Hidup Aman dengan Nasehat Gus Nadir dan Kang Maman


Buku ini hadir untuk menyadarkan kita bahwa kehidupan itu seperti roda, artinya berputar, tidak selamanya di atas dan tidak selamanya di bawah, sehingga tidak mungkin selamanya kita akan bersedih atau selamanya akan senang, orang–orang yang kelihatan selalu senang sekalipun pasti pernah mengalami yang namanya kesedihan.

 Siapa yang tidak mengenal seorang David Beckham, pemain top dunia yang terkenal membahana dengan skil dan kemampuannya, tapi siapa sangka dia akan mengalami kegagalan mengeksekusi penalti, atau hal serupa yang terjadi pada Diego Maradona pada tahun 1990, mustahil mereka tidak di tertawakan dan dicemooh penonton, tapi mau bagaimanapun begitulah kehidupan, ikuti saja nasehat Gus Nadir “tersenyumlah  mulailah hari-hari dengan optimis, kalau hidup memberi anda dua tiga masalah anda masih bisa menemukan seribu macam alasan untuk tersenyum”(hlm,203).

    Gus Nadir marupakan nama panggilan dari Nadirsyah Hosen, rais suriah pengurus cabang istemewa Nahdatul Ulama di Australia dan Newzeland, sekaligus seorang dosen di kampus kelas dunia, kini beliau berusaha menebar Islam yang rahmatan lil alamin, diantaranya yaitu dengan via buku, seperti buku ini, dan juga melalui kursus online. Selain Gus Nadir, buku ini juga memuat tulisan-tulisan Kang Maman, seorang jurnalis yang memiliki nama lengkap Maman Suherman. 

Dari tangan emasnya telah lahir puluhan naskah program televisi. Namun jangan salah sangka dulu, sebagai seorang jurnalis dan orang yang aktif di televisi, tidak berarti dia bukan orang yang religius, sebab dengan membaca buku ini akan membuka pengetahuan kita mengenai sosok Kang Maman, khususnya dari segi kerelegiusanya, meski sudah menjadi kebiasaan manusia tidak menyukai hal yang tidak mereka ketahui, sebagaimana pekataan “ Al-Insan aduwwu ma jahilu”(manusia adalah musuh bagi sesuatu yang tidak mereka ketahui) sehingga mereka dengan mudah menjudge seseorang yang tidak mereka ketahui dengan sesuatu yang tidak mereka senangi. Sehingga kita dituntut untuk selalu positif thinking dan kembali mendengar nasehat gus Nadir, agar tidak mudah menghakimi hidup orang lain ”berhentilah menghakimi hidup orang lain, fokus saja pada hidup anda yang sebenarnya sangat indah itu”(hlm,202).

Selain tidak mudah menghakimi hidup orang lain Gus Nadir juga menasehati kita untuk tidak membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, karena sebab membanding-bandingkan inilah yang juga menjadi penyebab kita menghakimi hidup orang lain, sehingga tidak salah jika Gus Nadir menggolongkan penyakit ini kedalam golongan penyakit paling parah, kita pasti pernah mendengar nama atau bahkan cerita Iblis, dia pun dilaknat oleh Allah SWT juga bermula karena membandingkan dirinya dengan Nabi Adam, dirinya merasa lebih mulia karena tercipta dari api, sedangkan Nabi Adam hanya diciptakan dari tanah,  dengan pemikiran seperti itulah ia menolak bersujud kepada Nabi Adam AS.

Nasehat-nasehat dan nilai-nilai yang terkandung di dalam buku ini merupakan sesuatu yang sangat penting untuk kita implementasikan dalam kehidupan kita, untuk dapat mencerminkan Islam yang rahmat, yang membawa kasih sayang bagi seluruh alam, bukan agama teroris, yang penuh dengan kefanatikan. Namun dalam mengimplementasikan dan mengaplikasikannya tidaklah semudah kita meludah, namun masih membutuhkan perjuangan dan riyadlah, terutama dalam meninggalkan kejelekan, yang dikenal dengan bahasa hijrah.

Sebagaimana pemaparan Maman Suherman mengenai hijrah, hijrah bukanlah pekerjaan yang dapat direalisasikan dengan instan, apalagi hijrahnya karena Tuhan dan untuk tuhan, dalam hijrah, kemesraan hamba dengan Tuhan bukanlah puncak atau akhir perjuangan, sebagaimana dalam berislam, sungguh-sungguh dalam menjalani Islam merupakan proses, demikian pula hijrah ”lintasan yang teramat panjang, hingga detak jantung berhenti berdegup, yang ujungnya, babak finalnya bukan di dunia melainkan kelak di akhirat. Dengan satu pengharapan semata: amalan kita diterima , wafat dalam khusnul khatimah”(hlm,82)

Selain memaparkan mengenai keagamaan, buku ini juga memaparkan mengenai pendidikan, dan problematika yang sering kali terjadi di dalamnya, hingga sikap seorang yang berpendidikan, kalau anda masih belajar, maka jadilah orang yang terpelajar , jangan  malah bersikap kurang ajar, kalau anda hanya tahu sedikit, jangan dikit-dikit kasih dalil sana sini tanpa mengetahui wajah istidlalnya, kalau anda merasa mahir dalam agama , anda tidak akan sembarangan bilang yang lain kafir(hlm,139).

Refleksi kehidupan yang sangat menyentuh hati yaitu tulisan Kang Maman tentang Palestina , sebab baru-baru ini konflik yang banyak menewaskan saudara–saudara seiman kita di palestina kembali terjadi, dari tulisan beliau kita dapat mersakan kesedihan mereka di sana dan mengetahui konflik yang baru terjadi ini, yang masih terasa hangat di hati kita melihat tumpahan–tupahan darah  dari saudara kita di sana bukanlah yang pertama kalinya melainkan yang kesekian kalinya. Dengan tambahan puisi Kang Maman tentang palestina, yang semakin membuat hati kita terusik untuk mengulurkan tangan kita kepada mereka di sana, terutama puisi dengan judul ”Nak” yang terinspirasi dari celengan putrinya sendiri.

Dengan bahasa yang renyah buku ini hadir di tangan pembaca.  Pembaca pun bisa tidak mudah bosan dan jenuh dengan penggunaan bahasa yang demikian, menjadikan buku ini sangat cocok untuk menjadi teman kita di waktu senggang, sebagian di dalamnya dihadirkan dalam bentuk dialog yang semakin menambah kesan santai, ditambah dengan cerita-cerita inspiratif baik yang bersumber dari penulis sendiri atau dari sumber-sumber lainya, namun perlu kita ketahui bahwa hadirnya buku ini dengan karakter demikian dapat membuat pembaca harus pandai-pandai dalam menangkap pesan-pesan yang hendak disamapaikan penulis.

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan sekaligus ketua Halaqah Kitabiyah tahun 2021

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 1330247225949868721

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item