Teka-Teki Akhir Hayat Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Soerabaia

Ilustrasi makam Van der Tuuk di Pemakaman Belanda di Peneleh.(foto: Mashuri Alhamdulillah)

: catatan  Mashuri Alhamdulillah

De Begraafplaats Peneleh Soerabaia atau yang karib disebut Makam Peneleh Surabaya, bukan sekadar sebagai tempat kumpulan tulang-belulang dari orang-orang Belanda atau Indo-Eropa pada masa kolonial, di Soerabaia. Pemakaman yang dibangun pemerintah Hindia Belanda tahun 1814 itu adalah saksi sejarah jatuh bangunnya anak manusia dalam mengarungi nasib. Meski kondisi pemakaman kini memprihatinkan, tetapi di sanalah bersemayam jasad orang-orang yang dianggap penting pada masanya, mulai dari Gubernur Jenderal Peter Merkus hingga ahli bahasa eksentrik Herman van der Tuuk.  

Makam Peneleh merupakan pemakaman modern dengan nama resmi De Begraafplaats Peneleh Soerabaja. Dianggap modern karena memiliki tata letak makam yang rapi sesuai dengan blok. Selain itu juga memiliki catatan tentang jenazah yang dimakamkan, silsilah keluarga dan fasilitas krematorium yang sudah ada  sejak kompleks pemakaman ini dibangun. Luasnya mencapai 5,4 hektar. Hanya saja pamornya memang tidak setenar Makam Belanda di Kembang Kuning. Meski demikian, kompleks makam  yang bersebelahan dengan kampung tua Peneleh ini menyimpan biografi tokoh tempo doeloe yang lebih kompleks.

Berdasarkan catatan pemakaman Belanda Soerabaia di Kembang Kuning, nama-nama yang dikubur di Peneleh di antaranya: Gubernur Jenderal Peter Merkus, linguis Herman Neubroner van der Tuuk, pendeta perintis Ordo Yesuit di Soerabaia Martinus van den Elsen, para biarawati dari Jalan Ursulin yang sekarang menjadi Jalan Darmo, arsitek Jembatan Porong Ibrahim Simon Heels Berg, penerbang pertama Hindia Rombaldo, wakil kepala Mahkamah Agung PJN de Perez, dan lain-lainnya.

Beberapa tokoh menarik bila dilihat dari sisi kemanusiaan karena akhir hidupnya yang nyaris tak menyenangkan. Setidaknya ada dua nama yang dapat disebut dalam kategori itu. Pertama, adalah Pieter Merkus, kedua adalah Herman Neubroner van der Tuuk. Untuk Van der Tuuk, bakal dibahas pada nggedabrus tersendiri karena ternyata banyak yang mengidentifikasi dirinya secara kurang tepat karena dianggap sebagai komandan perang Indo-China. Padahal ia aseli Belanda dan dianggap sebagai 'bapak' linguis bahasa-bahasa Nusantara, meski akhir hidupnya juga aneh bin tragis: terserang mencret parah.

Sosok Pieter Merkus memiliki daya tarik untuk ditelusuri. Bukan hanya karena ia menduduki tampuk kekuasaan tertinggi di Hindia Belanda pada 1841—1844. Ia dianggap meninggalkan teka-teki tersendiri dalam sejarah Belanda, karena ia termasuk pejabat tertinggi di pemerintahan Hindia Belanda yang meninggal saat masih menduduki kursi jabatannya. Bahkan tercatat ia satu-satunya petinggi Hindia Belanda yang dimakamkan di Pemakaman Peneleh.

Semasa hidupnya ia merupakan Gubernur Jenderal ke-47 di Hindia Belanda, yang mengakhiri jabatannya karena maut. Tercatat ia lahir di Naarden, Belanda Utara, 18 Maret 1787, dan meninggal pada 2 Agustus 1844 pada umur 57 tahun di Simpang Huis atau Istana Simpang, yang kini dikenal dengan Gedung Grahadi.

Dalam majalah Monsun, edisi 10 April 1999, Rob van de Ven Renardel, salah satu ahli waris Pieter Merkus menjelaskan, keputusan Merkus di akhir hayatnya menimbulkan teka-teki dalam sejarah Belanda, terutama sejarah kolonialnya. Pilihannya untuk pindah ke Surabaya pada saat sakit masih diselimuti kabut tebal. Sebagaimana Gubernur Jenderal di negeri jajahan Hindia-Belanda, pada saat menjabat, Peter Merkus tinggal di Batavia sebagai pusat pemerintahan. Namun ketika ia menderita sakit, ia memutuskan tinggal di Istana Bogor, untuk memulihkan kesehatannya karena Istana Bogor sangat baik sebagai tempat pemulihan. Hawanya sejuk dan dingin mirip cuaca di Eropa.

“Namun ketika kesehatannya makin buruk dia memilih tinggal di Istana Simpang di Surabaya,” kata Van de Ven Renardel, sebagaimana yang dilansir dari Monsun.

Ia menduga perjalanan dari Batavia ke Surabaya yang memakan waktu sepekan begitu melelahkan bagi tubuh Pieter Merkus yang sedang sakit, sehingga penyakit yang dideritanya semakin akut. Diduga Merkus ingin rehat di Soerabaia yang berhawa panas, karena di kota dingin Bogor, kesehatannya tak kunjung membaik. Namun ada pandangan lain yang beredar bahwa Merkus disingkirkan dari kekuasaan dan diasingkan oleh pihak berwenang yang berpusat di Nederland karena dianggap tidak setia pada pemerintah Belanda. Apalagi penyakit Pieter Merkus juga misterius.

Bahkan, dalam sejarah Belanda, Pieter Merkus dianggap meninggal dunia dengan tiba-tiba, lalu diganti Jan Cornelis Reijnst sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-48 yang memerintah antara 1844—1845. Yang unik, Gubernur Jenderal sebelum Pieter Merkus, Carel Sirardus Willem Graaf van Hogendrop menggantikan Gubernul Jenderal DJ de Eerens yang dalam sejarah Belanda juga ditulis meninggal secara tiba-tiba.   

Adapun tengara tentang penyingkiran Pieter Merkus dari kursi Gubernur Jenderal seakan-akan teredam sendiri ketika kita membaca prasasti makamnya yang berbahasa Belanda, yang ketika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia kurang lebih berbunyi begini: “Tuan mulia Pieter Merkus, komandan tentara Hindia, veteran perang di Prancis, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, memimpin daratan dan samudera harapan Tuhan….” Meski demikian, tentu saja prasasti itu belum bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi, sehingga sejarah resmi Belanda pun menyebutnya sebagai teka-teki.

Demikianlah.

On Siwalanpanji, 2021

Sumber: Akun FB Mashuri Alhamdulillah

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8706794037184865600

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item