Menyibak Kabut Kebodohan


Fendi, S.Sos

Saya lupa tepatnya tanggal berapa, tapi itu terjadi di tahun 2011 silam. Tapi pertemuan itu memercikkan inspirasi untuk menyibak kabut tebal yang saat itu menjadi persoalan besar bagi saya selama menjadi mahasiswa.

Saya berpikir, apa yang mesti saya kerjakan agar berdaya selama menjadi mahasiswa. Setidaknya, saya bisa berhasil ditengah himpitan persoalan ekonomi, keterbatasan akses dan lain-lainnya selama mengarungi dunia perkuliahan.

Saat kuliah saya mengambil studi sosiologi.  Sebuah jurusan yang mengkaji perihal masyarakat. Untuk menyibak kabut tebal dalam hari-hari sebagai mahasiswa. Saya bertamu ke rumah dosen saya. Namanya Iskandar Dzulkarnain.

Rumah dosen ini tidak terlalu jauh dari desa saya. Kami hanya terpisah dua desa. Saat liburan semester. Saya menghubunginya dan berjanji bersilaturahmi ke rumahnya. Selama ini, jika bertamu ke rumah guru, biasanya saya menjaga seluruh sopan santun dalam hal tata busana. Biasanya saya memakai sarung dan songkok hitam. Sebagai bentuk ekpresi diri kaum santri atau bindara.

Demikian juga dengan kunjungan ke rumah dosen ini. Saya juga menunjukkan busana ala santri. Awalnya, saya menduga beliau akan menggunakan busana serupa. Tetapi, dia keluar menghampiri saya dengan kaos oblong dan celana pendek.

Saya melihatnya tidak seperti biasa sewaktu saya melihatnya di kampus, yang rapi dan berwibawa. Kala itu, saya seperti bertemu teman ngobrol atau teman nongkrong di kampung. Tampilan seperti itu menjadikan saya terasa lebih enak untuk ngobrol dan mencurahkan isi hati.

Saya pun bisa duduk tanpa perlu merasa kaku dan canggung selayaknya ketika saya sowan ke rumah kiai-kiai saya. Akhirnya, apapun yang ada di kepala siap ditembakkan dan disampaikan.

Kami pun terlibat obrolan singkat tapi memiliki beberapa poin untuk menyibak kabut tebal yang selama ini mengganggu pikiran saya untuk melangkah lebih sukses. Waktu itu saya meminta saran. sebagai mahasiswa dari desa. Apa yang mesti saya lakukan selama belajar di perguruan tinggi.

Dia tidak memberikan jawaban muluk-muluk. Tetapi, cukup padat. “Rajinlah Mencatat,” ujarnya.

“Mahasiswa itu memiliki kontrak belajar. Penuhi semua tanggung jawab dalam kontrak belajar itu dan catatlah semua apa yang disampaikan dosen dengan baik,” ujarnya.

Saat itu, saya tidak pernah berpikir sisi positif lain dari rajin mencatat itu. Awalnya, saya hanya mencatat materi-materi dosen yang biasanya disampaikan melalui tampilan powerpoint. Saya mencatat semua materi yang disampaikan dosen dengan penjelasan tambahan termasuk referensi yang dianjurkan dibaca.

kebiasaan mencatat materi dosen seringkali menyebabkan saya bosan. tetapi, saya menyalurkan dengan cara lain. Saya  pun mulai membiasakan juga mencatat kegiatan-kegiatan saya selama di kampus dengan lengkap, dan rapi. Kadang dipenuhi dengan kisah-kisah tentang hari-hari yang saya nikmati sebagai mahasiswa.

Kebiasan itu pun membawa saya pada suasana baru yang tidak terduga. Saya kembali merasa aktif menulis. Sesuatu yang hampir punah sejak saya lulus dari pondok yang rerata para santrinya memiliki kultur dan mimbar dalam dunia literasi.

Kunjungan ke rumah dosen itu memberikan saya satu pesan lain, jika ingin sukses di Kampus. Rajinlah mencatat. Saya lalu menterjemahkan pesan itu secara lebih bebas dan luas. Mungkin dosen saya itu meminta saya untuk menulis di media.

Sebab, waktu itu ada dua dosen saya yang berani memberi nilai A jika ada tulisan mahasiswa tembus di media cetak. Saya pun membekali diri dengan keterampilan baru, yaitu menulis. Saya menulis untuk banyak wadah, semisal buletin di kampus hingga media – media cetak yang ada di Jawa Timur.

Saya juga menerima pesanan dan jasa menulis banyak artikel dari orang-orang yang malas menulis tapi ingin website mereka selalu update dengan artikel baru setiap saat. Dengan menulis, saya harus memperkaya wawasan dan pengalaman. Saya harus membaca dan menelaah berbagai buku dan berita sebagai referensi. Lalu, saya olah kembali agar bisa dihadirkan sebagai gagasan baru. Saya merasa menyibak kabut kebodohan setiap waktu.

Pesan dosen itu pun memberikan peta baru dalam perjalanan hidup saya. Hasilnya luar biasa, saya bisa bertemu dan terhubung dengan banyak orang melalui kegiatan tulis menulis ini. Saya pun bisa membayar beban keuangan selama kuliah.  

Dan satu lagi yang saya rasakan dari pesan dosen yang saya terjemahkan menjadi “membiasakan diri menulis itu” adalah saya bisa menyibak kabut kebodohan yang menyelimuti hari-hari saya sebagai mahasiswa. Pesan itu berlalu bertahun-tahun, tapi tetap menggigit batin saya saat perasaan malas menulis datang menghampiri. Ah !!!

Fendi, S.Sos. Saat ini penulis berdomisili di Desa Bungbungan, Bluto

POSTING PILIHAN

Related

Utama 6305836219086195002

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item