setiap kita tanggapan,” sahut Wartini seraya menghela nafas panjang yang menyiratkan penyesalan.

“Bukan cuma Leman,  banyak yang ingin mendengarkan kita siaran lagi,” timapl Parmin dengan perasaan yang hampir sama.

“Tadi di pasar orang-orang  tanya kapan siaran. Kubilang mungkin bulan depan. Padahal mungkin tak akan pernah,”. Parmin terasa putus asa.

“Bu Tumini juga tanya kapan kelanjutan cerita ‘Pocong malam mingguan’ diteruskan,” bibir Wartini mengulas senyum.

“Oh iya, Karjo ikutan nguli ke Surabaya,” tambahnya

“Kang Darso malah ancang-ancang  mau ikut anaknya ke Kalimantan. Kalau Kang Darso keluar, tambah hancur kita.” Keluh Parmin sambil mengisap rokok tembakaunya dalam-dalam.

“Kita kehilangan pemain yang bagus.“ wajah Wartini sedih mengenang Darso yang sudah dianggapnya sebagai kakak sekaligus guru.

“Kang Darso itu lucu, pinter parikan dan  jula-juli. Sudah tujuh puluh tahun lebih tapi pinter komunikasi dengan penonton. Seorang diri tanpa musik pengiring. Musiknya ya mulutnya. Penonton mesti tertawa,” ungkap Parmin bangga.

“Kang Darso panjak sejati. Eman-eman,” sahut Wartini

“Tak ada yang bisa melarang mereka pergi”

“Karena ini bukan soal kesetiaan, ini soal perut”

“Tak ada yang bisa jadi bos di antara kita. Sama-sama dari kelas bawah.” Timpal Parmin senyum kecut tersungging di sudut bibir laki-laki yang selalu menjadi tokoh protagonis itu.

Obrolan tak berlanjut, mereka berselancar dengan pikiran masing-masing. Tangan Wartini menata kain ikat kepala, baju putih, celana hitam selutut, batik pesisir, stagen, keris, dan selendang batik ke dalam tas besar yang sudah rusak retsletingnya. Dia harus terima kenyataan bila baju Tari Remo itu masih lama akan dipakai.  Pikirannya yang menerawang   jauh pun tak mampu menembus asa;  akankah baju itu pernah dipakainya lagi. Ludruk bukan hanya mata pencaharian baginya namun sekaligus nafas, gairah, dan kebahagiaan.

Dipakainya gongseng di kaki kanan. Kakinya gedrak-gedruk seperti saat ngremo di pentas. Kidungan  keluar dari bibirnya dengan gerakan kepala meski tak kentara. Mata tuanya memandangi foto kelompok  ludruknya bersama bupati di hari kemerdekaan. Bangga, berdiri di garda depan atas nama kesenian.

Parmin mematikan rokok yang belum lagi habis separo dengan gerakan yang terlihat gelisah. Sepasang pemeran utama yang penuh dengan ide cerita rakyat kecil itu tenggelam dalam lamunan. Lamunan yang lebih rumit dari cerita tanpa naskah yang biasa dengan mudah mereka mainkan.

***

Sedih  menjalari hati Parmin meski sibuk memotong karton bekas. Tak dipungkiri, berhentinya siaran ludruknya di radio menimbulkan luka. Lima belas tahun siaran langsung dan menjadi sutradara bukanlah sebentar. Lewat studio itulah  dia suarakan kata hati yang tumpang tindih merasuki sukma. Ide bermunculan, berakar dari kehidupan pribadi dan  angannya yang meliar .

Terbayang lagi saat tanggapan di luar kota. Umbul-umbul, panggung  yang tak seberapa besar, suara kasar dari genset adalah gairahnya. Deretan penjual makanan di kanan kiri pintu masuk tempat acara adalah ukuran keberhasilannya. Lampu-lampu pedagang itu bak lampu sorot yang menghidupkan cerita. Dia terus tertantang menawarkan cerita sehari-hari yang disesaki masalah kelas bawah. Rumah tangga, suami suka main judi, remaja yang nakal, gaji pas-pasan, uang belanja yang telat dan persoalan mikro lainnya adalah bahan yang terus dia ramu. Dibalutnya dengan suasana segar, mbanyolan, canda, sehingga tak ada yang merasa digurui apalagi diadili.  Semua tertawa terbahak tanpa menyadari mereka justru menertawakan hidupnya sendiri.

“Aku agak kliyengan, Pak!” suara Wartini membuyarkan lamunan Parmin.

 “Lha kamu makan ikan asin! Mungkin bludrekmu kumat.”

“Terus diganti daging sapi gitu?”

“Ya tidak,bu! Orang seperti kita ya bisanya mengganti dengan tempe atau tahu.”

“Aku wes bosen tahu tempe,Pak! “

Parmin tidak berusaha menjawab. Dia sudah bisa menebak akan kemana pembicaraan mereka nanti bermuara bila diteruskan.

Wartini duduk di kursi kayu biasanya. Diambilnya gongseng yang selalu dia letakkan di atas meja. Dia tak paham mengapa dia tertarik dengan benda itu. Lonceng-lonceng kecil yang berupa gelang kaki dari kain itu dibunyikannya satu-satu. Ada kerinduan menghentak-hentakkan kaki kanannya dan mendengar bunyi ‘cring cring’.  Bunyi yang menuju keharmonisan,  dinamika irama hidup yang hakiki.

Diletakkannya kembali gongseng di atas meja. Dia tuju cendela kecil dekat tempat duduknya. Matahari yang masih sepertiga naik langsung menyapa wajah pucatnya. Pandangannya mengarah pada pohon labu yang dia tanam dua bulan lalu. Batang lunak itu sudah merambat  jauh dari tempat semula dia taman. Sulur-sulurnya melilit mencari pegangan. Ada kesedihan terselip di hati Wartini yang merasa tak mampu berpegangan erat seperti sulur-sulur labu yang dilihatnya.

Sinar matahari yang sedikit terhalang pohon angsana, memancar hangat di wajah Wartini yang lekat menatap keluar lewat cendela. Lamat-lamat  Tembang Megatruh keluar  dari bibirnya yang agak gemetar.

Nalikane mripat iki wes ketutup
Nana sing bisa nulungi
Kajaba laku kang luhur
Kang ditampi marang Gusti
Aja ngibadah kang awon

Parmin menikmati tembang  seperti yang sering dilantunkan Wartini saat mereka hendak beristirahat. Tembang tentang perjalanan hidup manusia yang  akan  berpulang pada Sang Pencipta.

Tembang Wartini pagi itu belum  selesai. Tubuhnya tumbang di bawah cendela tempatnya berdiri.

***

Cerita ludruk itupun berakhir bersama kepergian Wartini. Tak pernah terdengar lagi jula-juli di rumah sederhana itu. Hanya tembang megatruh yang  terdengar tak kenal waktu. Parmin telah enggan menulis naskah hidupnya sendiri. Apalagi mengakhiri cerita sesuai angannya.

Bondowoso, Januari 2021


*****
Sri Ariefiarti Wijaya, S.Pd lahir di Bondowoso 16 Januari 1969. Bergabung sebagai pengajar Bahasa Indonesia di MTsN 2 Bondowoso. Mulai memberanikan diri menulis setelah 51 tahun. Bukan sebagai obsesi namun sebagai jawaban dari kegelisahan bersastra yang selama ini tak bernyali. Satu cerpennya yang berhasil menang sebagai juara ke-3 Lomba Menulis Cerpen Antar Guru MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Bondowoso adalah pembuka pintu baginya. “Merona Senja” yang berupa kumpulan cerpen. Kini nyala api itu terus membakar semangat. Karya bersama berupa puisi juga coba dirambahnya sebagai wadah untuk mengasah pikiran dan untuk meninggalkan jejak kenangan bagi siapapun yang menyukai sastra.


POSTING PILIHAN

Related

Utama 7979596896988104513

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item