Takdir yang Tertukar

 


Cerpen Joko Rabsodi

Tergolek diatas kasur empuk dengan mata terpejam seakan tak ingin mengakhiri sisa-sisa malam yang perlahan habis. Ingatanku dengan segar mem-flashback kejadian menakjubkan di malam ini. Namun kurasakan dengan pasti sinar matahari telah mengintip, memaksa menerobos masuk melalui celah-celah jendela seakan ingin mengingatkan kalau hari tak lagi malam. Dengkuran halus terdengar dari orang yang rebah di sampingku.

Seulas senyum tersungging di bibirku. Masih dengan mata terpejam, kugerakan tangan dan dengan lembut jari-jari halusku mulai menelusuri lekukan wajah di sampingku. Aku mengenal lekukan wajah dan mengenal setiap bagian dari tubuhnya dengan baik dan bahkan sangat baik. Aku mengenali semua yang merupakan bagian dari dirinya seperti aku mengenali diriku. Kurasakan wajahku bersinar terang, seterang matahari yang menyapa alam di luar sana. Dengan perasaan hangat dan lembut, ku-rewind rekaman tadi malam yang kusimpan rapat dalam memoriku dan kemudian kuputar perlahan.

Di sebuah kamar di kawasan pademawu yang sejuk, sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota di pamekasan . Sebuah tempat yang cukup nyaman untuk melepas semua lelah dengan segala kepenatan, sebuah tempat yang cukup aman untuk melindungi diri dari peliknya problematika hidup, dan juga sebuah tempat yang mampu membawa beberapa tahun silam kembali dalam genggamanku.

Kerinduan akan keindahan yang selama ini selalu kami inginkan, kerinduan akan saat-saat seperti itu, yang ternyata terjadi bahkan setelah bertahun-tahun perpisahan. Tak ada suara, tak ada kata-kata. Kebisuan kami menambah bisunya ruangan itu. Hanya desahan nafas yang memburu, bertarung dengan gelapnya malam yang kian pekat. Seulas senyum tersungging di bibirku. Jari tanganku semakin lincah menelusuri tubuh yang rebah di sampingku. Mataku masih terpejam tanpa ada keinginan untuk membukanya.

Sungguh, malam ini begitu menakjubkan. Ia mampu mengantarkan sebuah keindahan yang kuinginkan dari beribu malamku yang terenggut. Ia mampu mewujudkan mimpi dan kerinduan yang kian berkarat setiap detiknya. Ia mampu mengubah rasa jijik, risih, terganggu, atau rasa perih hati menjadi sebuah keinginan dan harapan untuk terus bisa merasakan damainya malam ini di malam-malam lainnya. Betapa keinginan itu terus membara, betapa keinginan itu tak pernah padam meski tahun-tahun telah aku lewati dengan berbagai dinamika kehidupan.

Sentuhan jari-jari tanganku sepertinya tidak mengusik tidur lelapnya. Ia hanya menggeliat sejenak dan kemudian terlelap lagi. Akupun sama sekali tak berniat membangunkannya. Tiba-tiba bunyi nada polyphonic terdengar menggelitik telinga. Kuraih telpon genggam miliknya, darimana bunyi itu berasal. Dengan segera aku mengetahui dari siapa panggilan tersebut. Pandanganku berpindah-pindah pada telpon genggam dan pada pria yang rebah di sampingku. Haruskah aku membangunkannya? Pikirku ragu. Namun bunyi tersebut tak pernah berhenti dan makin lama semakin kencang. Dengan hati-hati akhirnya ia kubangunkan dan kusodorkan benda itu padanya yang ia sambut dengan enggan.

“Pagi..,” sapanya dengan suara serak yang langsung mendapat jawaban dari seberang.
“Ya, ayah baru bangun. Seminar kemarin sangat menguras energi sehingga terasa melelahkan,” ujarnya.
“Apa? Hp Ayah mati?, O…ya, tadi malam sengaja dimatikan supaya tidak mengganggu istirahat ayah. Ayah terlalu capek hingga tertidur lelap dan tidak tahu lagi apa yang terjadi hingga Bunda membangunkan aku.” kulihat keningnya berkerut mendengar ocehan dari ujung sana.
“Ya…ya, Ayah usahakan segera pulang. Mungkin sore atau malam ini akan tiba dirumah. Okay, baik-baik dirumah ya, byebye, mmuach…,” katanya yang dengan segera mengakhiri pembicaraan tersebut dengan meletakkan kembali telpon genggam itu pada tempat semula. Tanpa berkata apa-apa ia menarik selimut yang sedang kupakai dan kemudian membenamkan tubuhnya ke dalam selimut tersebut.
“Istrimu?” tanyaku dengan nada cemburu.

Ia tidak menjawab. Telunjuknya menempel di bibirku. Jari-jari tangannya menyibakkan lembar-lembar rambut yang menutupi sebagian kening dan mataku. Kemudian dengan erat ia membenamkan wajahku di tubuhnya sehingga dapat kurasakan degup jantungnya.
“Aku tak ingin pagi ini berakhir. Aku tak ingin lagi melewati malam-malam tanpamu. Aku ingin… aku ingin selalu merasakan indahnya tadi malam,” ucapku tersendat. Ia membelai rambutku dan dengan lembut berkata.
“Kita tak ingin saat indah ini berakhir. Kita tak ingin mengakhiri malam, mengakhiri pagi dan mengakhiri segalanya. Dulu pun kita tak ingin mengakhiri kebersamaan kita meski kemudian semuanya berakhir,”
“Berjanjilah..,” ucapku bergetar. “Berjanjilah bahwa akan selalu ada hari lain, malam lain, dan kita akan selalu saling memiliki.” Ia melepaskan pelukannya dan terlentang dengan mata lurus menatap langit-langit kamar. Dijadikannya kedua tangan sebagai bantal. Desah nafas panjang terdengar darinya.
“Aku tak menyangka kita akan bertemu lagi setelah bertahun-tahun perpisahan yang menyakitkan itu. Dan di sinilah kita sekarang, di sebuah tempat yang dulu selalu kita idam-idamkan. Apakah aku bermimpi?” desisnya.
“Tidak, kau tidak bermimpi, kita tidak sedang bermimpi. Kita sedang berusaha mewujudkan impian dan harapan kita dan aku yakin kita akan bisa melakukannya bersama-sama seperti apa yang kita inginkan dulu,” ujarku penuh semangat.
Ia terdiam. “Aku tahu kau terluka. Aku pun begitu. Kita sama-sama terluka. Hanya saja aku tidak bisa mencucurkan dan bersimbah air mata sepertimu” katanya tercekat.
“Aku tak pernah berhenti mencintaimu. Tapi ingatlah, kita masing-masing telah mempunyai keluarga dan tidak bisa meninggalkan mereka,” lanjutnya kemudian.
“Kau tidak tahu betapa menderitanya aku melalui malam-malam menjijikan. Mencium bau keringat orang yang tidak aku sukai, memperhatikannya, dan melahirkan anak untuknya. Kenapa aku tidak melahirkan anak untukmu? Kenapa? Semua itu begitu menyakitkan,” kataku disela isak tangis.

Ia memejamkan mata. Wajahnya menyeringai kesakitan; bibirnya bergetar. Perlahan dari sudut matanya kulihat butiran bening yang kemudian membasahi bulu-bulu matanya. Aku tertegun. Betapa ia pun merasakan sakit yang sama sepertiku.

Begitulah, takdir kita mamang tertukar. Akhirnya pagi pun berakhir, berlalu dalam kepedihan. Keindahan sekejap di malam itu tak mungkin lagi aku miliki. Dengan tegar namun hampa, kubuka gorden kamar, kubuka jendela. Kubiarkan matahari menerobos langsung menerpa kulitku. Dan sepertinya bukan hanya matahari yang akan menerpaku, tapi akulah yang akan menyongsong dan menantangnya dengan segala ketegaran yang kumiliki. Kutatap hari dengan penuh kehampaan. Kubiarkan rasa di hatiku hancur berkeping-keping hingga aku berharap tak akan ada lagi rasa dalam diriku. Biarlah rasa ini mati; biarlah gulita selalu menyelimuti hidupku karena bagiku bersinar atau tidaknya matahari tak berarti banyak.

“Kapan seminarnya berakhir, Ma? Cepat pulang ya, Nia kangen!,” rengek suara dalam telpon genggamku. Iya, itu suara suamiku. Aku tertegun. Mataku menatap tajam, membelah matahari yang kian memerah.

Pamekasan, 02-02-`21

Joko Rabsodi adalah guru di SMAN 4 pamekasan-madura. Tulisannya dimuat dibeberapa media nasional,   seperti horison, pikiran rakyat, kedaulatan rakyat dan bali post. Alamat kantor: SMAN 4 pamekasan, Jl. Pintu gerbang no.39a pamekasan-madura. Alamat rumah: Jl Gatotkoco Gg.VIII Rt.02/Rw.04 kel.kolpajung-pamekasan-madura 69317


POSTING PILIHAN

Related

Utama 341684090277609229

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item