Setengah Abad Tukang Foto Pak Yahya

Pak Yahya
Hidayat Rajarja
 
 
 (Bagian I)

Tukang foto pak Yahya merupakan sebutan untuk fotografer yang bernama pak Yahya. Begitulah sebutan masyarakat di kampungku dengan tukang foto. Pak Yahya merupakan tukang foto (fotografer) yang pertama di kampungku, di tahun 1970 dengan kamera analog dan film hitam putih. Profesi yang asing bagi masyarakat sekitar, sehingga untuk mengenalkan dirinya kepada masyarakat luas, setiap ada kesempatan ia selalu menyandang kamera di bahunya. Pengenalan yang sangat sederhana dengan terbatasnya media untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Jika ada orang berfoto pak Yahya melayaninya dengan senang hati, dan mencuci cetak foto di kota Pamekasan.
 
Pada awalnya foto baginya merupakan hobi, dan belajar dunia fotografi pada salah seorang kawannya di kota Pamekasan. Seorang guru yang gemar dunia fotografi bernama Affandi. Setiap minggu pak Yahya ke Pamekasan mencuci hasil pemotretannya sambil berkonsultasi kepada teman yang menjadi gurunya dalam dunia fotografi. Pak Fandi, begitu pak Yahya menyebutnya, seorang guru sekolah dasar yang paham bahasa asing bidang teknik sehingga ia mampu memahami berbagai keterangan mengenai teknik fotografi yang berbahasa Inggris dan Belanda.
 
Tahun-tahun awal mengenalkan dunia fotografi bagi masyarakat sekitar Omben merupakan dunia baru yang unik. Mereka kagum dengan rekaman gambar di selembar film. Sebuah bayangan gambar yang terbalik, sebab setelah film dicetak yang warna terang jadi gelap dan yang gelap menjadi terang. Di awal karier sebagai fotografer amatir, pak Yahya belajar mencuci film di ruang gelap dan mencetaknya menjadi lembaran foto di “Laboratorium” pak Fandi. Bisa mencuci film sendiri merupakan kebahagiaan tersendiri bagi pak Yahya.
 
Jika ada pelanggan yang minta foto kilat, maka pak Yahya akan memotong film dalam kamera di ruang gelap pada siang hari. Cara yang dilakukan sangat unik, karena rumah tinggalnya kamarnya tanpa sekat. Pak Yahya menggunakan sarung berwarna gelap lalu salah satu ujungnya diikat dan ditelungkupkan ke tubuhnya memotong film dalam kamar. Film dicuci kemudian dibawa ke Pamekasan untuk dicetak. Kerja yang sederhana untuk membuat sebuah dokumentasi visual dengan warna hitam putih.
 
Setelah beberapa waktu, mulai banyak masyarakat mengenal tukang foto pak Yahya, sehingga mereka yang mampu secara ekonomi mengundangnya untuk mengabadikan hajatan dan resepsi pernikahan. Biasa di desa jika undangan resep pernikahan di pagi hari sampai siang, dan dilanjutkan moto resepsi di waktu malam hari. Bila malam kadang disuruh moto anggota keluarga hingga acara hiburan (orkes melayu) yang memadukan musik dengan drama. Pulangnya hingga larut malam. Transportasi yang biasa digunakan jalan kaki atau menggunakan sepeda ontel.
 
Hal yang sangat menarik bagi saya melihat hasil cetakan foto pengantin. Peristiwa adat manten yang beragam di setiap desa. Ada foto pengantin mengendarai “Jhârân kênca’” (kuda yang bisa menari) dengan iringan tetabuhan. Pasangan pengantin diarak menuju pelaminan. Pakaiannya berwarna mencolok ada unsur, merah, kuning, hijau dan riasan benang emas, pasangan pengantin berkaca mata hitam. Tradisi pengantin yang ada di pelosok desa, dan sekarang sudah tidak ditemukan lagi. Rias pengantin saat ini sudah banyak meniru riasan dan kostum ala Eropa dan Arab dengan kostum gamis dan serban.
 
Di kampung yang lain, foto pasangan pengantin ditandu diarak ke pelaminan. Di sekelilingnya anak-anak, remaja dan orang dewasa menyaksikan arakan pengantin sebagai tontonan dan pengunjungnya ada juga dari luar desa. Kostum dengan warna khas yang norak. Gambaran sebuah kampung dalam perayaan pernikahan. Kuadeh ditempatkan di depan rumah, sengaja supaya bisa disaksikan oleh undangan dan juga masyarakat luas. Resepsi pernikahan yang bersifat publik, orang tidak diundang bisa turut menonton dan memeriahkannya. Di bulan Syawal dan bulan haji waktu paling banyak undangan manten, sehingga dapat dikatakan hampir setiap minggu menghadiri undangan untuk memotret acara resepsi pernikahan. Jika tempat undangan lokasinya di desa tetangga yang jaraknya jauh, pak Yahya mengajak kawan guru SD untuk menemaninya. Dapat dipastikan jika pulang dari undangan bawaan kue dan jajan amat banyak. Salah satu kebahagiaan tersendiri selain memperbanyak teman dan persaudaraan.
 
Beberapa tahun jadi tukang foto amatir Pak Yahya mampu membeli sebidang tanah yang tidak terlalu luas. Juga mampu membeli bangunan rumah berbahan kayu dan dinding gedek milik Obâ’ Minyan. Rumah sederhana, kemudian dipindahkan ke tanah yang telah dibelinya. Tahun 1974 pindah rumah dan mengusung rumah di desa merupakan hal yang lumrah. Lahan terbuka masih luas dapat dilewati kerangka rumah 7x6 meter. Pindahan mengusung rumah dibantu tetangga dan sanak famili. Di rumah baru yang ditempati pak Yahya membangun studio dengan menyekat salah satu kamarnya sebagai “Ruang Gelap” untuk cuci cetak foto hitam putih tang ditekuninya. Usaha foto berkembang pesat yang dilengkapi alat cetak yang dibelinya di Pasar Barang Bekas Pakai di Surabaya.
 
Untuk pesanan foto kilat, pak Yahya tak lagi mencetak ke pak Pandi di kota Pamekasan, tetapi sudah dicuci dan dicetak di rumahnya sendiri. Tukang Foto Pak Yahya, semakin banyak dikenal masyarakat sehingga makin banyak undangan yang harus dipenuhinya. Pak Yahya berani menerima undangan foto tanpa uang muka. Saling percaya, sehingga sering kali terjadi foto-foto sudah selesai cetak dan diserahkan uangnya belum dilunasi. Bila terjadi pak Yahya menyuruh putra pertama dan keduanya untuk menagih bayaran pada pengguna jasanya. Dapat dipastikan di jamannya pengguna jasa foto pak Yahya meliputi seluruh desa di kecamatan Omben. Meski ada pesaing membuka jasa foto, namun kalah promosi dan kepercayaan Masyarakat setempat. Usaha foto pak Yahya kian maju, sehingga dapat dikatakan hidup layak dan mampu membantu ekonomi anggota keluarga yang tidak mampu.
 
Di masa kejayaannya, halaman rumah Pak Yahya yang cukup luas disulap jadi taman untuk latar belakang orang-orang yang berfoto di ruang terbuka. Taman yang bagus dikerjakan oleh Bapak Juwairi kawan guru SD Inpres berasal dari Sleman – Yogyakarta. Seorang guru yang sangat piawai membuat taman dan dekorasi panggung manten. Orang datang berfoto, selalu saja ada yang datang entah untuk keperluan kependudukan, nikah atau sekedar buat dikirim ke keluarganya yang bekerja di Saudi atau di Malaysia. Umumnya mereka berfoto ketika hari pasaran desa Omben, yaitu Senin dan Kamis.


POSTING PILIHAN

Related

Utama 4554521424702229746

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item