Dibalik Besarnya Aliran Teologi Ahlussunnah Wal Jamaah


Ahlussunnah wal jamaah
atau yang sering kali dikenal dengan sunni merupakan suatu aliran teologi yang banyak diikuti oleh para ulama dan jumhurul muslimin, bahkan aliran ini bisa dikatakan yang terbesar diantara aliran teologi yang lain. Hal ini bukan tanpa alasan. Besarnya aliran ini karena di prakarsai oleh tokoh yang fantastik dengan manhajnya yang terkenal moderat dan rasionalis, yaitu Abu al-Hasan al-Asy’ari.    

Abul Hasan al Asy’ari memiliki nama lengkap ‘ali bin Ismail ibni Abi Basyar, nama lainnya ialah Ishaq ibn Salim ibn Isamail ibnu Abdillah ibnu Musa ibnu Bilal ibnu Abi Burdah ibnu Abi Musa. Dengan demikian nasab imam Al-Asy’ari bersambung kepada Abu Musa al-Asy’ari, seorang sahabat Nabi yang agung, kaya ilmu dan keutamaanya. Imam al-Asy’ari banjir pujian dari berbagai kalangan ulama, baik mengenai hujjahnya yang rasionalis hingga sikapnya yang mencerminkan akhlak-akhlak yang terpuji, yang banyak tertulis dalam syair-syair para ulama, seperti  Syekh Abu al-Qasim  al-Jazari al-Iskandarani, Abu Nasr ‘Abdur Rohim Abdul Karim, Ibnu Hawazim al-Qusyairi dan masih banyak yang lain lagi.

Dalam ajarannya Imam Al-Asy’ari menerapkan manhaj-manhaj dalam memburu kebenaran, diantaranya, beliau mencari hakikat dan membuang fanatisme, hal ini dapat kita lihat dari pemikirannya yang telah lama menganut pemikiran-pemikiran mu’tazilah, namun karena beliau menemukan kebenaran yang  mengharuskannya berpaling dari pemikiran mu’tazilah, maka beliau hilangkan rasa fanatisme terhadap golongan yang telah lama ia pegang  untuk tetap kembali pada kebenaran. Sebagaimana perkataannya dalam kitab al jawabat fi shifat an masail ahl al-zaigh wa al-syubuhat,” dalam kitab itu kami membatalkan sebuah kitab yang pernah kami tulis untuk membenarkan mu’tazilah, tidak ada kitab serupa yang ditulis untuk membela mereka, kemudian Allah memperlihatkan kebenaran kepada kami, maka kami pun keluar dari madzhab mu’tazilah itu dan membatalkannya, bahkan menjelaskan kebatilan-kebatilanya”.

Kedua, berpikir tanpa henti  dan banyak merenung dalam kesendirianya, hingga benak dan pikirannya dipenuhi dengan berbagai pertentangan dan keraguan. Dan disambung dengan yang ketiga yaitusenantiasa berlindung kepada Allah SWT, tunduk dan mengakui kelemahan-kelemahanya, beserta mengharap hidayahNya

Keempat, menjadikan Al-Qur’an dan hadist sebagai sumber-sumber autentik dalam menggali hukum-hukum syara’. Doktrin-doktrin diatas  merupkan latar belakang aliaran ini bayak digandrungi banyak ulama dan jumhurul muslimin.

Sejarah yang tertulis di dalam buku ini mengenai Imam Al-Asy’ari tidak semuanya mengisahkan kebahagiaan, beberapa kejadian menyedihkan yng menimpa imam besar asy’ariah atau ahlu al-Sunnah ini juga terekam dalam buku ini, diantara lain yaitu hilangnya sebagian kitab agung imam Al-Asy’ari, sehingga tidak dapat samapai kepda kita, mengenai jumlahnya imam Al-Kaustari mengutip dari imam al-Maqrizi bahwa jumlahnya tidak kurang dari 70 jilid. Sedangkan menurut Imam Al-Qadhi Abu bakar ibnu Arabi kitab beliau yang yang hilang berjumlah 500 jilid, setiap kitab memiliki jilid yang berbeda-beda tergantung pada khat dan bentuknya. Ada suatu riawayat yang mengatakan bahwa dalang di balik hilangnya sebagian kitab Imam Al-asy’ari ialah Shahib ibnu Ibad al-Mu’tazili, yang berusaha membakar naskah satu-satunya  dari lemari darul khilafah dengan menyogok penjaga lemari tersebut dengan sepuluh ribu dinar.

Kendati demikian kita tidak perlu bersedih, karena ilmu-ilmu beliau tetap dapat kita nikmati melalui pengikut-pengikut beliau yang kompeten dan mengikuti manhajnya yang luhur termasuk dalam bidang tafsir, seperti  Ibnu Furak al-Asy’ari, Al-Baqilani, Al-juaini, Al-Ghazali, Ar-Razi, dan lain-lain.

Menyinggung persoalan tafsir, buku ini telah menyajikan metode-metode  tafsir yang diaplikasikan Imam Al-Asy’ari  untuk memahami Al-Qur’an  yang mulia, diantaranya yaitu; tidak boleh menafsirkan Al-Qur’an hanya berlandaskan akal tanpa da dalil yang kuat dan argumen yang jelas dari Al-Qur’an, serta seorang mufassir diharuskan berpedoman pada bahasa yang fasih. Selain itu dalam membantah argumen hawa nafsu dan pelaku bid’ah terutama kelompok mu’tazilah, harus dibantah dengan argumen yang ilmiah dan melalui poros intelektual, sebagai upaya untuk menghilangkan tudukdn-tuduhan terhadap kaum muslimin melalui jalur pemikiran. Sehingga dari metode-metode ini tidak salah jika dikatakan bahwa golongan Asy’ariah merupakan penganut rasional.

Meski judul buku ini hanya terbatas pada biografi, namun didalamnya secara luas menerangkan mengenai hal yang sangat penting kita ketahui  walaupun tidak memiliki relevansi  dengan judul buku ini namun tetap penting untuk disajikan, karena memilki titik relevansi dengan pembahasan didalamnya seperti mengenai problematika mengadili paham mu’tazilah.

Dalam masalah takfir golongan Asy’ariah hampir sama dengan doktrin murji’ah yaitu tidak mengkafirkan pelaku dosa besar seperti berzina, mencuri, minum arak dan semisalnya berbeda dengan kaum khawarij. Karena bagi golongan Asy’ariah masalah kafir merupakan masalah keimanan “sesungguhnya keimanan itu merupakan dasar yang paling mendasar dalam islam, siapa saja yang memasukinya dengan yakin, maka tidak bisa keluar darinya kecuali dengan yakin pula, sehingga seseorang tidak dapat dinyatakan keluar dari keimanan dengan perbuatan yang syubhat (belum jelas)”.(hlm,115)

Selain Asy’ariah, yang menjadi tonggak Ahlussunnah juga terdiri dari maturidiyah, namun telah masyhur dikalangan ahli ilmu bahwa istilah Asy’ariah telah lazim untuk menyebut seluruh Ahlussunnah, walaupun sebagian  mereka berasal dari kalangan maturidiyah, karena paham keduanya sesungguhnya sama, hanya saja memiliki sedikit perbedaan yang berkutat pada masalah peristilahan.

*Moh. Bahrudi, santri aktif Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Selatan


POSTING PILIHAN

Related

Utama 350256639982863949

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item