Filosofi Gerakan Literasi?

oleh:  Shiny Ane El'poesya

Belakangan ini, ada seseorang yang notabene terpandang (banyak ditonton) oleh publik sastra, di channelnya bicara mengenai Sejarah Komunitas Literasi. Ia merujuk pada sebuah buku dan nampaknya mengikut saja pada buku yang dipegang tanpa ada bandingan horizon lain. Bukunya pun, bukan buku khusus sejarah literasi.

Dia mengatakan, bahwa komunitas literasi terbentuk seiring ditemukannya mesin cetak Gutenberg, juga didukung oleh merebaknya kedai-kedai kopi, yang artinya itu terjadi di masa-masa menjelang zaman modern di Eropa.

Dari situ kita sebenarnya sudah bisa tahu, bahwa perkataannya cenderung sembrono dan tidak bisa dipegang. Kenapa? Sebab, dalam perjalanan sejarah Eropa saja misalnya, di zaman terjadinya helenisme, sudah banyak buku diterjemahkan ke berbagai negara timur, dan sebab itu ada perkumpulan-perkumpulan baca di banyak tempat, meskipun bersifat terbatas. Pula negera-negara yang tersetuh helenisme ini tak sedikit pada akhirnya sampai mengalami akselerasi budaya dan pengetahuan. Bukankah ini yang senantiasa jadi tujuan gerakan literasi di manapun?

Lebih ke belakang, dari seorang senior mengatakan, "Agora di zaman Plato atau di zaman Hypatia itu tempat komunitas literasi kumpul. Ada lelang buku di situ," ungkapnya.

**

Jika menelisik sejarah gerakan literasi kita, sama sebenernya ketika ada seseorang mengatakan gerakan generasi literasi di Indonesia muncul di tahun 2000an, adalah sebuah pernyataan yang tak kalah sembrono. Bagaimana bisa?

Pertama, dalam sejarah kemerdekaan kita yang dipelopori oleh sejumlah kaum muda di setiap babak masanya, mereka-mereka tercatat dalam sejarah dengan jelas adalah kelompok elit intelektual yang terliterasi dengan baik oleh wacana barat-modern. Tak sedikit dari mereka yang kerap mengadakan perkumpulan, diskusi dan saling bertukar bacaan, baik secara langsung maupun melalui polemik, pamflet, surat-surat hingga tukar-buku.

Kedua, jauh dari itu, di zaman masuknya pengaruh dan penyebaran islam ke Nusantara, kita menemukan banyak menyebar hikayat, sirah, rubaiyyat, ratib, burdah, kitab-kitab, dan produk-produk budaya (Parsi-Arab) lain seterusnya. Bukankah itu tanda bahwa gerakan literasi sudah ada sejak abad 13-14 sebelum di Eropa betul-betul diramaikan oleh mesin cetak? Para ulama yang datang ke Nusatara melakukannya melalui gerakan penerjemahan dan penulisan ulang kisah-kisah, kitab-kitab, dan serta menyebarkannya melalui halaqah-halaqah atau majelis-majelis sebagaimana pernah terjadi di zaman Baitul Hikmah, dan zaman Sang Nabi; penulisan wahyu pada lembaran-lembaran kertas, kulit dan sebagainya, serta bergumul hidup dengan berbagai aktivitas kesenian dengan caranya.

Pergumulan akan teks ini masih lestari di pesantren-pesantren. Apalagi yang hidup di pesantren, mereka pasti tak hanya berkegiatan "melek baca-tulis aksara," tetapi bahkan diiringi langsung dengan belajar ilmu linguistik dari dasar sampai yang advance. Belajar ilmu nahwu, sharaf; dari Kitab Jurmiyyah sampai Alfiah, dari Kitab Tasrifan "Fa'ala-Yaf-ulu", Syarah Kailani sampai Jami Addurus Arabiyyah, juga mempraktikkan tradisi membacakan karya-karya sastra: maulid, diba, barjanzi. Meskipun sebagian besar dari para santri (dan bisa juga para pengajarnya) masih tak sadar bahwa itu merupakan satu aktivitas gerakan literasi dalam rangka persentuhan kebudayaan.

Ketiga, lebih jauh dari itu, ketika kita mengenang zaman Veda di Nusantara, zaman para Rsi, juga di sana kita akan menemukan kitab-kitab sudah digandrungi. Meskipun, tidak sampai jadi komunitas publik. Tetapi, jelas di sana ada kelompok penggandrung tulisan yang saling berjejaring. Bahkan, dengan kedatangan mereka ke Nusantara, dikenalkanlah bahasa Sanskrit kepada orang-orang di Nusantara, serta dikenalkannya pula istilah "Sastra" itu. Begitu juga pada zaman para Bhikku-Budha. Selain mereka belajar di kuil-kuil, mereka juga tak jarang berkumpul di gua-gua, di petapaan2 untuk mempelajari serat dan sutra-sutra Budha.

Kitab-kitab Hindu-Budha adalah kitab-kitab yang disebut sastra. Sutra-sutra yang diajarkan kepada para calon Rsi/Bhikku adalah sebuah bagian dari form sastra pada saat itu.

**

Pertanyaanya, mengapa para pegiat literasi masih saja ada yang sedemikian buta akan semua ini? Mengapa sampai-sampai masih ada orang yang begitu percaya bahwa gerakan literasi terbentuk di permulaan zaman modern? Kenapa, kita, yang dalam keseharian kita menggunakan kata "Sastra" tanpa ragu, tetapi sekaligus tanpa malu berfikir begitu Kebarat-baratan? Duh!

07 Februari 2021

_____
Shiny.ane el'poesya. SainsPuisi Lab. Penulis buku puisi Kotak Cinta (2017), Sains Puisi (2019), dan tetralogi Bidadari Masehi (2020-2021)

diangkat dari akun FB Shiny Ane El'poesya


POSTING PILIHAN

Related

Utama 4159086681137939982

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item