Di Kelopak Matamu, Aku Menangis


Cerpen: Khairus Syamsi

Jalan di ujung desa ini masih saja lengang, walau tidak ada yang aneh. Aktivitas setiap pagi memang demikian, lalu lalang kendaraan pengumpul asap tidak begitu banyak. Sementara sawah, kebun, dan pesisir tidaklah jauh, sehingga alat transportasi motor bukan menjadi kebutuhan utama.

Seperti biasa tampaknya kaki ini menjadi pilahan untuk  mengayunkan sepeda kumbang yang paling masuk akal. Di lain sisi, jalanan tak sepenuhnya baik dan kadang harus trampil meliukkan setir seperti untuk menghindar lubang-lubang dan baru kerikil untuk mencapai tujuan.

Dan aku, memiliki waktu luang yang dapat kumanfaatkan untuk melepas gundah. Atas setiap pernyataan tanah moyangku yang tak aku mengerti. Atau dari setiap pertanyaan yang terlampau kulantunkan namun tak kunjung menemukan jawaban. Dan bila kedua hal itu adalah teka-teki baik disengaja oleh yang Satu atau tidak itu bukan alasan. Aku akan memecahkannya. Sendirian.

Lantaran alasan tersebut, aku memasang beberapa pilihan untuk melengkapi kosong ruang waktuku memecah gelisah yang bertahta dalam diriku. Dengan cara hijrah ke kota memburu keramaian dan kecepatan gerak manusia pemangku jabatan, atau berjalan di tengah hutan dengan senapan di lengan serta puluhan peluru kecil yang telah kusiapkan.

Bersepeda keliling desa seperti dahulu kala, dengan maksud olahraga sekaligus melihat kehidupan yang cukup lama tidak aku saksikan. Sialnya, setiap opsi yang kucipta justru menambah kebingungan. Aku telah tersesat juga dan terjebak oleh buah pikiranku sendiri.

Terjebak oleh kebingungan itu, aku kehilangan setiap apa yang terjadi pagi hari. Seakan aku telah sepenuhnya hidup dalam angan, dan tak lagi dapat keluar dan pergi dari kekangannya.

Aku ketinggalan nyanyian burung, irama katak rawa, nada teduh hewan peliharaan, dan segala lagu penduduk alamku. Angin yang membawa pesan dari laut seluruhnya tidak dapat kurasakan.

Bisa jadi aku juga telah menghiraukan panggilan seorang ibu untuk membersihkan halaman dari daun kering yang dengan penuh cinta berguguran. Ah, aku cukup menyesali apa saja yang semestinya kunikmati serta menggerutu menyalahkan diri karena telah abai dan membiarkan pertimbangan yang kurancang sendiri mengambil alih segala.

Sejenak kemudian, aku berinisiatif melupakan seluruh kejadian konyol pagi tadi. Baiknya aku menjelajah dunia melalui layar ponsel. Dan aku bergegas mengambilnya di atas meja kayu yang terletak di teras rumah. Karena setelah subuh tadi kutinggalkan dengan sengaja untuk mencari sinyal.

Beberapa waktu berselang setelah melakukan jelajah di dunia maya, pesan masuk dari seorang teman lama. Ia adalah teman bermain masa kecil dahulu. Aku sangat akrab dengannya, dan bahkan telah kuanggap sebagai saudariku. Entah sebuah kebetulan atau tidak aku tak lagi perduli. Dinda memberitahu bahwa sedang berada di kampung halaman dan mengajak bertemu. Berhubung telah kubaca, maka lekas-lekas aku membalasnya. Siapa tahu dia masih menunggu jawaban kesediaanku. Dan akhirnya aku mengiyakan ajakan itu, tentu saja untuk menghargainya dan aku juga tak ada agenda hari ini.

Sejenak kemudian, ia membalas kembali sekaligus dengan jadwal yang rinci. Sepertinya sedikit banyak ia telah memahami gaya mainku yang cukup disiplin akan waktu.

“Pukul 12.30 WIB siang ini aku di rumahmu,”, begitu isi pesannya. Dinda sudah terbiasa main ke rumah apabila sedang pulang ke kampung halaman.

Sampai sekarang, aku cukup penasaran akan hal yang dapat dikatakan secara tiba-tiba ini. Pertama perihal ia yang tahu bahwa aku sedang ada di rumah dan tak bepergian. Dan yang kedua, kiranya apa yang akan dilakukan pasca pertemuan nanti.

Tak lama, ia datang mengetuk pintu setelah motornya terparkir di halaman rumah. Tepat di antara pohon mangga yang sedang berbuah dengan lebatnya dan pohon jambu dengan beberapa rantingny yang kering.

“Assalamualaikum,” ia mengucap salam dari teras rumah.

“Waalaikum salam,” segera aku membalasnya.

Akhirnya kusapa ia dan mempersilahkan duduk di kursi kayu beranyam rotan, karya lama moyangku.

Seperti biasa, kami sama sekali tak memiliki rasa canggung.

“Apa kabar kamu Din?”. Aku memulai percakapan.

“Alhamdulillah baik, dan kamu sepertinya sehat-sehat ya,”.

Ia menjawab sekaligus membuat simpulan atas kondisiku.

“He. kau ini, iya Alhamdulillah sehat Din.”

Lalu dengan tegas ia menyampaikan maksud sebenarnya bahkan tanpa malu-malu. “Kamu hari ini lagi sibuk  Bi?”.

“Tidak juga Din, ada apa?,”. Aku penasaran.

“Ikut aku yuk, ke rumah pakdeku,” ajak Dinda yang tampaknya cukup serius ada sesuatu yang mendesaknya.

“Ayuk,”. Aku mengiyakan tanpa berpikir panjang. Bahkan semacam telah masuk ke dalam dunianya, selain itu aku tak pernah berpikir panjang atas setiap ajakannya. Toh, saudariku. Pikirku dalam hati.

Beberapa persiapan yang diperlukan telah selesai. Kemudian kami berdua bergegas menuju rumah pakdenya. Jarak kesana tidak cukup jauh bila menggunakan motor dan dapat ditempuh kurang lebih sepuluh menit dari rumahku.

Sesampainnya di rumah pamannya itu, sambutan hangat dari tuan rumah tersaji dengan ramah. Memang begitu gaya warga kami menjamu tamu. Beberapa menit berselang, setelah bertukar sapa dan berdialog di antara Dinda, aku, pakde. Aku tak mendapati sesuatu yang berarti. Seolah percakapan itu halnya silaturrahmi biasa karena rindu atas temu yang jarang terjadi.

Menjelang pamit undur diri, pakde memanggil kembali dan berdialog dengan nada suara yang cukup lirih. Aku perhatiakan dari sudut raut muka Dinda, sepertinya bahasa yang cukup serius tersampaikan. Sedangkan aku mulai merasa tidak nayaman dan gelisah. Bahasannya takut menyangkut urusan pribadi keluarga, dengan demikian aku memutuskan untuk menjauh dari perbincangan mereka.

Waktu berjalan begitu cepat dalam perhitunganku. Dinda keluar dan menarik tanganku lalu bergegas pergi setelah salam disampaikan penuh ketulusan.

Selepas keluar dari pintu pagar halaman, Dinda memintaku berhenti sejenak di sebuah surau. Kami berdua shalat berjamaah. Berhubung hari masih cukup sore, kami tidak langsung pulang melainkan jalan sebentar ke arah pantai. Dalam rangka menyaksikan sang mega merah yang akan datang sebentar lagi.

Sampai tiba di pantai, aku yang sedari tadi masih penasaran hingga saat itu belum cukup berani bertanya langsung pada Dinda. Sementara itu, Dinda masih cukup serius memandangi indah pantai dan debur ombak yang menghantam pesisir. Seakan membalas senyum yang merekah dari bibir Dinda.

Dinda mengajakku duduk lebih dekat seraya menghadap pantai serta bersiap menatap mentari kembali ke peraduannya. Akan tetapi, sebelum itu, Dinda menanyakan aku bersedia atau tidak mendengarnya.

“Bi, bolehkah aku bercerita padamu,” tanya Dinda dengan sopan dan penuh harapan.

“Silakan Din, dengan senang hati,” aku menjawabnya tanpa berpikir panjang.

“Ini sebenarnya cukup pribadi, tapi aku butuh teman cerita sekaligus masukan darimu,” ujar Dinda.

“Oh iya Din, tidak masalah,” jawabku kemudian.

“Jadi begini, kau tahu kan kalau aku anak tunggal dan aku perempuan. Kau tahu, maksud kedatanganku tadi ke rumah pakde tak lain untuk meminta pertimbangan atas masa depanku,” ungkapnya lalu menarik nafas panjang. Aku hanya diam.

“Di kota rantau aku jatuh cinta pada seorang laki-laki, namun tidak pacaran atau berkomitmen dengan sungguh layaknya orang seusiaku pada umumnya. Sebenarnya ia mengajakku pada jenjang yang lebih serius. Tapi hingga saat ini aku belum mengiyakan permintaannya,” jelasnya kemudian.

“Lah, kenapa Din?”. Aku menyela ceritanya.

“Begini Bi, ternyata ketakutanku benar. Keluarga besarku menyarankan aku menolaknya. Pertama, karena aku anak perempuan tunggal.”.jelasnya

Kemudian ia mengurai kehawatiran lainnya bila orang tuanya kelak tidak ada yang merawatnya. Ia juga menceritakan beberapa anggota keluarganya yang sudah menikah memilih menetap di negeri orang serta hanya pulang sekali dalam setahun. “

Kali ini mereka benar dan aku menyetujui pendapat mereka Bi,” tukasnya seraya melapas pandangannya ke arah arus yang menjejal di tengah laut.

Sembari mendengarkannya, aku melihat Dinda susah payah mengatur diri untuk tidak membiarkan air matanya mengalir. Dari raut wajahnya tersimpan begitu banyak kebingungan dan kekacauan yang mendalam. Dengan itu, akhirnya aku mulai andil dan ikut bicara pun menyesuaikan permintaannya di awal tadi.

“Din, sejujurnya kita hampir sama dalam hal ini,” ujarku sebelum pada saran.

“Bagaimana bisa Bi?” Dinda tampak penasaran.

“Iya Din, kita memiliki jalan cerita yang sama mengenai itu. Aku dan Kamu.”

“Lalu bagaimana Bi?”

Tatapannya kosong penuh kesedihan. Aku balik menatapnya, dan kelopak matanya berkaca-kaca, ada tangis yang hendak membuncah. Kita benar-benar sama, ujarku dalam hati yang juga sedang menangis.

Sementara itu, semburat senja di ufuk barat sudah mulai tampak dan debur ombak mulai terdengar semakin keras menghantam batuan di pesisir.

“Din, hidup ini selalu tentang sebuah kebenaran,” akhirnya aku beranikan diri melanjutkan.

“Maksudmu Bi?” Tanya Dinda semakin kebingungan.

“Kita tidak berada dalam posisi yang paling benar, kita terjebak dalam dua pilihan. Antara mengikuti suara hati atau justru anjuran keluarga. Namun satu hal yang pasti Din, kurasa menemani masa tua kelurga kita adalah yang paling benar. Sekalipun melanggar keinginan. Meski begitu, hati dan cinta juga tak seutuhnya salah,” aku menjawab seolah paling bijak.

Dinda terdiam saja, sementara senja semakin temaram pertanda malam akan segera datang. Tak berselang lama, aku dan Dinda beranjak meninggalkan pantai beserta segala cerita hari ini. Meski demikian, rasa lega menyeruak di inti hati karena bisa mengakhiri aktivitas hari ini dengan penuh makna.

*****

Khairus Syamsi, lahir di Sumenep tanggal 28 Juli 1995. Tinggal di ujung timur laut Pulau Madura, tepatnya dusun Birampak, ds. Jenangger, kec. Batang-batang. Rutinitas sehari-hari sebagai pengajar di SMAN 2 Sumenep. Aktivitas lainnya olahraga, khususnya sepak bola. Waktu luang dimanfaatkan untuk membaca kehidupan, baik secara langsung atau melalui buku-buku.



POSTING PILIHAN

Related

Utama 337924047272708991

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item