Menyingkap Tabir Rahasia Kehidupan


Nama Syekh Abdul Qadir al-Jailani sudah tidak asing lagi bagi seluruh umat Islam terutama di Indonesia. Bahkan, orang awam sekalipun. Sosok yang dikenal sebagai pemimpin para wali (Sulthanul Auliya’) ini selalu ditawassuli dan dikirimi surah al-Fatihah. Mereka melakukan itu semua karena beliau terkenal kewaliannya dan kedekatannya dengan Allah. Selama masa hidupnya, beliau telah mencurahkan seluruh umurnya untuk mencari ilmu dan menyebarkannya kepada orang lain. Meski begitu, sangat sedikit yang benar-benar mengerti, paham dan mengamalkan ajaran yang beliau ajarkan selama ini.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani ini termasuk ulama yang memegang teguh akan ajaran syariat. Mayoritas ulama yang lain pun mengakui akan hal tersebut. Seperti Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Qalaid al-Jawahir berkata : “Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah ulama yang sangat berpegang teguh pada syariat. Beliau juga menyeru umat untuk berpegang teguh dengan syariat dan berpaling dari orang-orang yang melanggarnya.”

Pada dasarnya, manusia dan jin diciptakan semata-mata hanya untuk menyembah kepada Allah. Sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah-Ku” (QS. adz-Dzariyat : 56). Untuk menyembah Allah dibutuhkan sebuah ilmu yang dapat mengenalkan kita kepada Allah, sehingga dalam menjalankan semua ibadah-Nya, hati kita sudah yakin dan tidak ragu lagi. Dan dengan ilmu, manusia akan diangkat derajatnya oleh Allah. Kita ingat bahwa Allah memuliakan Nabi Adam atas para malaikat sebab Allah telah mengajarkan ilmu-ilmu kepada Adam. Artinya, ilmu itu memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena tidak ada karunia yang paling bernilai, yang paling agung, permata yang paling mahal, dan harta yang paling menguntungkan kecuali ilmu.

Amal perbuatan seseorang tidak dikategorikan baik manakala tidak didasari pada keimanan yang baik serta ibadah yang kokoh. Keimanan bisa sempurna apabila disertai dengan pelaksanaan ibadah, amal saleh, dan akhlak mulia. Pemahaman seperti ini merupakan pendekatan sufistik.    

Pada mulanya, manusia membutuhkan ilmu syariat agar ruh dapat meraih derajat atau pahala surga melalui usaha fisiknya. Yaitu dengan mengerjakan semua perintah-perintah Allah, seperti shalat, puasa, zakat dan lain-lain serta menjauhi segala larangan-Nya dengan segenap jiwa dan raga. Kemudian, manusia membutuhkan ilmu batin agar ruh dapat mencapai alam makrifat. Semua itu tidak akan tercapai, kecuali dengan meninggalkan segala sesuatu yang menyimpang dari syariat dan tarekat. Caranya, dengan melatih hawa nafsu dan rohani demi meraih ridha Allah swt. tanpa dinodai keinginan untuk dipuji (riya’) atau mencari kemasyhuran  atau sum’ah (hlm.12).  

Kita sebagai hamba Allah wajib melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia juga wajib melawan nafsu dan syahwatnya. Manusia takkan mampu untuk melakukan semua itu kecuali menguasai ilmu syariat dan ilmu batin. Dengan ilmu syariat seorang hamba dapat menjalankan tugasnya secara lahiriah. Seperti menjalankan shalat yang lima kali dalam sehari semalam sesuai dengan rukun-rukun, syarat-syarat dan sunnah-sunnahnya. Namun shalat tidak ada artinya apabila hati tidak hadir dalam artian tidak khusyuk. Karena jika hati seorang hamba alpa dari keagungan Allah, maka shalat lahirnya menjadi rusak. Karena pada hakikatnya seseorang yang shalat itu sedang bermunajat kepada Tuhannya, dan pusatnya adalah hati. Apabila hati telah terkotori oleh noda-noda hitam maka terhalanglah seorang hamba itu dengan Tuhannya dan ia akan sulit untuk khusyuk. Dari sinilah, ilmu batin sangat penting. Karena kalau kita hanya mengandalkan ilmu syariat (lahir), maka ibadah kita tidak akan sempurna dan tidak bernilai apa-apa. Dan juga segala bentuk ibadah itu hanya dapat sempurna dengan keduanya (ilmu syariat dan ilmu batin), bukan satu di antara keduanya.

Ilmu mempunyai kedudukan yang sangat mulia dan luhur dalam Islam. Dengan ilmu Allah akan menghidupkan hati hamba yang mati, sebagaimana Allah menghidupkan tanah yang mati dengan air hujan yang Allah turunkan. Dengan berbekal ilmu, seorang hamba harus mengetahui tugas dan tujuannya hidup di dunia ini. Ia harus memahami bahwa ia tidak bisa lepas dari tugasnya sebagai khalifah di bumi.

Buku Rahasia di Balik Rahasia (Sirrul Asror) ini menyuguhkan prinsip-prinsip tasawuf  secara lugas dan padat. Meski banyak tokoh sufi yang menulis karya-karya sufistik, Syekh Abdul Qadir al-Jailani memaparkan jalan spiritual secara lebih gamblang yang diterima secara luas. Dalam buku ini, beliau menjelaskan ajaran-ajaran dasar Islam (shalat, puasa, zakat, dan haji) dari sudut pandang sufistik, serta dikupas kedalaman maknanya dan keeratan hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari.

Di bagian akhir pembahasan buku ini, Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengingatkan kita untuk tidak takut dalam menghadapi sakaratul maut. Bahkan yang harus dilakukan seorang mukmin di saat sakaratul maut adalah memiliki raja’ (harapan) kepada anugerah Allah yang lebih besar daripada rasa takutnya. Disebutkan dalam hadis bahwasanya Rasulullah bersabda : “Jangan sampai seorang dari kalian mati kecuali dengan bersangka baik kepada Allah.” (hlm.236).

Buku ini terdiri atas 24 bab, sama persis dengan jumlah huruf dalam kalimat syahadat (dalam versi Arabnya) ¬– la ilaha illallah Muhammadar Rasulullah – dan sama persis dengan 24 jam dalam sehari semalam. Kitab Sirrul Asror ini juga merupakan kitab pengantar untuk memahami kitab-kitab Syekh Abdul Qadir al-Jailani lainnya, seperti Ghunyat at-Thalibin (Bekal Para Pencari Tuhan) yang merupakan panduan bagi siapa saja yang ingin menjadi muslim yang shaleh, dan Futuhul Ghayb (Penyingkap Kegaiban) yang berisi ceramah-ceramah beliau mengenai tema-tema tasawuf. Dengan membaca buku ini, InsyaAllah kita dapat menerangi jiwa kita dan terarah di dalam menuju puncak ilmu.

Kita patut bersyukur kepada Allah, karena penerbit TUROS PUSTAKA selalu menerjemahkan kitab-kitab klasik peninggalan ulama salaf sebagai sarana untuk menjaga dan melestarikan khazanah keislaman. Salah satunya buku terjemahan dari kitab Sirrul Asror yang ada di tangan pembaca ini. Karena di zaman sekarang sulit sekali menemukan orang yang bisa membaca kitab kuning. Dengan hadirnya buku ini, kita bisa mengetahui isi karya-karya ulama-ulama saleh terdahulu tanpa terlebih dahulu membaca kitab aslinya.

Buku ini sangat cocok untuk dibaca oleh setiap muslim, sebagai sarana untuk memperbaiki ibadah kita. Agar ibadah yang kita lakukan setiap harinya bukan hanya sekadar rutinitas saja. Dan juga agar ajaran agama tidak hanya menjadi konsep lahiriah tanpa kekuatan batin sehingga agama berubah menjadi sekadar adat.

Kelebihan buku ini dibandingkan buku-buku terjemahan lainnya adalah penerjemah menerjemahkannya dengan sangat detail yang mengacu pada kitab aslinya yang berbentuk bahasa Arab, pada setiap babnya terdapat bagan-bagan informatif yang meringkas topik pembahasan di setiap babnya agar para pembaca mudah memahami setiap isi per bab. Selain itu ada beberapa ayat yang sengaja disajikan secara utuh. Dengan harapan, konteks ayat yang dimaksud tidak dipahami secara sepenggal-sepenggal. Dalam kitab aslinya, ayat-ayat itu disajikan dalam penggalan-penggalan yang menyatu dalam paragraf-paragraf isi kitab. Dan juga istilah-istilah tasawuf yang sulit dipahami pada naskah aslinya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia agar lebih mudah dipahami dengan tetap mempertahankan keasliannya. Wallahu A’lam bis-Shawab.

*M.Rizal, Santri Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Selatan dan  Mahasiswa INSTIKA Guluk-Guluk Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Semester II



   

POSTING PILIHAN

Related

Utama 6282251512605227892

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Segera Terbit

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal


 

item