Wasiat


 

Cerpen: Henny Jufawny

Rasa kantuk masih menguasaiku ketika alarm itu berbunyi. Ingin rasanya kembali mengulung diri dibalik kain sampir batik pemberian Ibu dan melanjutkan mimpi yang sempat terputus. Tapi, pilihan itu hanya akan membuatku kembali harus membersihkan comberan sebagai bentuk hukumannya, seperti saat hari ketiga berada di pesantren ini. Jam masih menunjukkan pukul tiga dan kami harus mengikuti aturan; bangun,wudhu’ kemudian shalat tahajjud,wiridan sampai tiba waktu shalat subuh. Setelah shalat, beragam aktivitas lain masih menunggu giliran untuk dituntaskan; sorogan kitab,al-qur’an,piket, baru kemudian berangkat sekolah. “Melelahkan!” Aku terus menggerutu mungkin juga mereka yang senasib denganku, hingga pelan-pelan aku mencoba berdamai dengan nasib.
    
Dua bulan aku bersitegang dengan perasaanku sendiri. Suasana selalu ramai oleh suara-suara santri. Ada yang sedang menghafal nadzam imriti, tashrif, mutholaah kitab, baca buku, ada juga yang sedang asyik ngerumpi sambil rujaan. Namun  tiba-tiba bagiku yang terasa hanya sepi, marah dan kecewa. Aku pikir, keluargaku memang sengaja membuangku ke tempat ini, agar harta mereka tidak berkurang untuk membiayai sekolahku di tempat yang lebih bagus. Dan kejadian di malam idul fitri yang lalu seolah mempertegas segalanya.

“Hana hanya ingin belajar mandiri, Kek, agar  Hana bisa berpikir bagaimana baiknya menjalani hidup tanpa Bapak dan Ibu,” kataku dengan suara lembut agar mampu meluluhkan hati Kakek.

“Itu hanya alasanmu saja. Kau akan kebingungan begitu berbaur dengan budaya orang kota yang sama sekali berbeda dengan apa yang selama ini kau jalani dan kau pelajari di sini.”

“Itu tergantung pribadi setiap orang, kek. Hana sudah bisa membedakan baik dan buruk, apalagi Hana sudah punya bekal keagamaan yang cukup, ”

“Dari cara kau bicara saja sudah jelas, bahwa pengetahuan agamamu hanya sebesar biji wijen. Orang yang sudah merasa cukup pengetahuannya, berarti dia orang yang tidak punya keinginan untuk tahu lebih banyak lagi, sudah merasa di atas angin. Padahal jika kau menunduk, kakimu masih menginjak tanah, masih pakai sandal jepit.”

Seperti dugaanku, ketika Kakek mulai bicara semua orang hanya mematung dengan mulut terkatup rapat.

“Sur, minggu depan antarkan anakmu ini ke pesantren Kyai Sholihin, biar dia punya pemahaman tentang hidup, bahwa hidup bukan mengabulkan keinginan, tapi justru menanggalkan keinginannya seperti dia menanggalkan baju kotornya di bak cuci.” Telunjuk itu tepat menuding ke arahku. Disaat aku butuh pembelaan, seluruh keluarga yang berkumpul malam itu mengangguk setuju tanpa meminta persetujuanku.

Rabu pahing, seminggu setelah perdebatanku bersama kakek, aku sah menjadi seorang ”santri”. Semenjak itupula aku berpikir untuk  memutar mimpiku ke arah yang lebih memungkinkan. Dari seorang penulis menjadi perempuan dusun yang hanya tahu tiga tempat utamanya, sumur, dapur dan kasur.  Namun pikiran yang sudah kumantapkan bahkan tinggal kustempel tiba-tiba kembali goyah setelah seorang guru berkata, bahwa para pemikir dan penulis yang hebat tidak lahir dari kehidupan yang serba mungkin. Bahkan ilmuan seperti Einstein yang terkenal dengan teori relativitasnya, pada masa kecilnya dianggap sebagai anak yang bodoh dan dikucilkan oleh teman-temannya di sekolah. D. Zawawi Imron hanya seorang anak desa yang belajar dari koran bekas bungkus nasi, namun mampu membuat semua orang berdecak kagum dengan puisinya.

Dari kata-kata itu, sedikit demi sedikit aku membuat sebuah kesimpulan bahwa kita harus menikmati proses kehidupan. Hidup bukan sepertihalnya mengunyah permen karet, dimana ketika sudah tak berasa bisa kita ludahkan dengan mudah. Tapi hidup adalah menikmati setiap rasa yang menyambangi kita entah itu rasa yang paling pahit sekalipun. Hal itu tak akan berlaku selamanya, karena dunia ini dinamis. Bukan seperti neraka dengan penyiksaan yang statis, atau surga dengan kenikmatan pun yang statis. Aku memutar kembali arah mimpiku ke asal mula ia tumbuh.

“ Han, bau hangus.” Tangan Farida menepuk punggungku. Pikiran, mata dan langkah semua tertuju pada asal bau hangus yang baru saja dikatakan Farida. Dan seperti kekhawatiranku, nasi yang kumasak di atas tungku api untuk kiriman buruh dan santri yang sedang menanam padi, hangus. Tak perlu menunggu lama untuk membuat aroma itu menari-nari di seluruh rumah. Lima menit setelahnya, suara Nyai sepuh lebih dulu sampai ke arah dapur baru kemudian beliau melangkah ke arah kami tanpa ada jeda dari dawuh yang begitu mencekik hari yang gerimis.

“Anak perempuan sekarang tahunya cuma pakai bedak dan minyak wangi. Kalau disuruh bekerja di dapur, tangannya mengiris bawang, tapi pikirannya berjalan kemana-mana. Bukan hanya pada saat shalat saja yang harus khusyu’, saat apapun harus .”

Kegiatan semacam itulah yang kadang membuat aku jengkel dan lupa untuk menyadari bahwa semua masuk dalam daftar proses. Batinku akan terus menggerutu, jika apa yang kukerajakan ini tak seharusnya. Pesantren adalah tempat para santri mencari ilmu, bukan tempat untuk mempraktekkan berbagai macam menu masakan, hingga seharian penuh bertabrakan dengan asap. Juga bukan tempat para santri untuk memanggang tubuh di bawah sinar matahari atau bahkan basah kuyup karena hujan di tengah pesawahan.  Dan siapa lagi yang bersalah atas keberadaanku ini? Kakek! Karena dasar perintahnyalah aku berada di sini.  

“Belajar bagaimana menjalani hidup yang baik.”  Kata-kata itu terus berdengung di telingaku. Bagaimana aku akan belajar, jika kesempatanku berpikir dan memahami tentang hidup tersita oleh berbagai pekerjaan? Mulai dari menyapu, ngepel, memasak, bahkan juga memilah ikan asin antara yang kecil dan besar. Lelah. Itulah kesan terakhir hariku. Terkadang aku berpikir bahwa apa yang kulakukan terlalu membuang waktu. Untuk apa ikan-ikan itu dipilah? Karena pada akhirnya mereka juga akan berakhir tragis di penggorengan yang sama. Kakek! Kakek terlalu mengurus hidupku hingga aku tak diberikan celah untuk memilih.

“Cara pandang kita terhadap sesuatu menentukan sikap kita. Jika kita memandang apa yang kita kerjakan atas kekuatan kita sendiri maka akan terasa berat. Namun jika kita memandangnya sebagai suatu proses hidup,sebagai cara Tuhan menyapa,maka semuanya seringan kapas,” aku teringat dawuh seorang guru tempo hari.

“ Hana!”  Suara Nyai sepuh membuyarkan lamunanku.

“Hana, kamu masak lagi. Nasi yang hangus itu, kamu kasih ke santri putra biar mereka tidak masak hari ini,” nada bicara Nyai sepuh lebih lunak. Aku pikir beliau akan memarahiku seperti tempo hari ketika aku memunguti sampah menggunakan tangan kiri. Hari itu, aku harus merelakan pelajaran pertama tuntas tanpa aku ikuti.

“ Faridah kamu goreng ikan teri lalu buat sambal.”

“Khusyu’ bukan hanya pada saat kalian shalat. Saat memasakpun kalian harus khusyu’.”

Aku dan Faridah saling menoleh mendengar kata-kata beliau. Entah Faridah faham atau tidak, namun aku mengerti jika pada saat kita melakukan pekerjaan apapun pikiran tidak boleh mendua agar sedikit kemungkinan terjadi kesalahan. Sayangnya, saat shalat hatiku sering selingkuh.

Suasana tiba-tiba menjadi hening. Faridah sibuk mengulek bumbu sedang aku mencuci beras. Kejadian tadi menjadi shock teraphy bagi kami untuk lebih banyak diam dan bekerja dengan semestinya.

Jum’at hari yang selalu ditunggu oleh kami para santri. Hari dimana para santri bisa memanjakan diri sejenak untuk melakukan kegiatan diluar kegiatan wajib. Dan hal yang paling ditunggu tentunya kunjungan dari keluarga. Yah, setiap jum’at itulah biasanya keluarga para santri menjenguk mereka tak terkecuali aku. Setiap bulan, Ibu dan Bapak menjengukku. Dan tak bisa disangkal, aku merasa bahagia dengan kehadiran mereka. Berada terpisah dari mereka membuat naluri kerinduan selalu muncul setiap saat, meski saat berada di tengah mereka dulunya sering muncul ketidaksepahaman.

Kehadiran Bapak dan Ibu saat ini sedikit berbeda. Selama dua tahun aku di pesantren baru kali ini Kakek ikut mengunjungiku. Entah kekuatan apa yang telah melunakkan hatinya? Tapi syukurlah akupun merindukan Kakek, meski aku menganggap Kakek sebagai penghalang mimpiku bukan berarti naluri kerinduanku padanya ikut memudar. Setiap mengunjungiku, Bapak dan Ibu pasti sowan ke kyai. Tapi kakek tidak ikut serta. Ia lebih memilih berbincang bersamaku.

“ Hana, bagaimana mengajimu?” Kakek tiba-tiba bertanya

“ Baik, Kek,” jawabku singkat.

“Alhamdulillah. Jangan lupa amalkan. Dan ingat, jangan hanya mengaji lembaran-lembaran kitab, mengajilah juga pada alam. Ia akan mengajarimu banyak hal yang tidak kau temui dalam lembara-lembaran kitab.”

Kali ini aku merasakan getaran kasih dalam nada bicaranya. Sesekali kakek terbatuk. Bapak memang pernah bercerita jika kadar gula kakek meningkat. Tiba-tiba hatiku bimbang akan pertemuan kami hari ini. Semoga masih banyak kesempatan seperti ini lagi bagi kami: Bicara tanpa saling tuding.

“Hana ingin jadi penulis,Kek,” akhirnya kesempatan itu ada untuk mengatakannya pada Kakek
“Ikuti saja kecondongan hatimu.” Sungguh diluar dugaan Kakek akan berkata demikian. Aku mengira  Kakek akan tetap menentang seperti semula.
“ Jika itu sudah pilihan hatimu, maka lakukanlah. Tapi kau harus luruskan niatmu. Jangan hanya soal menjadi tenar yang akan dengan mudah surut jika kreativitas menulismu monoton dan tidak menyentuh.”

 Lagi-lagi perkataan Kakek membuatku terkesiap. Aku terlalu menganggap Kakek masih berpikir primitive dengan hanya cukup mengajari anak-anak di surau dan mengurus keluarga sampai tak ada waktu untuk sekedar mengingat kapan terakhir kali bermimpi.  

“ Jangan membabibuta dalam menilai seseorang. Mungkin saja ketika seseorang marah padamu, ia bermaksud menguji kesabaran dan kekuatan batinmu untuk senantiasa legowo.”Kyai pernah dawuh demikian saat kegiatan sorogan kitab.

Aku memang terlalu menganggap Kakek sebagai orang yang berpikiran sempit, terlalu memaksakan kehendak dengan beralasan demi kebaikan. Padahal itu hanya keegoisannya saja. Seperti ketika ia memaksaku masuk pesantren. Dalam benakku selalu muncul pertanyaan: Apa bedanya pesantren dan sekolah berasrama yang sangat aku inginkan saat itu? Dimanapun lembaga pendidikan selalu mengajarkan kebaikan. Tapi sekarang aku mengerti. Barangkali jika aku di luar sana, aku akan terjebak dalam hegemoni kapitalis yang hanya bisa kita lawan dengan kesederhanaan hidup, dan itu kutemukan di pesantren.

Kunjungan kakek untuk pertama kalinya perlahan menghilangkan jarak diantara kami. Kakek juga lebih sering mengunjungiku meski bukan saatnya kunjungan seperti biasa. Terakhir kakek mengunjungiku pagi-pagi sekali dengan diantar oleh ayah.

“ Jangan lupa jalan pulang.” Itulah akhir perkataan kakek dan tidak pernah terulang sampai akhirnya ia dipanggil oleh-NYA satu bulan kemudian.

Pada saat sakit, kakek lebih banyak diam. Sesekali terdengar dari suara lirihnya, syahadad. Dan aku masih penuh tanya akan maksud perkataan terakhir kakek. Aku bermaksud bertanya pada seorang guru, tapi aku tak mendapatkan jawaban yang tepat. Berhari- hari ucapan kakek masih terdiam kaku dalam ingatanku.

Hingga pada suatu malam, saat gerimis belum juga tuntas dan angin berhembus kencang yang melengkapi suasana menjadi teramat dingin. Ragaku tidak mampu melayani  perjamuan keduanya hingga sepanjang malam aku menggigil.

Lalu dalam keadaan setengah sadar, aku kembali mendengar suara lirih kakek mengucap syahadad dan perlahan mendekatiku. Ia memberiku selembar kertas dan pena “jangan berhenti menulis”, ucapnya kemudian hilang bersama ucapan salam dari Fajar.

Bersamaan dengan hari yang lebih hangat, tumpukan tanda tanyaku juga mencair. Kehadiran Kakek dalam mimpiku semalam selolah isyarat bahwa jalan pulang yang harus kita lalui adalah syahadad. Syahadad adalah pembuka perkenalan seorang hamba dengan Tuhan  dan arah jalan pulang yang sebenarnya agar kita tidak tersesat menuju titik akhir perjalanan: Tuhan.

Dan untuk menjadi penulis, tidak perlu menukar sandal jepit dengan sepatu, kain sarung dengan celana, dan tidak perlu di tempat dan suasana yang serba mungkin. Semua tergantung kemauan dan kepandaian kita memanfaatkan kesempatan.

Kita bisa menulis saat merebahkan tubuh di atas ranggun setelah membajak, saat menunggu umpan dimakan oleh ikan, atau saat kita menjaga tungku api saat menanak seperti yang kulakukan saat ini. Sementara Faridah, ia tengah asyik makan jagung bakar pemberian Nyai sepuh.


Lapa laok, 11 Desember 2020


POSTING PILIHAN

Related

Utama 510094293869494203

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Segera Terbit

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal


 

item