Harapan di Ujung Senja

 


Cerpen Fahim Abdul Majid

Pagi itu, tepat di saat bola api semesta mulai menampakan dirinya, sembari mencoba tuk menyapa dedaunan dan burung-burung yang menyambut pagi dengan cerianya. Bukan hanya dedaunan dan burung-burung saja yang ceria di pagi itu, kini Fahmi pun tak mau kalah menyambut paginya dengan bertemankan secangkir kopi hitam dan gitar klasiknya. Alunan gitar Fahmi mengiringi lagu boomerang yang berjudul seumur hidup itu, berhasil menyambar ke telinga Sofyan sesampai menarik raganya untuk bergabung bersama kawan karibnya itu. Merasa dirinya tetinggal, akhirnya Fardhan pun bergegas menyusuri suara yang melafadzkan bait-bait dari lagu kebanggaan mereka.

Kombinasi dari tiga suara, Fahmi, Sofyan, dan Fardhan terdengar begitu sempurna sebab orang-orang yang mendengarnya sangat menikmati kekompakan suara dari ketiga sahabat tersebut. Gimana gak kompak, bernyanyi bersama memang sudah menjadi rutinitas mereka setiap harinya.. Walaupun kegiatan rutin mereka adalah kumpul bersama, tertawa dan bercanda ria bersama,  akan tetapi kewajiban sebagai seorang hamba tak perna dilalaikan.

Keesokan harinya, ketiganya berencana untuk melakukan refreshing menjelajahi keindahan pantai-pantai yang sudah menjadi pusat perhatian masyarakat Flores. Refreshing ini tak lain bertujuan untuk merayakan acara perpisahan, sebab tinggal beberapa hari lagi Fahmi harus merantau untuk melanjutkan jenjang pendidikannya.

“Gimana nih, lokasi yang cocok untuk acara kita?,” tanya Sofyan dengan wajah kebingungan.
“Kalau menurut saya sih, kita ke pasir putih aja, soalnya agak dekat ketimbang pantai-pantai yang lain, dan juga pasir putih termasuk tempat yang menjadi favorit dari sekian banyak orang-orang yang ada di Flores. Iya kan?” tanya Fardhan dengan penuh keyakinan.

“Iya benar tu. Saya setuju,” jawab Fahmi sembari mengarahkan pandangannya ke Sofyan.
“Iya, saya juga setuju.” Sofyan pun setuju dengan keputusan Fardhan.

Setelah hasil keputusan selesai, mereka pun bergegas untuk berangkat dengan mengendarai kuda besi yang bunyinya agak merengek ribut. Dengan bunyi motor yang mengeluarkan suara yang menyinggung telinga, mereka dengan ceria mebelah arus perjalanan menuju pantai pasir putih. Dari beberapa kampung yang dilintasi, mereka akhirnya bisa sampai di tempat yang menjadi lokasi utama untuk acara mereka. Lokasi pasir putih siang itu kelihatan cukup panas dengan sinar sang surya yang menyengat dedaunan dan batu-batuan beserta pasir yang membentang luas di atas permukaan pantai.

Namun ancaman panas itu tak akan menjadi penghalang bagi pengunjung yang berekreasi ke tempat tersebut. Sebab rindangnya pepohonan hijau yang berhembus angin sejuk beserta gubuk kecil yang menancap, sudah cukup untuk menghilangkan hawa panas tersebut. Ditambah dengan air laut yang bersih dan deretan bebatuan yang memiliki variasi bentuk dari yang kecil hingga ke yang besar serta pasir yang berwarna putih  membentang luas, membuat keindahan pantai itu layaknya surga dunia. Tergiur dengan keindahan pantai pasir putih itu, Fardhan, Sofyan dan Fahmi langsung mengabadikan beberapa foto dengan camera canon hasil rentalan tersebut.

“Dhan, Yan, bagus nih!” ujar fahmi sembari menunjukan beberapa foto yang telah didokumentasiakan.
“Iya, Kerreennn….” jawab Sofyan menyetujui perkataan Fahmi dengan penuh takjub.

Ketiga sahabat itu kelihatan begitu gembira merayakan acara perpisahan mereka. Yah, walaupun dari kecerian tersebut sebenarnya terselip rasa gunda gulana akan kepergiannya Fahmi, tapi tak sedikitpun membuat mereka untuk berhenti tertawa membagi kebahagiaan. Pantai pasir putih pun kini menjadi saksi bisu terhadap janji yang dibuat antara ketiga sahabat sejati itu.

“Pokoknya seberapa jauh kita melangkah sesampai membuat kita tak bisa bersama seperti hari-hari yang telah kita lalui, ingatlah bahwa kita tetap sahabat. Walapun tuntutan pendidikan yang membuat kita terpaksa merantau, kita tetap akan kembali ke tanah asal kita. Dan di tanah kelahiran ini juga kita akan berjumpa lagi.” ucap Sofyan ketika ketiganya sepakat untuk membuat janji. Fardhan dan Fahmi hanya bisa mengangguk dengan hati yang diselimuti resah.

Kegiatan mereka akhirnya selesai dan bersiap untuk pulang ke rumah. Dari perjalan yang melelahkan tersebut, tibalah mereka di rumahnya Fardhan. Ketiganya langsung merebahkan badan karena kelelahan setelah melakukan perjalanan tersebut. Keesokan harinya mereka bergegas pergi ke rumah Fahmi untuk mempersiapkan keberangkatannya Fahmi. Setelah selesai membereskan barang-barangnya Fahmi, merekapun berangkat ke pelabuhan untuk menunggu kapal yang akan di tumpangi Fahmi. Ibunda Fahmi memanggil Fahmi dan duduk di dekatnya.

“Nak, kalau sudah sampai di tempat tujuanmu, jangan lupa dengan niat awal kamu untuk pergi menimbah ilmu. Sekarang kamu sudah memiliki tanggung jawab besar di kampung kita. Jadi bersungguh-sungguh lah nak!” pesan ibundanya fahmi yang cukup menyentuh hati Fahmi.

“Ingat janji kita juga ya, jangan sampai lupa!” ucap Sofyan yang coba mengingatkan Fahmi tentang janji yang telah mereka ikrarkan bersama ketika berada di pasir putih.
Bukan hanya orang tua fahmi saja yang mengantar kepergiannya, semua sahabat setianya yang merupakan satu alumni dengannya, turut hadir untuk melepas keberangkatan Fahmi. Tepat pada pukul 20:30 WIT, terompet kapal pun berbunyi yang menandakan kapal akan segera berangkat. Setelah antrian begitu panjang, Fahmi pun akhirnya bisa sampai di dalam kapal.

Lambaian tangan tak perna berhenti mengiringi layarnya kapal sesampai kapalpun sedikit demi sedikit menghilang dari pandangan orang-orang yang tengah mengantar kepergian Fahmi. Fardhan dan Sofyan hanya bisa memandang sisa-sisa cahaya lampu kapal yang kini telah membawa jauh pergi sahabat yang sudah menjadi saudara bagi mereka.

Setelah mengarungi lautan luas dan melewati beberapa pulau, Fahmi akhirnya tiba di tempat tujuannya. Banyak hal-hal baru yang dijumpai Fahmi ketika berada di tempat yang kini menjadi tempat untuk melanjutkan proses pendidikannya. Roda bumi berputar begitu cepat sehingga tak terasa Fahmi sudah mencapai dua bulan lebih berada di tempat kuliahnya itu. Fahmi juga akhirnya bisa beradaptasi dengan lingkungan baru dan bisa berbaur dengan orang-orang baru yang kini telah menjadi teman akrabnya juga.

Namun ia juga tak perna melupakan akan kedua sahabatnya dulu ketika masih berada di kampung. Yah, siapa lagi kalau bukan Fardhan dan Sofyan. Beberapa hari yang lalu, Fahmi perna ditelfon sama si Sofyan. Fahmi gembira karena ia mendengar kabar bahwa Sofyan akhirnya bisa melanjutkan pendidikan juga. Sedangkan si Fardhan masih belum bisa karena menyesuaikan kondisi ekonominya.

Ketika sudah sampai lima bulan lamanya berada di tempat kuliahnya, Fahmi didatangi kabar yang sangat meresahkan jiwanya. Fahmi ditelfon orang tuanya dan mendapatkan kabar bahwa Sofyan telah kembali ke kampung.

“Assalamualaikum nak,” salam ibundanya Fahmi.
“Waalaikumsalam bu,” jawab Fahmi.
 “Nak, Sofyan sakit dan sekarang dia sudah ada di kampong.”tegas ibunya.
“Ya ampun, terus Sofyan di rawat di mana bu?” tanya Fahmi dengan kaget
“dia sudah dibawa ke rumah sakit dan keadaannya cukup parah nak, jadi ibu berharap untuk terus mendoakan kesembuhannya!” pinta ibunya.
“Iya bu, Fahmi pasti akan selalu mendoakan kesembuhan buat Sofyan bu. Titip salam buat dia bu!” ucap Fahmi kepada ibundanya.

Dua hari setelah mendengar kabar tentang Sofyan yang sedang mengalami sakit, Fahmi ditelfon lagi dan kali ini kabarnya benar-benar tidak mengenakan di telinganya. Fahmi menumpahkan air mata ketika telfon sedang berlangsung. Badannya tiba-tiba kaku, mulutnya membungkam seakan terjebak dalam sangkar berduri. Sofyan menghembus nafas terakhirnya setelah melalui derita sakitnya yang sangat serius itu.

Kabar itu cukup mengukir luka di jiwa Fahmi yang tengah bersedih dan hampir saja putus asa dengan pendidikannya. Sedangkan si Fardhan yang menyaksikan sendiri kepergian temannya itu, merasa sangat terpukul sebab mengingat janji yang telah mereka buat ketika berada ada di pasir putih, bahwa mereka pasti akan berkumpul bersama-sama lagi setelah setahun berpisah. Hal itu sama dengan apa yang dirasakan oleh Fahmi yang hanya bisa mendengar kabar kepergian sobat karibnya lewat kejauhan. Janji mereka kini menjadi harapan yang tak  sempurna, sebab salah satu dari mereka yang ikut mengikat janji, kini harus pergi menghadap Sang Khalik.

Kesedihan itu tak kunjung berhenti setelah beberapa hari mendengar kabar duka itu. Fahmi masih saja meratap nasib kepergian sobatnya, sehingga ia hampir putus asa untuk berhenti kuliah. Sebab harapannya seakan menghilang akibat waktu yang telah merenggut nyawa sobat karibnya itu. Namun mengingat perjuangan mereka yang telah dibangun sebelumnya, Fahmi bertekad untuk tidak akan menyerah dan tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan.

Setelah beberapa minggu kemudian, Fahmi akhirnya bisa mengiklaskan kepergian Sofyan dan ia pun bertekad untuk meneruskan perjuangan yang telah dibangun, antara dia, Fardhan dan Sofyan yang terlebih dahulu dipanggil Sang Ilahi. Fahmi pun berharap ketika pulang ia bisa mengulang cerita bersama Fardhan lagi, walaupun tanpa adanya sosok Sofyan. Sebab, janji yang telah mereka buat itu menjadi harapan yang tidak sempurna akibat kepergian Sofyan. Fahmi dan Fardhan hanya bisa mengikhlaskan semua yang telah terjadi dan tetap berjuang meskipun harapan mereka tak lagi sama seperti sediakala.

Fahim Abdul Majid, lahir di PAPILAWE, 06 Juni 2001, Asal  Flores, NTT. Sekarang belajar di Institut Dirosat Islamiya AL-Amien (IDIA) Perenduan, Semester IV, Jurusan  BPI (Bimbingan dan Penyuluhan Islam)


MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 8113277296149691821

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA