Puisi-puisi R. Qusyairi Guluk-guluk


R. Qusyairi
Asal Bragung, Guluk-guluk Sumenep Madura. Santri Annuqayah daerah Latee 1. Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah. Aktif di komunitas sastra Café Latte 52. Baginya puisi adalah kenyataan; mendekap kenangan untuk kebahagiaan di masa depan. Beberapa karyanya pernah dimuat di koran Jawa Pos Radar Madura, Suara Merdeka Jawa Tengah, majalah, dan bulletin pesantren Annuqayah.



Monolog Kesaksian
         ; untuk RA. Kartini

Aku membaca matamu, seperti terik yang tak ‘kan kalah dengan hujan. Seperti buku tebal yang tak kunjung selesai. Seperti hati yang lebam, tetap mengeja tanpa sesal. Seperti embun terhempas angin tetap bekaskan dingin. 

Aku kembali beku, melihat sekumpulan sajak, buku-buku, majalah-majalah, koran-koran, yang menjadikanmu buah mulut peradaban. Sungguh sampah yang berkata kau kosong; tak mengandung suatu apa; makhluk terbelakang dari barisan perempuan.

Aku menjulang dari lembar-lembar surat yang panjang. Menempuh anak benua di belahan dunia. Dalam baris kata yang kau tulis, tersurat gaum perjuangan untuk para puan. Termasuk aku dan anak cucu.

Aku getir dalam penantian juga pertemuan. Berpikir panjang dalam celah kalimat-kalimat persaksian. Sebab pada pundakmu puan di negeri ini tertopang tanpa wajah-wajah masam ditikam budaya kelam.

Aku bukan hendak menertawakan sejarah yang ada. Masa lalumu terkungkung, darahku beku aku tercenung. Nampak bagiku teriakan batin luar biasa, kalahkan debum senjata angkara. Dari ini semua lapisan menunduk, merasakan dahaga yang sudah sirna.

Madura, 08 Januari 2021



Hujan Hari Ini

hujan kenangan
rindu pun runtuh berserakan
sarwono rupanya mengintai
masihkan aku dengan harapan sebagai pinkan
yang ambigu karena penantian
namun tak resah oleh kepastian
 
Madura, 05 Januari 2021



Mata Malam

sungguh senyap, Kekasih
hanya cumbu gemintang
nampak terang saat beberapa makluk bumi mulai telentang
terlihat pula endapan rindu di dadanya
serupa ampas kopi
tertinggal di meja makan, sepi
 
Annuqayah, 05 Juli 2020


Cermin Permohonan

di atas air
sedang berkaca darah pekat
yang sesekali mengkilat
mengejar, menukar karam
agar benar-benar tak hinggap
apa yang lalu-lalu
; kenangan semoga hilang mengendap
 
Annuqayah, 12 Juli 2020



Getir

suatu hari nanti aku takut
tanganku berubah batu
kaku sekakukakunya kaku
sulit menggenggam puisi yang berkelana

suatu hari nanti aku takut
curam di teluk bahasamu
menjadi alasan, kau suruhku diam
sebatas mencabut rumput
menakar nasi dan lauk pauk

suatu hari nanti aku takut
kedap di celah kata
membuat aku malas membaca
raba dan luka hati yang menganga
kapan saja
 
Annuqayah, 12 Juli 2020








POSTING PILIHAN

Related

Utama 7964805280699092021

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item