Merdeka Belajar dan Momentum Perubahan

Sejumlah siswa sedang melakukan praktek ketrampilan di kelasnya (rulis)

Oleh: Hidayat Raharja*

Kebijakan menteri pendidikan mengenai merdeka belajar merupakan peluang bagi sekolah untuk melakukan perubahan-perubahan inovatif untuk memberikan layanan kualitas pendidikan, sehingga mampu meningkatkan kemampuan nalar kritis peserta didik dan mampu menyikapi persoalan yang dihadapi. Merdeka belajar bukan menghilangkan hubungan antara guru dan murid, tetapi justru akan semakin mengakrabkan hubungan antara guru dengan murid ketika pembelajaran berfokus kepada peserta didik. Peran guru mendampingi peserta didik belajar dan mengarahkan fokus pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

Merdeka belajar mewajibkan guru untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar yang akan diakses oleh peserta didik sehingga bisa mendampinginya belajar. Peserta didik menjadi pusat perhatian belajar dengan mengakses informasi, melakukan konfirmasi, menelaah dan melakukan interpretasi terhadap informasi yang diakses untuk menjawab permasalahan yang tengah dihadapi.

Berdasarkan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai strategi implementasi merdeka belajar, antara lain;

a) Mengubah cara kita berpikir (visi, belief, & perilaku) — seluruh stakeholders Pendidikan dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya seharusnya mempunyai tujuan bersama, yaitu memberikan layanan Pendidikan yang berkualitas bagi siswa;

b) Penguatan kapasitas kepala sekolah & guru — tentang kepemimpinan kepala sekolah (e.g., sebagai pemimpin instruksional), tata kelola sekolah (perencanaan, pembiayaan, pengembangan guru), pengembangan kualitas kurikulum, pembelajaran dan asesmen.

c) Budaya organisasi sekolah yang demokratis — menghilangkan budaya birokratis (ABS), kepala sekolah sebagai pemilik otoritas tunggal

Merdeka belajar ditandai murid banyak bertanya dalam kelas, pembelajaran berpusat kepada murid, bukan membiarkan murid berselancar sendiri untuk mengarungi tumpahan informasi, tetapi guru menemani dan mendiskusikan data-data yang diperoleh peserta didik. Guru menemani belajar. Dalam pengalaman pengembangan pembelajaran yang pernah berlangsung banyak hal kemudian diselewengkan sehingga menjadi kurang produktif. Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dipelesetkan menjadi Catat Buku Sampai Abis. Sebuah penyimpangan yang melecehkan sifat produktif menjadi pasif.

Juga tidak berarti bahwa merdeka belajar siswa tidak lagi membutuhkan guru, karena di dunia informasi telah tersedia limpahan informasi. Peserta didik butuh bimbingan dan arahan melalui dialog dan diskusi terhadap informasi yang didapat, sehingga bisa memberikan telaah dengan benar.

Pendidikan bukan hanya mencetak manusia pintar, tetapi diharapkan mampu membentuk manusia yang memahami terhadap kemanusiaannya serta menyikapi persoalan yang dihadapi. Maka, dalam merdeka belajar juga perlu dikembangkan belajar yang mampu mengembangkan literasi dan numerasi, karakter pelajar pancasila. Sebuah tujuan belajar yang kompleks dan tidak bisa terbentuk secara mandiri tanpa berhubungan dengan orang lain dan dunia luar.

Sekolah perlu meningkatkan kualitas proses belajar siswa, berfokus pada penalaran kritis, hal ini adalah tugas utama sekolah, memberi kesempatan seluas-luasnya kepada gutu untuk mengembangkan diri dengan berbagai pelatihan yang meningkatkan kecakapannya secara profesional. Guru mampu mengembangkan pembelajaran yang mengembangkan nalar berpikir kritis. 

Pengembangan pembelajaran pengembangan nalar berpikir kritis bukan hal yang mudah sebab dibutuhkan kualitas guru yang mampu mempersiapkan strategi pembelajaran yang bisa menghubungkan antar hal. Setidaknya guru mampu meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi sehingga bisa meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menghubungkan antar hal atau konsep. Strategi yang dilakukan berdasarkan terhadap kondisi siswa dan fasilitas yang ada, sehingga apa yang diberikan nyata dan bermanfaat bagi kehidupan siswa. Strategi yang melibatkan pengalaman belajar siswa sehingga selalu terhubung dengan pengalaman sebelumnya.

Aspek peningkatan budaya sekolah yang demokratis, merupakan salah satu aspek penting sehingga terbangun kesetaraan, saling menghargai. Sekolah memastikan diri bahwa di dalamnya tidak ada kekerasan fisik , tidak ada perundungan (bullying), sehingga peserta didik merasa nyaman dan aman dalam belajar. Juga guru dalam melakukan tugasnya bisa nyaman dan tenang tanpa merasa terganggu.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, Pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan hidupnya lahir, sedangkan merdekanya hidup batin didapat dari pendidikan. Betapa penting pendidikan bagi manusia, sebagai proses memerdekakan batin, kemampuan berpikir kritis yang memberdayakan potensi manusia. Senada dengan merdeka belajar yang mengisyaratkan meningkatnya layanan pendidikan sehingga mampu memberikan layanan pendidikan yang menyenangkan bagi peserta didik. Untuk mencapainya bukan hal yang mudah karena membutuhkan kepedulian berbagai pihak secara serentak atau simultan.

Tantangan yang sangat menarik supaya merdeka belajar bisa diimplementasikan di satuan pendidikan, terutama di lembaga pendidikan yang termarginalkan dengan berbagai fasilitas yang minim dan keberadaan input peserta didik yang rendah motivasi belajarnya. Peran Kepala Sekolah, guru, masyarakat dan peserta didik harus memiliki satu tujuan yang sama memajukan pendidikan berkualitas.

Pertama, perubahan mindset guru untuk menyiapkan pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik, membutuhkan kesigapan guru untuk mengembangkan kemampuan nalar berpikir kritis, mengembangkan literasi dan numerasi serta pembangunan karakter positif yang terimplementasi dalam pembelajaran. Butuh kesiapan guru terus-menerus mengembangkan kemampuan utamanya dalam merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi sekolah serta lingkungan masyarakatnya.

Kedua, pemanfaatan sumber belajar yang beraneka, sehingga bisa mendapatkan sumber yang variafif yang akan memperkaya wawasan saat mendampingi siswa belajar. Pengalaman belajar yang bisa dijadikan pilihan alternatif bagi siswa, sehingga menjadi lebih terarah dalam memanfaatkan sumber belajar. Guru mampu memotivasi siswa belajar, sehingga punya keinginan untuk mencari banyak tahu informasi yang dibutuhkan.

Ketiga, semua warga sekolah memiliki tujuan yang sama. Kepala sekolah, guru, siswa, tenaga administrasi dan warga masyarakat untuk memberikan layanan kualitas terbaik, dengan berpusat kepada layanan terhadap siswa sehingga dapat memberikan layanan belajar yang menyenangkan. Siswa senang belajar dan mau mengembangkan pengetahuannya secara mandiri.

Di hari pendidikan tahun ini dengan tema “serentak bergerak wujudkan merdeka belajar” adalah titik tolak bagi segenap insan pendidikan secara bersama-sama menguatkan tujuan untuk melaksanakan merdeka belajar. Sebuah proses perwujudan yang membutuhkan waktu untuk mengatasi berbagai kendala yang di setiap satuan pendidikan. Sebab, untuk merdeka belajar butuh kebersamaan dan konsistensi berfokus kepada pembelajaran yang berpusat kepada siswa. 

Pembelajaran yang memotivasi siswa mencari informasi, melakukan konfirmasi dan mengkomunikasikannya. Semua membutuhkan proses dan waktu. Sebab tidak semua satuan pendidikan sudah memenuhi standar pendidikan yang ideal. Setiap satuan pendidikan dengan keterbatasannya baik secara fisik dan kualitas perlu beradaptasi secara fleksibel sehingga merdeka belajar terwujud secara bertahap berkesinambungan.

*Penulis adalah guru yang diberi tugas mengelola SMA Negeri 4 Sampang

Terbit di Harian Bhirawa, 2 Mei 2021

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5947614198238686490

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item