Pelukan Terakhir


Cerpen: Fataty Maulidiyah



Musim Semi

Kota kecil itu tampak berwarna di mana-mana. Lorong-lorong pemukiman dengan bunga-bunga patunea berwarna  pink yang  merona menghiasi  jendela kecil dan balkon rumah-rumah yang berimpitan itu. Lorong yang cantik. Tak hanya patunea yang menjuntai dan bermekaran, pot-pot kaktus mini itu juga rapi berjajar di tepian jalan. Hijaunya yang pucat juga sebagian gelap menjadi  teman akrab bunga-bunga yang lain. Di lorong itu,  hampir semua penghuninya adalah orang-orang yang ramah. Khas suasana pagi di sebuah sudut kota Bideford.

Musim semi yang menggairahkan. Beberapa tupai  yang datang dari hutan kecil sudah mulai berkeliaran di sekitar lorong itu. Ada hutan kecil tak jauh dari sana. Sambil mengendap-endap dan menggigit buah kenari, tupai-tupai  itu  berloncatan di atap-atap rumah. Di kota, jalanan juga ramai. Orang-orang lebih banyak berjalan kaki . Beberapa  wanita terlihat  menenteng belanjaan dan membawa seikat bunga.

Kota kecil itu sebenarnya kota yang sepi. Hanya di permulaan musim semi saja tampak semarak. Tidak terlalu ada kebisingan. Bahkan Bidefor adalah kota kecil yang tenang. Di taman dan restoran kebanyakan   tampak konsisten  melakukan aktifitas yang hampir sama, justru para lansia.  Pria-pria lanjut  membaca surat kabar, bermain catur, dan nenek-nenek yang sering mengunjungi toko bunga. Kota kecil yang tenang, monoton dan membosankan.

*** 

Kota ini  terlihat mati kala musim dingin tiba. Pemandangan tanpa warna. Sepi dan beku. Salju-salju yang menutupi lengan-lengan jembatan, ranting-ranting yang meranggas juga jalanan. Namun sebenarnya sumber kesepian itu ada di sebuah rumah.  Di sana tinggal seorang sendirian  pria berusia 80 tahun . sendiri di depan perapian sambil menyeruput coklat panas, dan membaca sebuah buku. Pria ini telah memeluk kesepian bertahun-tahun. Ia hanya keluar rumah saat membeli  keperluan.  Belahan  jiwanya telah lebih dulu pergi beberapa tahun yang lalu. Rumah  yang catnya berwarna pucat semakin menyempurnakan kesepiannya.

***  

Elena nama gadis itu. Matanya bening berwarna hijau dan rambutnya merah. Dia sangat periang. Ia mewarisi sikap ibunya. Dia masih 6 tahun. Sepanjang hari ini dia selalu bersemangat, karena tiga hari lagi dia akan berulang tahun.

“Mom, aku akan dapat hadiah apa  di  hari ultahku?” tanya Elena merajuk seraya membuat burung origami.

“Sesuatu yang kau sukai, sayang,” balas ibunya  kemudian mengecup kepala gadis itu sambil menulis sesuatu di sebuah buku.

“Mama tahu apa yang kusukai?,” Ia berhenti sejak melipat kertas dan mendatangi meja kerja ibunya.

“Tentu  sayang.” Mamanya tersenyum sambil menatap wajahnya.

Keluarga kecil itu tinggal di lorong yang dipenuhi bunga petunia  berwarna pink yang menjuntai dari jendela dan balkon rumah yang berimpitan. Keluarga kecil itu dikenal paling ramah. Terutama Si kecil Elena. Dia selalu menyapa orang-orang yang lewat di depan rumahnya, siapapun yang melewati lorong cantik itu. penjual roti, orang yang jogging dan bersepeda, maupun yang sedang berjalan kaki semua disapanya.

Menjelang  hari jadinya, mamanya mengajak ke sebuah supermarket untuk membeli segala keperluan pesta kecil untuk Elena. Hari itu hari minggu yang cerah. Elena sangat bersemangat. Jika dia melangkah, ia setengah melompat , bibirnya juga bersenandung. Dia sudah berpakaian rapi. Rambutnya dikuncir ekor kuda, dan memakai terusan rok biru selutut.

Dengan mobil kecil itu, ia bersama sang  mama meluncur menuju supermarket.

***

Pria 80 tahun itu memeriksa kulkas. Dilihatnya beberapa bahan makanannya habis.  Ia bermaksud membeli beberapa makanan, snack dan keperluan lain di supermarket langganannya. Beberapa tahun yang lalu sebelum isterinya meninggal, saat-saat belanja adalah saat-saat yang indah. Biasanya sepulang dari supermarket, dia bersama isterinya mampir ke restoran untuk makan siang juga jalan-jalan ke taman kota. Dia selalu mengagumi isterinya yang selalu tahu apa yang disukainya. Makanan, model baju, topi, bahkan buku bacaan. Isterinya juga paham kapan ia butuh kopi atau kapan ia berselera minum coklat panas. Namun saat-saat itu telah berlalu.


Pria yang sepuh  itu selalu sendirian. Kecantikan kota Bideford tak berpengaruh sedikitpun pada kehidupannya. Hari-harinya ia lewati sendirian. Masa tua yang selalu kesepian. Kawasan rumahnya yang berada di perumahan  itu tidak membuatnya ingin berbaur dengan tetangganya. Meskipun tetangganya beberapa ada yang mencoba mendekatinya. Dengan mengirim kue atau sekedar menyapa. Pria ini selalu murung. Sejak ia sendirian ditinggal isterinya. Minggu pagi ini, dia berangkat belanja di sebuah supermarket di pusat kota.

***

Supermarket itu merupakan yang terbesar di Bideford. Dengan konsep “One Stop Shopping”, semua bisa didapat. Alat-alat rumah tangga,barang-barang elektro, stationary, frozen food, makanan cepat saji, foodcourt, buah dan sayur segar, serta aneka daging segar  dan sari laut. Hari itu cukup ramai. Elena dengan semangatnya mendorong keranjang belanja yang sudah berisi pernah-pernik pesta ultahnya. Dia sangat bersemangat. Sedangkan mamanya sedang serius di rak yang berisi bahan-bahan untuk membuat kue.

Pada lorong yang sama sang pria itu juga sedang memilih beberapa bahan makanan dan snack. Dia berada di lorong yang sama dengan Elena. Saat itu Elena yang memandang pria tua itu yang memunggunginya. Elena masih menunggu mamanya sambil memegang keranjang dorong.

“Hai, oldman,”. Elena memanggil pria tua itu. Pria itu  masih melihat-lihat deretan snack. Elena memanggil lagi.

“Hai, oldman”. Elena mendekatinya. Pria tua itu sedikit terkejut ada gadis kecil yang menyapanya.

Elena tersenyum dan menatap wajahnya. Pria itupun menyadari bahwa memang gadis itu memanggilnya. Iapun menanggapi gadis tersebut.

“Tomorrow is my birthday, give me a hug”. Elena menyampaikan hal itu tanpa beban memang demikian tabiatnya. Dia selalu ramah, bahkan pada orang yang baru ditemuinya.

Pria tua itu terpana dan mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya. Telah berpuluh-puluh tahun lampau rasa-rasanya tak ada seorangpun yang memintanya sebuah pelukan. Sejak isterinya meninggal, ia merasa tinggal sendirian di dunia ini. Dan hari ini, suara gadis kecil yang cantik bermata hijau itu, dengan rambutnya yang dikuncir, pipinya yang merona dan mata hijaunya itu berbina-binar, bagaikan malaikat kecil yang dikirim Tuhan untuknya. Mengirim sebuah pelukan.

Gadis ini membentangkan dua tangannya. Pria itu menyambut pelukan Elena, dan mendekapnya dengan rapat. Dunia seakan berhenti berputar untuk menyaksikan kebahagiaan pria tua itu. kebahagiaan yang sangat berharga di sebuah lorong tempat bererat-deret snack yang dipajang. Pria itu menangis dan mempererat pelukannya.

Dear little girl, bolehkah aku menjadi kakekmu?”. Pria tua itu memohon pada Elena dengan uraian airmata. Elena mengangguk-anggukkan kepalanya. 

“Datanglah ke rumahku besok di pesta ulang tahunku,ya”. Pria itu begitu gembira.

***

Sejak pertemuan pria tua itu dengan Elena, ia seakan memiliki keluarga baru. Tiap pekan, Elena dan mamanya berkunjung ke rumahnya, membawakan makanan dan mengajaknya bermain. Rumah pria tua itu sedikit ada kehidupan meskipun hanya terjadi sehari sepekan. Kehidupan itu dikirim Tuhan melalui seorang gadis yang memiliki kekayaan cinta, termasuk mamanya. Yang tak segan-segan menuruti dan mendukung Elena untuk memiliki seorang kakek.

Setelah berlangsung beberapa waktu, kunjungan Elena dan mamanya tak lagi di rumahnya, tetapi di sebuah rumah sakit. Pria tua itu begitu lemah dan ia harus berada di sana dalam waktu yang lama. Meskipun dalam keadaan tidak sadar, Elena dan mamanya tetap setia mengunjunginya dengan membawa seikat bunga segar. Elena tetap mengajaknya bicara, dan bercerita pengalamannya. Meskipun pria tua itu memejamkan mata.

Alat-alat medis yang banyak dipasang di wajah, dan tangannya itu tak menghalangi Elena untuk selalu memberinya pelukan setiap kali ia mengakhiri kunjungan. Dan pada hari itu, seorang dokter mendatangi mamanya yang memberitahu keadaan pria tua itu. Elena melihat mamanya mengusap airmata, tanpa berkata-kata ia mengajak Elena masuk ruangan medis itu . Elena diminta memeluk pria tua itu dengan pelukan yang lama. Elena menuruti mamanya tanpa bertanya-tanya.

Tangan yang penuh keriput itu kini sudah bebas dari alat-alat medis. Elena mengambil dua tangan itu untuk dilingkarkan di tubuhnya. Pipi kanannya ditempelkan ke pipi kiri pria tua yang sudah terpejam itu. Elena yang biasanya ceria kini menangis tersedu-sedu. Dibiarkannya saat-saat berdua itu oleh mamanya.

Sambil tetap memeluk tubuh yang sudah mendingin itu, Elena berbisik di telinganya.

“Hei, oldman. Give me a hug”.


RestArea, 19 Mei 2021
 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 14576176279659449

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item