Sang Demonstran dan Tiga Peluru



Safrina Muzdhalifah

Indonesia kembali berguncang. Adanya disinformasi dari substansi omnibus law yang disahkan di tengah hiruk pikuk kecemasan masyarakat oleh pandemi covid-19 benar-benar petaka. Sebab belum disosialisasikan dan dirundingkan secara terbuka, penolakan dari berbagai kalangan masyarakat memecahkan demonstrasi skala besar di seluruh sudut kota. Termasuk di Surabaya, beberapa gerakan dipelopori oleh mahasiswa.

Di seberang jalan yang menghadap langsung pada Gedung Negara Grahadi, aksi demonstrasi  mulai tidak kondusif. Sebagian anggota demonstrasi bentrok dengan aparat kepolisian karena bertindak anarkis. Hal tersebut mempengaruhi berlangsungnya aksi, sebab aparat kepolisian mulai hilang kesabaran dan sesekali menggunakan senjatanya.\

Hingga hal memilukan terjadi. Seorang aparat kepolisian dengan seragamnya berada di tengah kerumunan para demonstran, melejitkan peluru dari pistol dalam genggamannya secara beruntun.

Tepat saat terik matahari nyaris membakar bumi, diantara hambur debu yang diterbangkan angin ke seluruh penjuru, di jantung jalan beraspal itu segala tentang sang demonstran ulung berakhir.

Dia dengan suara menggelegar yang menjadikan tubuh bergetar saat mendengar, dia dengan keyakinan yang bahkan tak ada celah untuk diragukan, dia yang suaranya seolah mewakili seluruh kehendak rakyat yang sempat ditolak pemerintah, kini terkapar dengan tubuh berlumur darah merah pekat setelah 3 peluru secara beruntun meluncur dari pistol Colt 1911 mengenai kening kemudian kedua bahunya.

Sebagian tubuhnya masih dibalut bendera yang semula merah putih berubah sepekat darah di tubuhnya. Beberapa menit sebelum matanya benar tertutup rapat, sang demonstran sambil lalu berusaha menatap pada satu titik arah di sisi jalan, tersenyum tulus dibalik darah merah pekat yang menutup hampir seluruh wajahnya seraya berkata terbata "Saya bangga dibesarkan oleh seorang polisi".

Sementara aparat kepolisian itu berdiri terpaku disisi jalan beraspal dimana sang demonstran ulung terkapar, tanpa disadari pistol Colt 1911 yang bertahun-tahun menemaninya bertugas telah jatuh tergeletak di samping kaki sebelah kanannya dengan tanpa peluru.

Pandangan matanya kosong, meski terpusat pada kerumunan mahasiswa lain yang coba membawa mayat berlumur darah merah pekat sang demonstran sambil terus berorasi. Bertahun-tahun menjadi aparat kepolisian, puluhan kali menyaksikan kematian disebabkan peluru-peluru dari pistol Colt 1911-nya.

Baru kali ini ia merasa tiba-tiba dibayangi dosa yang tak akan mampu ditebusnya dengan apapun meski dengan alasan tugas dan tanggung jawab yang mesti dipenuhinya. Ada yang ternoda di bagian kebanggaanya bertahun-tahun sebagai polisi.

Selanjutnya untuk pertama kalinya sepanjang karirnya sebagai polisi, ia merasa luka telah melesatkan peluru-peluru dari pistolnya. Serentak dengan air bening yang mulai membanjiri lekuk usia tua di mukanya, ia bergumam lirih "Bu, putra kita telah menjadi demonstran sejati".

Pamekasan, 02 Februari 2021







POSTING PILIHAN

Related

Utama 7668475247484033350

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item