Disiksa Keinginan


Oleh Syaiful Rahman

Pernahkah Anda pusing memikirkan jumlah pendapatan Anda yang dianggap tidak cukup? Kalau pernah, yuk kita sharing. Pada saat-saat tertentu, terkadang pikiran ini pusing soal ekonomi. Keinginan begitu menumpuk, tapi pendapatan belum cukup.

Di sini saya menegaskan bahwa itu adalah "keinginan", bukan kebutuhan. Sebab dalam kenyataannya, kebutuhan manusia sangat sedikit. Keinginannya yang banyak. Contoh, manusia membutuhkan makan. Mungkin nasi dengan lauk telor dadar sudah cukup. Tapi, keinginannya makan nasi dengan paha ayam, ditambah sambel, dikasih tahu dan tempe, dikasih kriuk-kriuk, dan macam-macam. Minumnya pun pakai air putih sebenarnya sudah cukup. Tapi, minumnya ingin pakai jus alpukat, ditambah susu, ditambah es campur, ditambah es kopyor, dan lain-lain.

Soal tempat tinggal? Sama saja. Soal pakaian? Apalagi. Soal style? Tambah menggila. Baju di online shop sangat banyak pilihannya. Harganya pun banyak yang terjangkau. Tapi, keinginannya harus menggunakan baju hasil desainer ternama. Semuanya, dari ujung rambut hingga ujung kaki, harus serasi. Kalau tidak serasi dibilang seperti jemuran.

Apalagi di tengah virus media sosial, semakin banyak orang yang pusing. Pusing sebab membandingkan dirinya dengan postingan-postingan di media sosial. Pusing karena ingin seperti yang ada di media sosial. Lihat postingan orang makan di restoran mewah, ingin juga makan di restoran mewah. Lihat postingan skincare yang bisa bikin auto glowing, langsung ingin memakai itu juga.

Semakin dipenuhi keinginan itu, semakin banyak keinginan baru yang tumbuh. Seolah mati satu, tumbuh seribu. Waktu masih belum punya uang, keinginannya hanya punya uang sepuluh ribu biar bisa beli nasi. Ketika punya uang sepuluh ribu, keinginannya bertambah menjadi ingin punya dua puluh ribu. Begitu seterusnya tiada henti.

Padahal, kalau kita renungi, sebenarnya semua ini untuk apa? Punya banyak harta untuk apa? Ambisi mengejar tahta untuk apa? Terus dan terus kita merenung. Semakin merenung, kita semakin mengerti bahwa keinginan itu begitu menyiksa.

Terkadang kita begitu khawatir bila besok tidak dapat uang dan tidak bisa makan. Kemudian terbayang dalam benak, hidup menjadi sangat melarat lalu mati kelaparan. Namun, ternyata kekhawatiran itu tidak pernah terjadi. Bahkan hingga detik ini, masih bisa bernapas dan membaca tulisan ini.

Sekadar berbagi pengalaman. Ketika bapak saya meninggal sembilan tahun yang lalu, saya sempat khawatir tidak bisa menuntaskan pendidikan. Pasalnya, kala itu satu-satunya tulang punggung keluarga hanya bapak. Emak saya tidak bekerja. Kakak juga belum bekerja. Saya baru semester satu. Mau mendapat uang dari mana?

Namun, Tuhan menciptakan manusia pasti dengan rezekinya. Kehidupan keluarga saya fine-fine saja. Saya bisa kuliah sampai lulus sarjana. Kakak bisa menikah. Emak tetap bahagia. Semua berjalan di luar prediksi saya. Kehidupan terus dan terus lebih baik.

Di desa, saya sering menemukan orang yang tidak punya pekerjaan. Atau setidaknya, pekerjaannya tidak jelas. Mereka tidak terlalu memusingkan soal ekonomi. Bahkan terkadang orang yang punya pekerjaan lebih banyak mengeluh daripada mereka. Tapi, rupanya orang-orang yang tidak punya pekerjaan itu tetap hidup damai, sehat, tidak punya utang, dan bahkan terkadang punya simpanan.

Dalam titik-titik semacam ini saya kadangkala merenung dan bertanya, apa sebenarnya yang membuat hati ini khawatir dan takut menatap hari esok?

Lantas, apakah tidak boleh memiliki keinginan? Boleh-boleh saja. Itu mah terserah setiap orang. Tidak ada orang yang berhak melarang orang lain untuk memiliki keinginan.

Berdasarkan perjalanan hidup saya yang masih seupil semut ini, ada satu pertanyaan penting yang sangat menentukan ketika kita mendapatkan penghasilan. Dialokasikan untuk apa terlebih dahulu ketika kita mendapatkan penghasilan?

Apakah ketika penghasilan itu kita terima langsung kita potong untuk sedekah terlebih dahulu? Atau kita potong untuk ditabung terlebih dahulu? Atau kita langsung cus ke warung untuk berpesta pora? Atau kita langsung belanja untuk memenuhi semua keinginan yang sudah lama diempet? Atau kita langsung bayar utang?

Menurut saya, jawaban terhadap pertanyaan itu sangat menentukan tingkat kepusingan kehidupan ekonomi seseorang. Sebanyak apa pun harta yang diperoleh, jika tidak dialokasikan dengan tepat, ia akan cepat raib. Rasanya baru kemarin gajian, tapi kok sudah habis ya? Rasanya kemarin masih banyak uang, ini kok sudah kritis lagi ya? Waduh! Menggalaukan!

Di tengah ketidakpastian seperti saat ini, mengatur keinginan sangat penting dilakukan. Jangan sampai disiksa dan diperbudak keinginan. Jadilah tuan atas keinginan-keinginan diri sendiri.

Hms, 28 Juli 2021

Sumber: FB Syaiful Rahman

POSTING PILIHAN

Related

Utama 2622714809329881685

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item