Inikah Jalanku


Cerpen: Nurul Ainy Fauzan

“Ayo pulang kak!, langit mulai gelap, sebentar lagi akan hujan turun," ajak Bian, adik Aisyah pada dirinya.

Namun Aisyah tidak segera bersijingkat melangkahkan kakinya meninggalkan arena itu. Ia tetap saja menatap gundukan tanah yang masih basah dengan batu nisan "Darmini". Darmini adalah nenek Aisyah yang telah membersamainya selama ini, nyawanya tak tertolong setelah pagi tadi terjatuh di kamar mandi. Tragisnya peristiwa itu terjadi saat dia tidak berada di tempat untuk mendampingi sebelum ajal menjemput.

"Maafkan Aisyah nek, tidak bisa menjaga nenek, maaf juga atas segala sikap dan lakuku selama ini yang menyakiti nenek,” batinnya bersamaan tetap bening tampak di kelopak matanya.

 Aisyah beranjak dari area pemakaman diikuti adiknya Bian, yang sedari tadi setia menungguinya. Ia sangat oaham apa yang terjadi dan berkecamuk dalam diri kakaknya itu.

“Sabar dan ikhlas Aisyah, semua sudah kehendak Allah,” ujar Dira salah seorang kerabat Aisyah setiba di rumah. Sementara kerabat yang lain juga tampak sibuk mempersiapkan suguhan tahlilan yang akan di laksanakan setelah sholat maghrib nanti.

Aisyah mengangguk lemah, dan kemudian berlalu lalu masuk ke kamarnya. Diambilnya map berwarna kuning yang tersimpan di dalam almari kayu, kemudian Aisyah duduk di bibir ranjang sambil mendekap erat map tersebut.

Masih lekat dalam benak Aisyah saat melalui kilasan hari-hari bersama sang nenek. Tangis dan tawa yang tercipta tak kan pernah mampu dia lupa untuk selamanya. Bagai sebuah episode panjang semua terangkum dalam angan yang mengembara.   

Kilasan hari-hari Aisyah kembali menguak pada peristiwa hari sebelumnya. Pagi-pagi kemarin ketika terjadi kecamuk dalam diri Aisyah, ia berusaha mengurai kembali peristiwa itu.

"Aisyah kamu dipanggil kepala sekolah di ruangannya!," panggil Fahmi seraya menghampirinya.
"Ada apa?, temani aku ya, aku takut,".

Fahmi menggeleng.
Terpaksa Aisyah melangkah sendiri menuju ruangan kepala sekolah yang terletak di samping ruang guru. Melewati koridor panjang, Aisyah mengingat-ingat kesalahan yang mungkin pernah dilakukannya.

"Assalamualaikum." suara Aisyah bergetar.
"Waalaikumsalam, masuk Aisyah.”. Aisyah kemudian tepat di depan meja kepala sekolah.
 “Setelah lulus Aisyah akan melanjutkan ke mana?”
 “Belum tahu, Pak.”. Jujur dia memang belum tahu kemana akan melanjutkan sekolahnya.
"Ada bea siswa masuk SMP Berdikari, karena prestasi yang sering kamu raih selama ini, dewan guru memilihmu,” ujar kepala sekolah. “Bicarakan dengan nenekmu tentang ini nanti ya," tambahnya.

Hati Aisyah girang bukan kepalang, karena jalan untuk melanjutkan ke sekolah lebih tinggi menjadi impian setiap siswa, dan kini terbuka lebar baginya apalagi tanpa biaya. Aisyah tahu, neneknya mampu membiayai pendidikannya, tapi dia lebih senang apabila bisa bersekolah tanpa membebani. Nenek memang bukan orang kaya, tapi beliau tidak pernah kekurangan untuk memenuhi segala kebutuhannya.  

"Baik, Pak. Terimakasih.".

Senyum tersungging di bibir, dan Aisyah pamit diri kembali bergabung dengan teman-temannya.

Sampai di rumah, Aisyah menyampaikan pada neneknya tentang apa yang dibicarakan kepala sekolah tadi siang.

"Nenek akan mengirimmu belajar di pesantren, agar kamu punya cukup bekal ilmu agama," demikian sahut neneknya. Jawaban nenek mematahkan semangat Aisyah yang menggebu. Dia tidak membantah. Andai dia mengadu pada kedua orang tuanya pun, pasti mereka akan menyuruh Aisyah mematuhi kehendak nenek. Sedari kecil Aisyah memang diasuh oleh nenek Darmini, karena kedua orang tuanya tinggal di luar kota tempat ayahnya berdinas, dan hanya sesekali saja bisa bertemu.

Rasa kecewa Aisyah berpengaruh pada sikapnya. Dia yang dulu ceria, kini sering diam tak mau bicara. Menyendiri menjadi keasyikannya kini. Perubahan ini sangat disadari oleh Darmini. Tapi dia bersikukuh bahwa apa yang dialami Aisyah adalah hal yang wajar dan nanti akan kembali seperti semula. Dihiburnya Aisyah dengan sering mengajaknya bergurau dan dibelikannya sesuatu yang disukainya.    

"Alhamdulillah, Aisyah diterima, nek!," ujarnya penuh suka cita. Setelah melalui serangkaian tes seleksi yang ketat, akhirnya diterima di madrasah tsanawiyah yang juga dilam lingkungan pondok pesantren.

Hari-hari selanjutnya, dijalaninya kehidupan di pesantren menempa dirinya menjadi pribadi yang mandiri. ilmu agama dan ilmu umum serta life skill yang diajarkan, dipahaminya dengan baik. Prestasi demi prestasi pun sering ia ukir

"Setelah lulus nanti aku tetap melanjutkan di sini sekalian ambil  jurusan tahfidz quran,” tanya teman akrabnya Fatma. “Kalau kamu Aisyah?," tambah Fatma sang sahabat yang menjabat bendahara OSIS seraya menikmati bakso di kantin sekolah.
"Aku ingin melanjutkan ke sekolah perawat, Fat. Pengalamanku di PMR mungkin bisa kujadikan bekal," jawab Aisyah sederhana.
Sebenarnya Aisyah senang belajar di pesantren, tapi dia ingin sekali mewujudkan cita-citanya. Ada rasa pesimis akan keinginannya itu jika mengingat bagaimana sikap nenek. Namun hal itu disimpannya rapat- rapat dalam hati.
"Kamu nanti coba ikut tes di MAN ya Aisyah. Sayang kalau hanya tiga tahun di pesantren." jelas neneknya.

Ringan kalimat itu diucapkan nenek saat sambangan ke pesantren.  Belum sempat Aisyah mengutarakan keinginannya, kembali nenek telah memutuskan kemana Aisyah harus melangkah.

“Aisyah ingin melanjutkan ke sekolah perawat, nek.". sahutnya cepat. Lebih baik dia utarakan inginnya daripada membeku di kalbu.
"Bukannya nenek tidak suka profesi perawat, tapi menjadi perawat itu tidak mudah, kamu harus berjaga di rumah sakit saat malam hari. Suami serta anak-anakmu kelak tidak ada yang mengurus di rumah. Di samping itu, kamu adalah calon ibu yang kelak akan menjadi ustadzah bagi anak-anakmu,” urai neneknya penuh ambisi. Wahai jiwa, berdamailah walau hati meronta saat mendengar alasan nenek.

Kecewa kembali mendera dirinya. Aisyah tak lagi bersemangat dalam menjalani hari-harinya di pesantren. Prestasinya menurun drastis. Banyak kegiatan yang dia lewatkan, Aisyah pun sering sakit karena beban pikiran yang membelit. sehingga menimbulkan pertanyaan baik dari teman maupun gurunya. Karena perubahan itu, Darmini dipanggil pihak sekolah. Darmini merasa sedih dengan kejadian ini. Namun kesedihan itu tidak ditampakkannya pada Aisyah.

Pada suatu ketika, Aisyah kembali ke rumah nenek setelah enam tahun belajar di pesantren. Ilmu yang diperoleh dia amalkan dengan membimbing anak-anak di sekitar rumahnya untuk belajar di surau neneknya.

"Aisyah ingin kuliah di mana, masih ingin jadi perawat?," tanya nenek di suatu sore ketika mereka berbincang santai. Aisyah menggeleng.
 “Nenek telah merampas segala inginku, nenek tidak pernah mengerti aku.” Uangkap Aisyah kesal. Namun kalimat itu hanya bisa ia jeritkan dalam hati
"Kalau sudah tidak ingin jadi perawat, bagaimana kalau Aisyah kuliah jurusan guru, Aisyah kan sudah mengajar saat ini di TPQ. Nenek selalu berdoa agar kelak Aisyah menjadi orang mulia,".
“Terserah Nenek, Aisyah ikut saja.”.

Dia sadar protes yang dilakukannya selama ini tidak akan berpengaruh pada sikap nenek. Lebih baik diikutinya saja kemauan nenek.

Limpahan kasih yang tak henti selalu nenek beri tanpa Aisyah sadari. Semua   tinggal kenangan saat beliau telah pergi. Berjuta sesal yang dia rasakan seolah tak berarti. Sunyi dan sepi dilaluinya kini.

"Aisyah...buka pintunya, sudah Magrib, ditunggu ayahmu berjamaah,”. Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.
"Astagfirullah hal adzim,". Segera Aisyah membuka pintu kamar yang tadi dia kunci.
"Jangan menangis terus, matamu sudah sembab, ibu tahu kamu sangat menyayangi nenek, lebih baik segera berwudhu kemudian sholat, dan doakan nenekmu," ajak ibunya penuh harap.

Saat ibunya berlalu, kembali Aisyah masuk ke kamarnya. Dimasukkannya kembali map kuning yang berisi SK CPNS pengangkatannya sebagai guru SD yang diterimanya pagi tadi bertepatan dengan berpulangnya sang nenek. SK yang belum sempat Aisyah perlihatkan pada orang yang telah berjasa dalam hidupnya dan sangat mengerti dirinya. Karena ternyata dengan menjadi guru Aisyah merasa bahagia. Dia baru menyadari bahwa di sinilah dunianya. Semoga Allah menempatkan nenek dalam surgaNya.

“Selamat jalan, Nek. Doa Aisyah selalu menyertai Nenek.”

*****

Nurul Ainy Fauzan atau biasa disapa Nurul, lahir dan besar di Surabaya. Ibu tiga anak ini menetap di Sumenep sejak tahun 1998 dan menjadi pengajar di SMP Negeri 1 Lenteng mulai tahun 1999 hingga sekarang. Perempuan yang memiliki hobi membaca dan kreasi olah rasa ini mulai menulis sejak di bangku sekolah dan pernah meraih juara pertama lomba menulis non fiksi di tingkat SMA. Bahagia itu sederhana merupakan motto hidup lulusan IKIP PGRI Surabaya tahun 1995. Dia sependapat dengan Seno Gumira Ajidarma bahwa menulis adalah suatu cara untuk bicara, berkata dan menyapa serta untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana.


POSTING PILIHAN

Related

Utama 5564312699704693701

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item