Tiga Pentigraf Tawakal, Akrobat dan Tepian Waduk


Tawakal

Endang Dwi Haryanti

Ku siram bayam dan kangkung yang mulai tumbuh. Kuambil batang kangkung dan bayam yang dibuang orang, kutanam dengan iringan do’a. Alhamdulillah, tumbuh subur. “Mak, kita masak kangkung ya,” kata Narti anakku yang terlihat sangat lapar.

Hasil jual rongsokan hanya 5 ribu, kubawa ke warung, Narti, Seno dan calon jabang bayi, mereka semua butuh gizi. Kadang hanya kubelikan kacang hijau dan gula merah untuk makan kami. Hatiku menjerit, memanggil Asma Allah, bagaimana nanti kalau anakku lahir, pikiranku buntu. Berkat kebaikan pemilik warung aku dapat beras 2 genggam, indomie sebungkus dan telur sebutir. Segera kucuci beras dan kurebus menjadi setengah bubur, lalu indomie kuremas kumasukkan, juga bayam dan kangkung, terakhir telur dan bumbu dan kutambah garam. “Wah ibu masak enak mbak,” kata Seno anakku, sontak airmataku tak dapat kubendung.

Perutku mulas sekali, sepertinya anakku mau lahir, tapi badanku lemas, darah meleleh di sela kakiku, aku tak sadar, tahu-tahu sudah di RS. Suster mendorongku ke kamar operasi, tanpa persetujuanku. Hatiku tak karuan, kupegang tangan suster kuat-kuat. “Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir” aku pasrah. Selesai operasi, aku malas membuka mataku, terbayang masalah yang menghadangku. Lalu tiba-tiba ada yang mencium keningku dan menyodorkan anakku, “Ya Allah mas Parlan!" jeritku, dan aku larut dalam tangis bahagia, tanpa bisa berkata.Lelaki yang hampir kulupakan ini kembali.

*****


Akrobat

Evi Manalu - Jakarta

Gedung pertunjukan di salah satu kompleks pusat kesenian di Jakarta itu sudah penuh dan hampir tidak ada bangku kosong lagi. Hari itu ada kejuaraan menari modern se-Indonesia, di mana acara ini disponsori oleh beberapa perusahaan ternama. Ini termasuk salah satu acara budaya yang bergengsi. Sandra, salah satu peserta dalam perlombaan itu sangat menyiapkan segala sesuatunya dengan seksama. Sebagai peserta dari luar Jakarta, ia dibantu oleh saudara-saudaranya menyiapkan kostum dan aksesoris tari.

Debur jantung Sandra semakin kencang, manakala nomor urutnya sudah mendekat. Dalam pertunjukannya nanti, ia akan menarikan gerakan lembut menghantarnya menjadi seekor kupu-kupu yang terbang halus mengitari taman bunga. Di bagian lain, ia juga harus membawakan gerakan dinamis, layaknya seekor kuda jantan berlari dan melompat. Tibalah saatnya Sandra di tengah panggung pertunjukan. Ia seperti kesetanan dalam memeragakan tariannya, untung itu terjadi pada irama musik yang menghentak dinamis ke seluruh ruang. Sandra mendapat tepuk tangan meriah bahkan sebelum tariannya berakhir, karena memang gerakannya sangat luar biasa. Wajah para juri pun sangat takjub kala itu.

Begitu selesai gilirannya menari, ia segera turun dan cepat-cepat mencari ruang ganti. Tidak didengarnya lagi pengumuman dari dewan juri. Ia seperti blingsatan melepas semua kostum yang baru saja dipakainya. “Ah, ini dia semut yang membuatku hampir gila” katanya dengan geram.

*****

Tepian Waduk

Robertus Sutartomo

Salah satu kesukaanku nggowesss pagi hari sebelum matahari terbit. Kemudian duduk santai di tepian sebuah waduk yang masih sepi. View di situ cukup bagus untuk menikmati datangnya #Sun_rise. Kusulut sebatang rokok untuk mengusir hawa dingin pagi yang cukup menusuk tulang. Begitu nikmatnya merokok sambil menyeruput kopi susu yang kubawa dalam termos kecil sebagai bekal.

"Selamat pagi mas... Koq sendirian... Temannya mana?" Sebuah sapaan halus dan merdu membuyarkan lamunanku. Ternyata seorang gadis langsing berkulit bersih dan putih yang menyandarkan Seli-nya di samping sepeda MTB-ku. Dia dengan sopan permisi duduk di sampingku. Kemudian kami berkenalan. Sinta namanya, secantik Dewi Sinta dalam kisah pewayangan. Kami asyik berbincang tentang situasi masa kini dan juga Pandemi yang tak kunjung berakhir. Kubiarkan dia duduk semakin "mepet" di tubuhku. Mungkin dia kedinginan. Malahan aku senang, sebab kulitnya yang halus menggesek lenganku. Ada desir dan getar di hati dan jantungku.

Keasyikan ngobrol membuatku lupa mengabadikan indahnya sunrise. Sebagai gantinya kami selfie berdua. Berkali-kali kujrpretksn kamera HP-ku. Bahkan Sinta tak malu-malu memeluk pinggangku, bahkan menyandarkan kepalanya ke dadaku. Moments mesra yang tak pernah kuimpikan. Bisa selfie bersama gadis cantik, lincah, dan ramah. Sinta kemudian pamit melanjutkan perjalanannya ke suatu tempat. Begitu dia beranjak, segera kubuka galeri album kamera di HP-ku. Astaga... Hanya foto-foto selfie-ku sendirian. Tak satupun ada wajah dan sosok Sinta di kamera HP-ku. Cepat-cepat kutengok jalan ke arah Sinta pergi tadi. Tak ada siapa-siapa di sana. Seharusnya dia masih terlihat di sana.

Solo, 13 Juni 2021

 

Sumber: akun FB Kampung Pentigaf Indonesia




POSTING PILIHAN

Related

Utama 3080412978581233130

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item