Yakinkan Hati dengan Kilauan Cinta Ilahi


 Oleh: Riskiana Elina

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”

Salah satu ayat bahwa Allah telah memberikan pasangan kepada setiap manusia supaya saling merajut kasih dan sayang melalui benang-benang taqwa kepada Sang Maha Cinta. Dari ayat ini pula Allah telah menunjukkan kebesarannya dengan menyatukan kedua insan dalam ikatan suci, Mahlighai Rumah Tangga. Di dalamnya Allah telah hadirkan Sakinah, Mawaddah Warahmah tinggal bagaimana langkah kita untuk menggapai dan memeliharanya dengan sebaik mungkin.

Siapa jodoh saya?

Tentu saja kalimat ini selalu terngiang dalam benak kita. Yang terus mengerutu pada akal pikiran menyerukan langkah untuk terus mencari kebeadaanya mengharap hati memberikan kepercayaan sosok tentangnya. Menguak misteri jodoh tidak semudah melontorkan kata yakin saja. Sebab jodoh sudah ada yang mengatur, bahkan sudah tertulis jelas oleh tinta taqdir di Lauhul Mahfudz. Maka demikian, meskipun jodoh sudah ada yang mengatur kita tak boleh berlepas tangan begitu saja. Kita harus senantiasa berikhtiar guna mencapai kesempurnaan yang abadi dalam mendapatkannya.

Yakin dia Jodoh kita?

Keyakinan yang berlebihan akan menciptakan ruang kekecewaan yang mendalam di dalam diri kita. Tidak perlu risau untuk mencari siapa jodoh kita karena Jodoh memiliki signal yang membantu kita tuk menemukannya. Signal jodoh sudah tertera di dalam kitab suci Al-Qur’an. Jadi tidak perlu repot-repot mencari signal itu di embah google, karena Al-Qur’an sudah menyediakan panduan yang sangat lengkap bagi kita yang digeluti rasa keambiguan yang sangat.

Setiap diri kita pasti merasakan signal pada orang sekililing kita. Namun terkadang signal itu lemah seiring dengan terkurasnya iman kita kepada-Nya, Sang Maha Pencipta. Kita terlalu asik dalam pencarian kita. Padahal untuk mencari ciptaanNya, kita harus terlebih dahulu mendekati pencipta-Nya.

Kebanyakan manusia saat ini mengira mendapatkan signal jodoh yang sangat baik, namun mereka salah kaprah dalam menanggapinya. Mereka menjerumuskan yang fitrah kepada yang batil. Mereka membawa konsep syariah dalam status tercela, pacaran syariah. Fix, ini salah besar, tidak ada yang namanya pacaran syariah. Pacaran saja sudah perbuatan yang mendekati zina dan hal ini tentu saja haram, tidak mungkin disandingkan dengan sesuatu yang syariah. Mengapa demikian? Pacaran sudah menjauhi syariat.

Saudariku, jangan sampai kita mencampurkan yang haq dengan yang batil. Sungguh, hal ini kebodohan yang tak pernah disadari oleh para pemuda/pemudi. Sekalipun dalam status pacaran tersebut kita tidak melakukan hal hal yang tidak diperbolehkan, tetap saja kita sebagai manusia tidak pernah tau kapan syaithan menjatuhkan amunisi jahatnya kepada kita. Dari awal kata pacaran itu disetujui oleh kedua belah pihak maka disitulah awal syaithan membututi langkah kita. Dan perlu kita garis bawahi pacaran disini ialah sebelum terjadinya ijab qabul.

Kita boleh memiliki rasa kagum kepada diri seseorang. Dan bahkan kita boleh mencintainya dalam diam. Sebab tidak ada yang salah dengan cinta. Cinta itu fitrah dan merupakan anugerah terindah yang Allah berikan kepada makhluknya. Bahkan cinta kepada Allah dan Rasulnya pun merupakan puncak tertinggi atas tingkatan cinta. Oleh karena itu, jangan sampai cinta kita kepada sesama makhluk melebihi cinta kita kepada Allah.

Masalah keyakinan kita terhadap seseorang yang kita tafsir sebagai jodoh kita, terkadang timbul akibat pengharapan yang terlalu besar, sehingga dapat menaifkan segala bentuk petunjuk yang datangnya dari Allah. Kita boleh yakin, asal keyakinan kita disini didasarkan kepada petunjuk Allah, semisal istikharah. Bukankah Allah sudah mempermudah jalan kita dengan itikharah? Lalu mengapa kita masih enggan untuk melakukannya. Kita tiap hari meminta pendapat kepada teman ataupun orang sekitar kita padahal belum tentu pendapatnya itu benar, sedangkan kita sangat enggan sekali minta pendapat kepada Allah padahal sudah jelas jelas pendapat Allah itulah yang paling benar bahkan yang paling baik untuk kita.

Ketika keyakinan kita sudah terputuskan oleh taqdir, kita malah nangis, kita malah kecewa, langsung down berat, menyalahkan taqdir seakan-akan kita yang berhak menentukan taqdir. Astaghfirullah. Apa sih sebenarnya maunya kita? Allah sudah memberikan jalan termudah untuk kita lalui. Lalu mengapa kita masih saja bingung mencari jalan yang lain?. Bukankah segala sesuatu yang terjadi di dunia itu yang terbaik untuk kita? Lalu mengapa kita menolaknya. Sudahlah, kita itu hanya bisa berusaha yang menentukan itu hanyalah Allah SWT. Allah memberikan segala sesuatu yang baik untuk kita dengan cara yang baik pula untuk kita. Allah tidak mungkin ingin menetapkan sesuatu yang buruk kepada kita tanpa ada hikmah di dalamnya.

Contohnya, Allah tidak menumbuhkan teratai di gurun pasir melainkan Allah hadirkan kaktus di hamparan gurun pasir yang begitu tandus. Allah anugerahkan kelebihan di dalam diri kaktus, oleh karena itu kaktus bisa bertahan hidup dengan baik bersama gurun pasir. 

Jika kita sudah menemukan dia sebagai jodoh kita, iringilah keyakinan kita dengan Ridho dan petunjuk Allah. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimulai dengan Cinta kepada Allah, maka akhirnya pun akan menemukan cinta sejati yang sesungguhnya. “Yakin dia Jodohmu? Yakin, karena Allah telah menuntun langkah ku untuk membersamainya dalam ikatan suci pernikahan.”.  kira-kira begitulah penggalan jawaban bagi mereka yang telah mengimani Allah dengan sesungguhnya, lalu bagaimana penggalan cerita kita nanti?

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8791696347370422912

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item