Sajaksajak Joko Rabsodi


Joko Rabsodi
Adalah guru di SMAN 4 pamekasan-madura. Tulisannya dimuat dibeberapa media nasional, seperti horison, pikiran rakyat, kedaulatan rakyat dan bali post.
Alamat kantor: SMAN 4 pamekasan, jl. Pintu gerbang no.39a pamekasan.
Alamat rumah: Jl Gatotkoco Gg.VIII Rt.02/Rw.04 kelulurahan kolpajung-pamekasan
Telp: 087866146509


Difabel

Ibu\
Kau titipkan airmata di dadaku
napasku selalu terlapis namamu
cabutlah kado itu, aku tak sanggup lagi
menyisir rindu yang dalamnya tak terukur waktu
jangan biarkan tangan ini menari
atas wujudmu, karena sesungguhnya ia duka
yang tak bisa kuwarnai

//
andai tuhan sore ini bertanya, ia akan tahu
bahwa airmata itu telah menjadi hati
dan mungkin membatu
tunggu apalagi ibu, tiap surya yang kau poles
dari daun seroja, hanya mengantarkan aku
pada rasa yang tak bisa kunikmati
hari-hari terus mengkerut bahkan malaikat pun
menganga; “doa mana yang kau pilih ibu?”

Ibu\
kulipat keyakinanku meski huruf-hurufnya
tak lagi menggemaskan
terpaksa kuulang sepi yang telanjang
tanpa matahari maupun rembulan
tapi malam ini aku masih setia digaris tepi
untuk membuka mimpi dari mukaddimah yang
berangsur-angsur turun  dari lisanmu
tapi perlu engkau ingat ibu;
aku bersyukur atas ketidak sempurnaanku
aku berhati-hati dalam kelengkapanku
karena setiap langit  ada atapnya
setiap telaga ada dasarnya

pamekasan, 21-01-`21


Wahdatul Wujud
-hamzah fansuri


Tuhan!
masih pantaskah kusebut asmamu
padahal engkau tak bertuah
aku bukan engkau
engkau beda dariku
kita hanyasatu
dalam bara


di pesantren, 22 -01-`21



Belajar Pada Embun dan Lidah

anakku, belajarlah pada embun yang ikhlas dikutuk matahari
tiada keluh terlontar meski tubuh selalu terkapar
ia masih merasa beruntung sempat dilahirkan
 walau berakhir diatap-atap jalanan
ia tidak merasa terbuang

belajarlah pada lidah yang jujur pada setiap musuh
siapapun yang hadir ditelan semua tanpa kasta
dan amarah. Kekar ditiap keadaan, berani dalam perbuatan
disinilah terkadang kebenaran terbenam oleh sumpah serapah
dan lidah tak bertulang.
--Jagalah lidah!
   jangan terhasut retorika ludah

pamekasan, 03-02-`21 
 

 

Gadis Kecil di Suatu Siang
- nawal sadawi

Seorang gadis kecil disudut paling belakang bernyanyi
tentang sakit yang tak berkesudahan,
apa yang terjadi kemarin siang dipelataran
menghentakkan urat nadi
seluruh gairah tersimpan daun-daun tua
yang siap kering menggurkan dedahan

ibu dari gadis kecil itu blingsatan
mengatur kata-kata untuk mendiamkan
musim yang tiba-tiba berganti hujan
 goresan luka ditangan kirinya dipenuhi tangis
karna tak mampu lagi mengepakkan sayap untuk
terbang lebih tinggi

gadis kecil itu semakin mengeluarkan keringat
mencoba berontak pada peradaban yang ia sendiri
tak paham mengapa nyeri ini menjadi suatu jawaban
dari detak jam di sekolahnya
ia pun memipih dan ditampung jasad ibunya
ia mengisahkan duka yang teramat dalam
seperti dalam sajak bulan tertusuk lalang  

oh gadis kecil yang murung
maukah kau datang ke pundakku?
akan kuperkenalkan awan yang lebih tinggi
siang yang lebih terang
untuk mengurai sakitmu secara perlahan
disana kita belajar merangkum nasib sendiri
dan membuang lamunan yang isinya sunyi

gadis kecil mungil segeralah kemari!
kita genderang nyanyian ini sekeras mungkin
sampai ke tengah langit hingga ke ufuk samudra
agar gadis-gadis kecil lain tak melantunkan
prototype luka di masa yang akan datang


pamekasan, 03-02-`21


  1Salah satu judul antologi puisi D.zawawi imron

 

Mukmin

pada akhirnya kita akan kembali tanpa
aroma gaduh yang diceritakan orang-orang
semuanya akan sempurna hadir dan berkumpul
pada satu lantunan; mahsyar!


pamekasan, 01-03-`21
 

 

Ramah

selamat jalan, ramah
tanahku basah bahkan sebagian banjir airmata
mengantarkan tubuhmu ke pusara
ada yang hilang dalam biji mataku
sosok tegas nan tegar berkacamata bening

pamekasan, 19-03-`21
 

 

Pasrah
-coretan kecil mbk yu


haruskah bahagiamu  kutulis luka
diatas batu di dalam gua yang gelap
    -hidup pasrah  waktu pun punah-

Meski engkau ingin sendiri
Meniduri malam tanpa sandaran lentera
Tak perlu kiranya kau kucilkan purnama

Kalau kita tidak seperti dulu
Apakah sejarah menjadi pucat tak terbaca?

Puing itu selamanya akan jadi gerimis
Retak didalamnya adalah muhasabah
Untuk berdiri di atas trotoar zaman

pamekasan, 26-05-`21
 

 

Tak Ada Yang Merinduiku Lagi

mungkin sudah digariskan
kita bertemu tanpa sengaja disuatu senja
kau ulurkan cuaca yang basah oleh hujan
sore tadi, aku hanya mencium harumnya
merayap diantara bayang-bayang tenda

aku melihat tanganmu
seperti meditasi sekuntum mawar
yang menawarkan luka teramat dalam
    ‘tak ada yang merinduiku lagi’
belum selesai ceritamu, jalan raya termangu
menunggu kemungkinan; inikah malam seribu bulan
tercabik belati yang kau hujamkan ke tengah malam?
adakah kebiasaan lain, setiap yang merindui pasti akan
dilukai!
kita sama-sama punya rindu
tatapan kita kadang terpukau impian tanpa ujung
kukira kau takkan lupa, sebutir keringatmu pernah tergolek
lemas menghitung dinding kasur
masihkan kau katakan tak ada yang merinduimu lagi?
 

pamekasan, 27-05-`21
 



POSTING PILIHAN

Related

Utama 2987283082454709129

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item