Dhāmar Kambhāng di Kamar Nenek


Cerpen: Safrina Muzdhalifah

Hari ke tujuh kematian nenek. Orang-orang yang sesaat lalu ramai bertahlil beranjak pulang satu persatu. Hujan tidak turun, namun langit sempurna mendung seperti turut berkabung. Yang tersisa hanya kerabat dan tetangga dekat yang selama tujuh hari ini bersedia memasak, menyiapkan hidangan, dan menyiapkan segalanya untuk para pelayat dan tamu yang datang untuk bertahlil. 

Piring, gelas, mangkok, nampan, dan perkakas masak lain yang semuanya kotor bertumpuk di pojok dapur. Tikar-tikar kotor juga masih terhampar di beranda dan halaman. Aroma amis darah kambing, sapi, dan ayam yang disembelih, aroma bumbu masakan, aroma bunga tabur makam, aroma keringat orang-orang, bercampur aduk menyeruap dari dalam dapur.

Malam jatuh dipeluk kegelapan, bulan mengintip diam-diam sambil cekikikan. Para perempuan bergegas mencuci piring dan membereskan perkakas yang berantakan di dapur, meski sebagian sudah duduk diam karena kelelahan. 

Para lelaki mulai melipat tikar-tikar yang ditempati tamu tahlilan setelah dibersikhan, sambil lalu sesekali menyeduh kopi yang mulai dingin dan kembali menyulut rokok. Anak-anak kecil berkejaran, bercanda satu sama lain. Mereka pasti belum bisa merasakan betapa pilunya kehilangan. 

Suasana rumah duka ini, dengan karung-karung dipenuhi beras menegaskan perihnya kehilangan yang selama tujuh hari setiap waktu merangkul kami semakin erat. Ibu dan bapak duduk diam diantara kesibukan itu, tatapan matanya kosong dan nanar. Paman menyulut rokoknya yang kesekian kali, seperti berusaha menghempaskan sesak di dadanya melalui asap rokok yang disemburkannya ke udara.

Aku belum melihat bibi. Jadi kuputuskan untuk mencarinya di dalam rumah. Akhirnya aku menemukannya di kamar nenek. Pandanganku tertuju pada cangkir berisi air di atas nampan yang diletakkan di atas tempat tidur nenek. 

Didalam cangkir itu ada sepotong daun pandan yang teriris bagian tengahnya, di tengah irisan diselipkan potongan kapas. Di kapas itulah api dinyalakan. Bibi sedang berusaha menutupi nyala api itu dengan tangannya karena angin berhembus kencang. Selama tujuh hari sejak kematian nenek, setiap malam aku melihat cangkir dengan nyala api tersebut menyala di kamar nenek. 

"Apa apinya tidak boleh padam, bi?," tanyaku pelan 

"Ini dhamar kambhang. Cahayanya akan menerangi nenek dalam kubur. Kalau apinya padam, nenek akan gelap disana" sahut bibi lirih. 

Aku diam. 

Terus memperhatikan bibi yang berupaya menjaga ''dhāmar kambhāng'' tetap menyala.


Batangbatang, 31 Januari 2021

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5212087664509163112

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item