Sesudah Lebaran


Sesudah puasa sebulan dan merayakan lebaran begitu hikmat kendati pandemi melanda; dengan cara daring mengucap selamat Idul Fitri kepada rekan sekerja, pimpinan, kenalan, dan handai tolan melalui aneka rupa cara, gaya, dan pintalan kata-kata; dan juga bersilaturahmi dengan keluarga, sanak saudara, kerabat, dan sahabat melalui rupa-rupa cara agar selamat dan beroleh berkat; di manakah diri kita sekarang berada?; seperti apakah diri kita sekarang?

Apakah diri kita sudah menjelajahi bukit-bukit cemerlang cahaya, bahkan membubung ke langit tinggi tak terkira-sangka, tempat berada Sang Cahaya Mahacahaya ataukah diri kita kembali seperti semula? Hanya menjadi manusia yang tersaruk-saruk dan terantuk-antuk, bahkan saling mengumpat dan mengutuk, dalam mengarungi kehidupan bumi lantaran kehilangan lentera yang cahayanya mendamaikan sesama manusia?

Apakah diri kita sudah menjadi lentera mungil atau lilin-lilin kecil yang sanggup memijarkan kilau-kilau cahaya sejati bagi kelangsungan dan keselamatan hidup sesama manusia dan seluruh makhluk di dunia yang sudah dua tahun didera pandemi korona ataukah tetap mengandung kegelapan atau kemuraman yang menjadikan kehidupan kita dirundung mendung? Mari kita tengok, kita pulang ke dalam diri sendiri karena puasa dan idul fitri yang bermakna kita semua harus bisa memulangkan kita kepada cahaya sejati, yang kodratnya senantiasa hangat mengasihi dan merahmati.

Di manakah kita harus menemukan kemilau cahaya sejati di dalam kehidupan bumi yang penuh warna-warni, yang dua tahun ini sedang diharu-biru pandemi? Seorang wali Tanah Jawa yang senantiasa kita kasihi, Sunan Bonang asmanya, telah beratus tahun lampau bertamsil janur kupat, kepanjangannya sejating nur ono ing laku papat: lebar, lebur, luber, dan labur, terjemahannya cahaya sejati ada dalam empat perilaku manusia.

Sebab itu, bilamana kita saban tahun hanya sibuk lebar-an, bisa jadi kita manusia yang tak pernah naik tingkatan, tiada mengalami perubahan dan kemajuan. Boleh jadi kita hanya menjadi manusia yang mengalami kemerosotan dan kemunduran. Biar diri kita meraih perubahan dan kemajuan kehidupan yang lebih sesudah masa pandemi, marilah kita semarakkan lebur-an, luber-an, dan bahkan labur-an dalam tiap langkah kehidupan kita: kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, dan kehidupan lembaga kita.

Untuk itu, rasanya perlu kita tingkatkan ibadah ghairu mahdah (luar ritual), tak cuma ibadah mahdah (ritual). Kehidupan dunia, bangsa, masyarakat, keluarga, dan lembaga kita – lebih pada masa pandemi korona dan sesudahnya, tak bakal banyak berubah hanya dengan ibadah mahdah. Kemajuan dunia, bangsa, masyarakat, keluarga, dan lembaga kita memerlukan ibadah ghairu mahdah kita yang tak kenal lelah.

Di situlah kita perlu bekerja tak kenal lelah, karena kerja adalah paras cantik ibadah, demi kemajuan lembaga kita di samping demi kemaslahatan dunia, bangsa, masyarakat, dan keluarga. Maka, rasanya perlu kita tingkatkan kinerja, lantaran kinerja yang memesona, yang bermaslahat bagi lembaga kita, adalah ibadah mulia.

Bukankah kerja dan kinerja sangat dihormati dan diapresiasi Rasulallah Muhammad kita? Bahkan Rasulallah Muhammad tak segan-segan menciumi tangan-tangan kasar dan kotor yang menggambarkan rajin bekerja dan bagus berkinerja. Kepada seorang lelaki, pada suatu ketika Rasulullah bertanya, mengapa tanganmu? Saad menjawab, karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku. Kemudian Rasulallah Saw mengambil tangan Saad dan menciumnya seraya berkata: ‘Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka’ (Hadis Riwayat HR Thabrani).

Semoga kita semua memiliki tangan-tangan yang kelak diciumi oleh Rasulallah. Tangan yang mengantarkan kita pada kedamaian surga, menjauhkan kita dari derita neraka. Amin.

(Djoko Saryono)


POSTING PILIHAN

Related

Utama 2892602491924886860

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item