Sajak-Sajak Ahmad Syauqi, Pontianak


Ahmad Syauqi
, adalah mahasiswa  Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan asal Pontianak, Kalimantam Barat. Pemuda ini sekarang Semester 4, Fakultas/Prodi : Dakwah/KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam)



Nahkoda Dunia

Mereka bukan manusia
Mereka hanya debu jalanan
Mereka hanya ladang kekayaan
Semua bisa dikendalikan
Lupakan janji-janji manis itu
Hanya bualan semata demi kepercayaan
Lupakan kepedulian
Ingat saku dan perut
Lupakan belas kasih
Ingat kejayaan yang menunggu
Dunia ini kita nahkodanya
Tenggelamkan mereka yang mengusik
Hanyutkan mereka yang mengganggu
Bunuh,mereka yang menghalang
Ini bukan tentang mereka
Ini tentang kita
Hukum,keadilan,kedudukan, bahkan hidup dan matipun
Dengan mudah kita mengaturnya
Begitu instan semua diraih
Dunia ini kita nahkodanya


Hutan Rimba

Sekarang saatnya bermain
Bermain dengan rasa takut
dan rasa cemas mereka
Kita bisa membuat mereka tunduk
Buat mereka takluk
akan setiap kata yang keluar
Tanamkan rasa sungkan dalam hatinya
Kita adalah raja dari segala raja
Kita adalah  orang yang harus
diikuti segala titahnya
dan kita adalah titisan dari syurga
Manusia sempurna
tanpa sedikitpun kesalahan
Tak ada sebercak kotoran
Dan tak ada sedikitpun celah
yang bisa masuk dalam diri kita
Bungkam mulut mereka dengan ancaman
Tutup mulut mereka dengan tulisan
Jangan biarkan mereka bicara
Membantah, ataupun membangkang
Rasakan seolah dunia
dalam genggaman kita
Tak ada yang bisa
membantah disetiap perkataan
Tak ada yang berani
menatap ketika berhadap
Dan tak ada
yang menentang ketika diperintah
Karena kita adalah
sang penakluk setiap jiwa
Mereka hanya lah
segerombol domba
Hewan ternak yang hanya diberi rumput
Mereka pasti akan tetap manut
Dan kita adalah sekelompok singa
Hewan tangguh dengan gelar
“sang raja hutan”



Sang Penari

Tanpa sengaja kulihat beberapa sajakmu
Kau curahkan beberapa  tentang keluh kesah hatimu
Kau gerakkan pena lalu menari diatas papan ketikmu
Tak ada yang tau apa yang terjadi
Tapi yakinlah semua kata hatimu sudah kau curahkan
Wahai engkau sang penari, jangan rusak lagi keadaanmu
Mungkin semua sudah terjadi, tapi yakinlah semua bisa kau hadapi
Mekarkan lagi senyummu, tampakkan lagi wajah bahagiamu
Hanya itu satu kunci ketenanganmu
Suara kicauan burung dikala sore
Menandakan kepedihan atas deritamu
Seberkas sinar matahari yang sudah hampir pergi
Merasa tak sanggup akan keadaan itu
Berjuanglah pengisi hati
Lupakan segala hal pedih
                                   



Pemancingan M-Punk

Jas usang yang kami pakai
Peci dan sarung sebagai penghalang
Kami berbeda, dan terasingkan
Bertahan adalah kunci sukses katanya
Andai kau tau
Bertahan yang terus digantung
Dengan sebuah harapan yang dinantikan
Dan andai kau tau
Itu adalah hal yang menyakitkan
Kau menyuruh kami memancing
Dan harus mendapatkan tangkapan
Tapi kau biarkan kami tinggal
Tanpa memberi satupun peralatan
Apakah ini yang kau sebut kepastian
Pasrah akan keadaan
Menunggu datangnya keajaiban
Lalu mati disiksa oleh harapan
Wahai engkau sang pemberi harapan
Kami menantikan sebuah jawaban
Yang sudah lama dinantikan
Kami hanya menunggu kapan
Belenggu ini akan dilepaskan
Kami kehilangan nafas hanya demi
Sebuah harapan dan jawaban
“apakah kalian pernah memikirkan?



Naskah Rusak

Dunia hanya tempat drama
Lakon yang harusnya ada
Kita selewengkan sesuka hati
Sang sutradara telah percaya
Tanah dan pepohonan
Sebagai pentas dan dekornya
Langit dan awan
Memperindah dan melengakapi yang kurang
Semua berjalan sesuai arahnya
Lalu mengapa?
Kita yang tak ada mereka
Tak akan bisa indah,
Malah melenceng dari naskah




MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 2362623095073390894

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA