Sajak-sajak Riskiana Elina, Pamekasan


 

Riskiana Elina atau nama pena  Pelangi Senja, Asal Pamekasan adalah mahasiswi Semester 2 Prodi Perbankan Syariah, Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan


Ekspedisi Tak Bertuan

Aku berjalan dalam ekspedisi kehidupan
Mencari tuan yang sudi mengantarkanku pulang
Menuntun kaki yang terlanjur melepuh akibat puing-puing kehinaan
Memaksakan harap tuk menjalarkan rindu pada puncak ketulusan
Mendiamkan diri tuk dicari tidaklah semudah apa yang dipikirkan
Terus menggarap harap yang selalu mencumbuiku dalam sujud malam


Teruntukmu, Rasa yang Terpendam

Kau, sosok yang tak mampu ku genggam dalam lamunan
Menyelusup pada impuls yang mulai bergeming kerinduan
Menghempaskan kegundahan pada jiwa yang hilang
Membangun sebuah mimpi yang tak bertuan
Dalam gelapnya ruang kehampaan
Tanpa kepastian
Teruntukmu, yang mulai menjalar dalam naluri hati
Mungkin kau tak pernah sadar akan ilmpuls yang ku alirkan dalam spektrum ilahi
Tapi hadirmu layaknya kenangan yang tak mampu ternisbatkan
Oleh kilasan waktu yang dilukis suratan taqdir
Untukmu yang tak terganti oleh pengganti yang ingin mengganti


Puing Harap Dalam Lantunan Jiwa

Seketika rasa itu ada
Ketika mentari mulai menyapaku kembali
Seketika rindu itu ada
Ketika senja mulai tiada
Degupan rasa tercampur nestapanya akhir kisah terumit
Yang tak sanggup ku ulang dalam rotasi asah penantian
Kau, cahaya surga yang ingin ku genggam
Nyatanya, tirai asah masih tak sanggup ku raba
Ku kirimkan puing-puing harap dalam ketulusan malam terjaga
Memimpikan daku tergenggam jua


Kembali pada Cinta-Mu

Tuhan
Izinkan aku kembali bersimpuh dalam sujudku
aku lelah dengan dunia yang semakin menyempitkan hatiku
yang semakin menjauhkan rahmatmu kepadaku
yang semakin menindas imanku dalam gelapnya kehinaan jiwa
Tuhan
Izinkan aku tersungkur di hadapanmu
Kembali menyerahkan hatiku
Yang sekian lama telah ku bawa dalam jalur kesesatan
Melenakannya dalam ranjang kemaksiatan
Cumbui aku dalam hidayahmu kembali
Aku tak ingin menikmati ekspedisi hina yang telah bersemayam dalam diriku
Aku ingin kembali dalam fitrahku
Tuhan, harapku telah ku tuangkan dalam cintaku untukmu
Telah ku hias dalam dinding rinduku
Walau tertatih ku melangkah, akan ku jalani dengan nikmatnya bertemu denganmu
Salahku, menjatuhkan harap kepada selain dirimu
Hingga aku melupakan siapa pemilik diriku
Siapa yang paling berhak atasku
Tuhan, dalam sujudku, merindumu adalah hal yang mewarnai cintaku
Cinta yang tumbuh kembali setelah luka duniawi menusuk dada yang hina, ternista oleh perlakuan biadabku
Tuntun aku kembali, dalam jalanmu
Menyucikan diri tuk kembali di sisi-Mu


Sujud Terakhir di Jalan Hidupku

Sering kali ku teledorkan hati pada rumusan duniawi
Peluh kesah ku goreskan dalam rintihan awamnya nurani
Serangkai niat ku hampirkan pada tuan maksiat
Ku terlena pada luapnya kesenangan semata
Degup syair adzan di gemuruh waktu ku telantarkan
Lantunan nada ku alihkan pada pembual jalanan
Tak sanggup rasa ini ku pertahankan
Pada dunia yang semakin mengikis kecintaan
Pada Sang Maha Cinta
Wahai, Sang Maha Pengampun
Dimanakah pelabuhan Cinta-Mu
Adakah satu perahu yang sudi membawaku pada muara Cinta-Mu
Adakah sisa waktu yang mengembanku tuk terbang bersama Cinta-Mu
Adakah setetes penyejuk rasa dalam ketiadaan yang merajuk pada setitik asa kerinduan
Aku ingin melangkah, sedang kakiku kaku tertancap tombak kekhilafan
Aku ingin menemui-Mu, sedang diri ini rapuh malu dihadapan-Mu
Terbengkalainya waktu bersama lalu lalang di penghujung Waktu
Tertatih ku kalahkan waktu yang menggerutu di malam-malamku
Kepada-Mu, aku kembali dalam sujud terakhir pada waktu yang siap menjemputku pulang
Dalam dekapan terakhir di penghujung jalan cerita hidupku
    

Deru Nafas Terakhir pada Salam Terakhir

Tiada alasan bagi ku tuk mencari jejak-Mu
Tiada alasan bagi ku tuk merindu-Mu di penghujung tirai salamku
Tiada alasan bagi ku tuk menyebut-Mu dalam dekapan langkahku
Tiada alasan tuk ku untaikan bunga kasihku pada-Mu yang pantas ku kasihi
Teruntukmu, yang menjalarkan harum surga dalam nadiku
Teruntukmu, yang menuliskan irama syahdu dalam Cintaku
Teruntukmu, yang kian hari ku kagumi dalam sunnah-Mu
Teruntukmu, yang tiada dapat menandangi kewibawaan serta kemulian-Mu
Ku torehkan sabda-sabda Cinta dalam rajutan kisah pada sehelai kain suci bersulam rindu dengan benang taqwa pada sang Ilahi
Ku alirkan harap jiwa yang menggebu tuk segera bertemu dengan-Mu
Ku nantikan akhir kisahku yang berakhir pada selarik nama-MU
Ku nantikan deru nafas yang berakhir pada salam terakhirku kepada-Mu, Allahumma Solli ‘ala Muhammad.

Dalam Rajukku

Biarlah diri ini menangis hari ini
Biarlah diri ini merutuki kisahnya saat ini
Biarlah jiwa ini terusik lapisan angin pengusik
Biarlah diri ini tenggelam lautan kelabu

Wahai diri...
Kau tak pantas meninggi
Merendahlah jauh yang kau pungkiri
Tersungkurlah, pada riuhnya pagi yang mencekikmu kembali
Datanglahlah pada yang pantas kau kasihi
Lukislah melodi angan dalam keharuan cintamu pada-Nya

Aksaramu masih terlampaui oleh niatmu
Rengkuhlah, kilatan mimpi di penghujung waktu
Terbangkalah sayap asa yang kau rajut dalam rayu
Merajuklah pada puing-puing kasih terlontai pada harapmu

 

Sajak Rindu

Katamu, kita kan bertemu di sajak rindu
Naluriku bertanya, kapankah itu?
Apakah mentari masih menyambutku?
Ataukah mentari yang kan membawamu kepadaku?
Ekspektasiku bergeming
Melihat mentari masih berkelut dengan pancarona di seberang sana
Dan entahlah, malam masih saja terhias oleh sabitah
Sedangkan senja, terlihat merindu
Ia memancarkan nirmala kerinduan
Eonoia, ya benar dia tengah merajuk
Tuk tetap di posisinya
Mendekapkan ke permukaan harap
Namun tak bermuara di dalamnya



Kau, Aku, dan Mereka

Sudah ku lalui sejumput kisah
Antara kau, aku dan mereka
Nyatanya, tetap saja berkelut
Mengundang rasa yang tak ingin dirasa
Aku merancu di kabut malam
Terjungkir kuatnya angin malang
Terseret perasan yang tak kunjung tenang
Tercambuk hempasan kata kejam
Ya
Diri ini kaku, sembari menunggu alasan buntu
Membutui hati dan pikiran
Hingga tersesat oleh waktu
Hilang, melayang tanpa arah



Aku dan Selaput Ingatan

Aku? Tetaplah aku
Yang tak tahu kapan mulai berbenah diri
Hanya tau mengusik
Tapi kadang tak mau diusik
Aku? Tetaplah aku
Yang berburu pengetahuan
Tapi tak tahu kiat berburu
Berangkat dari pegalaman pilu
Yang mengiris luka di bagian selaput ingatan
Ingin melupakan
Namun, dinding ingatan mengaung jeritan
Sakit, sangat sakit
Bahkan kadang tak sanggup mengaitkan pada tumpuan keyakinan
Ingin terus berjalan
Walau telontai badai
Yang terus saja mengeruk pikiran
Bahwa diri ini tak pantas berdikari



    





POSTING PILIHAN

Related

Utama 2878606591815835940

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal


 

item