Roman: Si Buruk Rupa dan Si Cantik Jelita Bunga Desa


Membaca novel ini tidak ubahnya turut nongkrong di warung bu Siti, ngopi, tentu saja tidak merokok seperti tokoh-tokoh dalam cerita karena saya perempuan, dan ikut serta mendengarkan bualan si Warto Kemplung_ julukan yang terlanjur melekat pada seorang pembual di warung bu Siti sebab sering membualkan berita bohong. Termasuk kisah kelabu dari rumbuk randu diceritakan juga oleh si Kemplung demi kopi dan rokok gratis. Si Kemplung mampu membuat penasaran tokoh aku_ seorang wartawan_ yang kemudian menuliskan kisah Mat Dawuk dan Inayatun dalam bentuk novel. Sampai pulalah kisahnya pada saya. Tak peduli apakah bualan atau tidak, saya terlanjur menikmatinya sejak awal. Lebih-lebih menikmati kisah cinta si buruk rupa_Mat Dawuk_ dan si kembang desa cantik jelita_ Inayatun, serta akhir bagi mereka yang tragis.

Rumbuk randu, desa Mat Dawuk dan Ina dalam novel berlatar di kawasan pesisir utara timur Jawa, bersisian dengan hutan jati_ wilayah dimana konflik sinder-mandor-blandongan timbul. Kondisi hidup sosial masyarakat yang gemar menggosipkan satu sama lain, gemar mendengarkan musik dangdut dan India, serta masyarakat yang kebanyakan merantau ke Malaysia menjadi TKI.

Latar suasana pedesaan yang dikemukakan tak jauh dari suasana pedesaan di dunia nyata. Menentukan kebenaran hanya dari satu perspektif pribadi, merasa apa yang dipikirkan itulah yang paling benar. Hal ini nampak jelas ketika mereka mengasingkan Mat Dawuk yang memiliki rupa jelek, bahkan cenderung menjauhi dan memusuhi. Mendoktrin anak cucunya untuk turut menghakimi seseorang karena buruk rupa. Begitu pula kepada Inayatun, kecantikannya membuatnya jadi perempuan yang gampangan dan diisukan suka menggoda suami orang. Warga pun gencar menggunjingnya, bapak- ibunya membencinya. Repot sekali bukan?. Namun ya harus diakui inilah keseruan novel ini, si buruk rupa dan si cantik jelita sama-sama dibenci warga di desanya.

Warga desa Rumbuk Randu seakan enggan peduli pada kenyataan betapa kesepiannya hidup Mat Dawuk. Kelahirannya menyebabkan kematian ibunya, ayahnya menyusul meninggal tak lama kemudian. Dan kakek yang sempat merawatnya tiba-tiba menghilang. Ditambah lagi, warga desanya sendiri tidak menerimanya sebab buruk rupanya, padahal mulanya dia tidak berwatak jahat, namun hanya karena penampilan fisiknya yang menyeramkan bagi warga dia seperti sesuatu menjijikkan yang pantang didekati apalagi dikasihani. Pada bagian ini saya sangat sentimentil, sepi yang melingkupi Mat Dawuk seperti tiba-tiba melingkupi saya. Ingin sekali mengatakan padanya bahwa saya peduli dan dia tidak sendiri. Ah, jika sudah begini penulis berhasil binggo menyentuh emosi saya.

Akhirnya Mat Dawuk merantau ke Malaysia, dan jadi pembunuh bayaran. Miris sekali. Barangkali keputusannya mengambil pekerjaan mengerikan semacam itu adalah wujud kekesalannya pada dunia yang seakan menolak kehadirannya. Kesedihan saya disini memuncak. Sekali lagi penulis berhasil memainkan emosi saya.

Disinilah Mat Dawuk bertemu dengan Inayatun si kembang desa_yang menjadi TKI. Mat Dawuk menyelamatkan Inayatun yang sedang berusaha melarikan diri dari suami over-protektifnya. Disinilah dua tokoh utama kontras bertemu kembali, si buruk rupa dan si cantik jelita. Dua tokoh utama yang sama-sama menjadi pusat kebencian warga desanya. Dua tokoh yang menurut saya sedang berada di jalan yang salah. Mat Dawuk yang telah membunuh sekian orang dan Inayatun yang telah sekian kali berganti pasangan.

Kebaikan hati Mat Dawuk yang mengajak Inayatun tinggal di tempatnya, memberi Inayatun perlindungan dan rasa aman membuatnya jatuh hati. Dalam bilik sempit Mat Dawuk di Malaysia kisah cinta si buruk rupa dan si cantik jelita dimulai, berulang kali bercinta dan akhirnya memutuskan menikah. Sebelum menikah dan hanya sering bercinta saya menemukan suatu adegan yang unik, yakni saat Mat Dawuk mencopot poster ayat kursi di dinding biliknya dan mengepak alquran dan kitab arabnya ke dalam kardus sebab merasa tidak enak saat melakukan dosa dihadapan ayat-ayat alquran. Dia memasangnya lagi setelah memutuskan menikah di bulan keempat mereka tinggal bersama. Bagi Mat Dawuk, menjadi pembunuh bayaran adalah satu hal dan menghormat ayat alquran_kitab agama_ adalah hal lainnya.

Selain itu sejak mereka menikah, saya merasa lega mereka akhirnya akan hidup di jalan yang benar dan hidup bahagia. Ina akan setia pada satu lelaki dan Mat akan berhenti membunuh seperti yang dijanjikannya.

Tidak lama setelah menikah, mereka memutuskan pulang kampung dengan tujuan untuk hidup yang lebih baik. Mereka pikir kehidupan di desanya akan lebih damai dan menjamin masa depan yang bahagia. Tentu saja setelah mereka pulang dan diketahui telah menikah menjadi isu super hot bagi warga desa. Kenyataan bahwa si buruk rupa dan si cantik jelita telah saling cinta membuat mereka terkejut luar biasa. Ayah ibu Inayatun semakin membencinya dan membenci menantu buruk rupanya, mereka tidak diterima di rumah Ina.

Alhasil mereka tinggal di bekas kandang sapi. Namun itu bukan masalah bagi mereka selama masih berdua. Kian hari mereka kian romantis saja, memiliki satu sama lain sudah cukup bagi mereka. Cibiran dan hasutan warga yang masih membenci mereka hanya mereka anggap angin lewat. Inayatun menanggapi ejekan ibu-ibu di pasar dengan candaan dan analogi yang memukul balik. Dia tidak goyah, baginya Mat Dawuk kini adalah cinta sejatinya. Tidak ada yang bisa menggoyahkan itu.

Namun ternyata kisah Mat Dawuk dan Ina benar-benar menjadi roman. Inayatun meninggal mengenaskan saat sedang mengandung anak Mat Dawuk. Angan-angan akan memiliki anak kandas sudah. Lebih ironisnya, warga desa menuduh Mat Dawuk lah yang membunuh Ina_istrinya sendiri_ sekaligus membunuh mandor Han karena mereka berselingkuh.  Dia dihakimi tanpa diberikan kesempatan menjelaskan, dipukuli warga hingga nyaris meregang nyawa jua, dan dijebloskan ke penjara. Hufftt, disini saya merasa hidup sungguh tidak adil bagi Mat Dawuk, dia hanya bahagia sejenak bersama istrinya. Saat kehilangan anak dan istrinya, tidak ada yang menghibur malah semakin dikucilan dan dihinakan.

Belum lagi setelah bebas dari penjara, warga desa masih memburunya untuk dibunuh karena masih merasa dia bertanggung jawab atas kematian Ina dan mandor Han. Didukung kesaksian blandong Hasan yang mengaku menyaksikannya. Namun Mat Dawuk sudah tidak peduli apapun, sejak Ina meninggal ia merasa jiwanya juga telah terputus dari dunia. Kesekian kalinya penulis mampu menyentuh emosi saya secara total.

Konflik yang terjadi hingga terbunuhnya Ina dan semakin bencinya warga kepada Mat Dawuk ternyata tidak sesederhana konflik perselingkuhan sebagaimana prasangka warga, tetapi berhubungan dengan konflik jangka panjang antara kakek Mat Dawuk (Dulawi) dan kakek mandor Han (sinder Harjo). Persoalan hutan jati, rakyat jelata yang bekerja keras tapi tidak dapat apa-apa, serta orang-orang berkuasa yang korup. Konflik ini hanya sedikit disinggung menjelang akhir cerita.

Demikianlah kisah kelabu dari Rumbuk Randu, roman si buruk rupa dan si cantik jelita. Mat Dawuk kembali kesepian, menghabiskan sisa hidup dengan mengenang ratunya (Ina) di kerajaan mahligai cintanya dengan mendiang istrinya (bekas kandang sapi).

Kisah Mat Dawuk mengingatkan saya agar tidak hanya menilai seseorang dari satu perspektif, tidak mudah menyimpulkan benar setiap apa yang dilihat dan didengar tanpa klarifikasi, dan menjauhi kebiasaan menggosip dan menggunjing sisi buruk orang lain dan kejadian buruk yang menimpanya. Karena selama menjadi manusia, saya pun berpotensi untuk terjerumus dalam keburukan, namun na'udzubillah semoga senantiasa Allah jaga. Dan masih banyak hikmah lainnya.

Ya jangankan tokoh aku si wartawan dan orang-orang di warung Bu Siti, saya pun hanyut dalam bualan Warto Kemplung, sang pembual ulung. Bahkan dewan juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 tanpa ragu memilih novel Dawuk ini sebagai peraih penghargaannya. Silakan bagi yang belum membaca juga, sepertinya kalian pun akan suka. (*)



POSTING PILIHAN

Related

Utama 7366175065265062032

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item