Di Ambang Labirin


Cerpen: Lilik Soebari

Ada gelenyar yang merayap di sekujur tubuh ketika langkah kaki memasuki halaman Puskesmas. Langkahku terhenti sejenak, ada kegamangan dan pertentangan kuat antara hati serta logika. Tubuhku mengikuti irama hati. Maju, mundur, mundur maju.

Suara tawa yang sangat ku kenal menghentikan langkah kaki maju mundur ala Syahrini.. Tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya. Sapuan binar matanya mengalirkan kehangatan dan itu membuat hatiku yang semula diselimuti kegamangan mulai teguh.

"Ayo," sembari melangkahkan kaki tangan Linda tetap erat menggenggam tanganku, dan memberi kejut terapi yang semula tanganku dingin dan berkeringat kini mulai menghangat.

Linda membawaku ke ruangan tunggu, dan tetap menuntun sampai ke area pojok. Beberapa pasang mata menatap kami dan melempar senyum. Ada beberapa dari mereka yang ku kenal, teman-teman pengajar dari Sekolah Dasar. Yang belum mengenal Linda dengan baik berkasak0kusukm bahkan terdengar cekikik tawa disertai guyonan dan bisikan, "pasangan romantis,"

Setelah menfapatkan tempat kosong Linda menyuruhku duduk dan kemudian berlalu menuju meja 1 untuk mendaftarkan nomor antrian.

Nomor urut 13. Tiba-tiba hatiku menjadi mencelos dan diliputi keggamangan kembali. Linda meraih tanganku dan menggenggamnya. Rupanya Linda memahami keadaanku yang tetap membisu dan tidak mengajaknya berbincang. Biasanya kalau bertemu kicauan burung akan kalah seru dengan perbincangan kami

Perang batin dan kepentingan yang mengharu-biru hati menjadikan aku menjadi sosok pendiam. Antara memberikan yang terbaik bagi tubuh dan masa depannya dan kekhawatiran dengan. penolakan yang akan berakibat fatal. Apalafi saudara sepupu yang berdomisili di Bali saat ini terbaring sakit dengan kondisi tubuh sama denganku.

Dua pilihan sulit.

Saat antrian nomorku diumumkan, dengan setia Linda menuntunku. Langkah Linda terhenti di depan pintu begitu ada celetukan lirih yang masih bisa di dengar, " Dasar pasangan lesbi tak tahu diri."

"Maksud ucapan Anda itu apa?" Linda bertanya nyaring, lalu telunjuknya diarahkan pada wanita berbaju batik iru.

"Kalau kalimat itu ditujukan pada saya, Anda telah melakukan fitnah dan pencemaran nama baik. Saya bisa menuntut Anda." Geram Linda. Wajahnya memerah.

Ibu berbaju batik itu tertunduk.

"Bukankah ejekan yang Ibu lontarkan ditujukan pada kami?" Kejar Linda.

"Tidak bu, saya hanya sekedar berucap," jawab ibu itu terbata-bata. Ada gurat ketakutan diwajahnya.

“Saya mendengar dengan jelas, Anda mengatakan kami pasangan Lesbi, dan ini banyak saksinya, anda masih mengelak?” cecar Linda,

“Jangan marak,” bisikku menenangkan Linda

Mendengar ada keributan kepala Puskesmas, dr. Fenti melongok dari pintu. Begitu melihatku, sosok bertubuh mungil itu langsung menggamit tanganku.

"Ayo masuk pendekar," ujarnya tertawa.

Mendengar ucapannya aku jadi ikut tertawa.

"Aku dah nelpon suamimu, nanti dia yang jemput," ujarnya.

Ketika sudah duduk di depan petugas masih kudengar nada amarah suara Linda, "Sekali lagi saya mendengar ucapan seperti itu dari mulut Anda, saya akan jebloskan Anda ke penjara!"

*****

Tawa anak-anak berderai menghias cakrawala. Sore yang basah dan bulir-bulir sisa hujan siang tadi menempel di dedaunan dan kelopak bunga.

Sembari berselancar di dunia maya, kuperhatikan bungsuku si Hanum berlarian mengejar kupu-kupu bersama teman-teman kecilnya. Di sepanjang hampir 50 meter samping halaman yang berbatasan dengan masjid kelopak warna-warni bunga kertas, bunga Lily dan entah apalagi namanya mengundang kupu-kupu dan serangga.

Hanum senang sekali memetik bunga-bunga itu kemudian memasukkannya ke keranjang kecilnya lalu membawanya ke teras, mengambil sebatang lidi dan meroncenya. Sesekali diselipkannya kuntum bunga di telinga, seraya menoleh kearahku dan suaranya yang masih cedal, berkata, "Nda, Num antik." Maksudnya Hanum cantik. Naluriah perempuan.

Ketika sedang memperhatikan kedua jagoanku bermain Salodor, kedua mata terasa memanas. Rasa gatal pasca di injeksi siang tadi masih bisa ku tahan, tapi kali ini tidak. Ku kucek mata berulang-ulang dan tiba-tiba mataku menjadi lamur.

"Ayah ..." teriakku kencang.

Dari arah masjid mas Gufron tergega-gesa mendekatiku. Tampak sekali suamiku panik ketika menyentuh kulit tubuhku yang panas. Segera ia memapahku menuju kamar.

Setelah membaringkanku di ranjang, mas Gufron mengompres kepala dengan air dingin dan meletakkan daun Jarak di area punggung dan perut.

Enam jam berlalu.

Suhu ditubuhku belum turun bahkan semakin tinggi.

"Bunda, makan ya, lalu minum ini," mas Gufron meletakkan gelas berwarna kuning di atas nakas.

Dengan lahap kuhabiskan bubur itu karena aku harus melawan sakit ini dengan stamina yang kuat. Setelah minum ramuan menurunkan panas akupun terlelap.

*****

Sehari telah berlalu.

Panas ditubuhku belum juga menurun dan sekujur tubuh dijalari kesemutan.

Ku telisik pori-pori kulit dengan cermat, ada sesuatu yang aneh. Seluruh permukaan kulit mulai bersemu kemerahan serta ada bintik-bintik seperti keringat buntat.

Kutenangkan hati, ini adalah hal biasa ketika tubuhku beradaptasi dengan zat tertentu. Aku sudsh menyampaikan keberatan namun petugas vaksin sama sekali tidak apresiatif dengan semua alasan yang kulontarkan dan tetap bersikukuh melaksanakan tugasnya. Apalagi aku tidak bisa menunjukkan surat yang bersifat legal sebagai referensi atas kondisi tubuhku.

Rasa panas kini mulai terasa mengaliri aliran darah sampai-sampai nafas yang kuhembuskan terasa panas. Tububku menjadi sangat ringan dan seperti melayang.

Bintik-bintik merah yang semula hanya titik-titik kini berubah menjadi bentol-bentol dan menimbulkan rasa gatal. Aku menguatkan diri untuk tidak menangis, menahannya sekuat-kuatnya karena tidak menginginkan bungsuku, Hanum rewel. Ikatan itu demikian kuat.

Tiga hari telah berlalu.

Tubuh semakin lemah lunglai dan panas tubuhku tetap bertengger di angka 41,6 derajat Celcius.

Makanan semakin sulit melewati tenggorokan karena ada rasa tercekik meski bubur halus yang melewatinya.

Mas Gufron semakin panik dan mendesakku untuk segera ke rumah sakit. Aku tetap bersikukuh, karena aku tidak mau di isolasi dalam ruang berdinding, memenjarakan hati dan tubuh dalam ruang pengap.

Meski tetap berbaring dan melawan rasa sakit yang demikian sangat, hatiku tetap terhibur mendengar deru angin dan derak ranting serta tawa anak-anak memenuhi udara sore.

Di hari kelima.

Antara terjaga, tertidur dan tersadar aku merasakan tusukan demi tusukan tak terasa sakitnya. Suara yang berseliweran, menggaung di langit-langit ingatan.

Setelah itu hening dan senyap.

Aku kini berada di entah, hamparan membentang tak bertepi. Semuanya diselimuti  halimun abu-abu.abu-abu. Kelabu. Hanya ada aku.

Tempat asing apakah ini?

Di tengah kebingungan dan keputusasaan yang mendera karena tak menemukan apapun setelah menapaki tempat ini, tubuhku luruh.

Aku bersimpuh.

Rabb, dimanakah aku?

Aku terus bersimpuh serta memohon ampunan atas semua dosa yang telah kulakukan..

Kulafazkan doa yang selalu dibisikkan Mama ketika tubuhku lemah dan lelah saat anomali.

"Laila ila anta subhanaka inni kuntu minadzolimin."

Lafadz itu kuucapkan secara ritmis bak rintik hujan berulang tanpa jeda. Dadaku bergetar, hatiku bergetar, simpul-simpul syaraf di kepala bergetar dan seluruh tubuhku bergetar.

Tempat bersimpuhku bergetar.

Lalu, melayang bayangan Linda memelukku. Tersedu. Ingatan pertama kali bertemu dan teriakan histerisnya menemukan kembaran adik terkasihnya yang telah berpulang pada Kekasih, melintas demikian nyata. Wajah yang mirip membuat Linda melimpahiku kasih sayang abadi seorang kakak.

Linda bersimpuh didepanku. Air matanya menganak sungai.

Bibirnya bergetar melafadzkan, "Laila ila anta subhanaka inni kuntu minadzolimin."

Kupejamkan mata menikmati gelepar lantunan doa yang semakin menggelora. Dzikrullah semakin menggema dan bergaung di kesunyian hamparan kelabu, menggantung di awang-awang.

Ketika kutadahkan tangan, jejeran raga utuh menatapku dengan bibir bergetar. Entah dari mana orang-orang baik yang pernah kukenal, berbalut gamis putih di belakang Linda semakin banyak dan bibir-bibir mereka bergetar dalam lafadz dzikrullah.

Rabb! Siapakah aku?

Kembali aku bersimpuh menikmati akunan getar keharuan doa nabi Yunus yang menggetarkan samudera. Di tengah isak tangisku lamat- lamat terdengar suara-suara yang sangat kukenal. Suara mas Gufron suamiku, adik dan kakak perempuanku, Ikbal dan Yusuf dua jagoanku.

Sejenak, aku tertidur menikmati getaran kalbu dan terbangun saat kudengar suara cedal kanak-kanak bergetar di telinga, dan tangannya yang mungil menyentuh bibirku.

Badanku kembali bergetar hebat dan peluh membasahi sekujur tubuh.

Tangan mungil itu mengenggam tanganku ketika kelopak mata terbuka.

Mataku terbeliak kaget. Di ruangan kamar seluruh keluarga besar bersimpuh dan ku lihat di ruangan keluarga penuh dengan orang-orang dan bibir-bibir mereka bergetar dalam alunan dzikrullah. Begitu melihatku terjaga teriakan, Allahu Akbar” bergema diikuti isak tangis yang mengharu-biru.

*****

Keesokan hari berita tentang ibu guru Liana menjadi trending topik di media koran dan online.

Ibu Liana mengalami masa-masa kritis dan koma selama 5 hari setelah di vaksin Covid, prahara itu disebabkan ibu Liana alergi obat namun tetap di vaksin.

 Sumenep, 22.05 - 3 April 2021.

# Cerpen ini telah terbit di Jawa Pos Radar Madura, 27 April 2021

POSTING PILIHAN

Related

Utama 1945815048353011265

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item