Seberkas Pentigraf Usdhof

 


Pentigrafis: Usdhof

Kau Jerat Aku, Kau Yang Mati

Malam yang dingin tak menyurutkan diriku untuk keluar dari rumahku. Rumahku seperti bunker dengan lorong yang panjang dan berdindingkan tanah. Dua hari yang lalu aku baru saja melahirkan 8 anak. Kutinggalkan di atas jerami yang hangat. Aku pun sudah hamil lagi. Ah...keterlaluan teman laki-lakiku itu.

Dengan takdir mataku yang rabun, aku susuri pematang sawah. Aku hanya mengandalkan kumisku sebagai indera penciuman dan* rasaku. Kucium bau pak tani yang sedang ronda. "Kasihan! Seharusnya pak tani itu beristirahat dengan anak dan istrinya, malah jaga aku." Aku hanya bisa membatin. Memang takdirku. Perusak seperti para koruptor negeri ini.

Aku kembali masuk ke rumahku. Menunggu waktu aman. Tidak mungkin pak tani itu semalaman mendelik di sawahnya. Kutunggu sambil menyusui anak-anakku. "Semoga pak tani itu segera kembali ke anak dan istrinya." Aku pun tertidur. Besok paginya, kulihat sesosok manusia tergeletak di pematang sawah itu. Tak bernyawa terkena sengatan listrik yang dipasangnya. Aku pun kembali ke rumahku sambil menangis. Aku tidak mau jadi koruptor.

Gresik, 02/01/2021

Pengorbanan Seorang Ibu

Langit masih mendung saat aku dibawa ke RS. Awalnya aku isolasi mandiri di rumah mengingat aku juga sedang hamil 35 minggu. Hari demi hari kondisiku menurun. Napasku tersengal-sengal seperti sepeda motor yang akan kehabisan bensin. "Sabar, Nak." Sambil kuelus perutku yang sudah membesar.

Ruang UGD itu terasa sesak meski ada sela di antara dipan pasien. Hatiku seakan kacau. Yang terpikirkan olehku dan suamiku tersayang adalah anakku yang pertama ini. Tim dokter memutuskan kandunganku harus diterminasi dulu. Jabang bayiku harus diambil dulu sebelum waktunya dilahirkan. Meski berat, keluarga harus memilihnya karena mafasid yang lebih kecil. Biarlah aku mati asal anakku selamat. Pikirku.

Napasku bertambah berat. Kuihlaskan jabang bayiku diambil dengan cara dibedah. Aku sudah tak sanggup memberikan nafas. Kerja paruku sudah berat. Kubayangkan kumerasakan cerita teman-temanku saat melahirkan bisa memegang tangan suami yang hangat. Dalam suasana hati yang meracau sendiri, terdengar tangis bayi melagukan dari ruang inkubator. "Terima kasih Bunda! Aku selamat." Aku tersenyum sendiri. Aku masih menunggu donor _plasma convalescent._ Paruku masih berat.

Surabaya, 07/01/2020 12:13


Nestapa Merindu

"Maaf, Bapak harus isolasi di rumah sakit ini." Suara itu terasa menampar wajahku yang sudah lesu setelah menunggu lama hasil swab kemarin. Istriku aku ijinkan pulang. Kulepas untuk menempuh perjalanan panjangku selama 14 hari.

Hari-hari kulalui sangat menjemukan nan membosankan. Yang paling bisa menghiburku adalah WAG alumni sekolah aliyah. Merindu akan begejekan khas kita saat di asrama. Tiga tahun selama belajar bersama terasa sulit untuk dilupakan bagaikan sebuah cinta pertama. Di sela-sela itu aku menghibur diri dengan melihat film di youtube. Seperti pada malam ini kuhabiskan dengan menonton film. Teman-teman sudah tidak kuat menahan kantuk untuk menemaniku begadang. Sedangkan teman sekamar bapak tua yang nafasnya sudah naik turun. Tidak mungkin aku bercanda. Malam telah larut, tapi mataku tidak mau menutup.

Setelah salat Subuh mata sudah tidak tahan melek. Kurebahkan di dipan beralas kain putih itu. Perawat nanti akan marah jika melihat mataku yang memerah terlihat habis begadang. Sejam terasa cukup menghilangkan warna itu dari mataku. "Pak!" Terdengar suara merdu di telingaku. Ada tangan halus yang meraba pundakku. Kupegang tangan itu dengan halus seperti di setiap pagi hari-hariku. Akan tetapi tidak ada kecupan kening yang biasa kurasakan hangatnya. Mana? Kubuka mataku. Sesosok perempuan berbaju putih dibalut APD lengkap dengan stetoskopnya. Langsung kutarik tanganku. Baru sadar aku sekarang tidak di rumah.

Gresik, 13/01/2021

Kepercayaanku Jatuh dari 250 Kaki

Saat itu jarum jam di rumah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Aku masih menunggu kabar keberangkatan suamiku ke Pontianak untuk urusan bisnisnya. Aku tidak bisa mengantar ke bandara karena aku terbaring lemah di atas dipan. Aku terkena kanker payudara stadium 3. Di samping itu, ini urusan pekerjaan suami. Sudah menjadi kebiasaannya terbang ke berbagai daerah dengan naik pesawat. "Sayang! Aku berangkat ya...," Kabar WA dari suamiku. Kuhanya bisa berdoa semoga selamat sampai tujuan. Naik pesawat udara bukan seperti naik kendaraan di darat maupun laut. Tidak ada tempat berlindung saat terjadi kecelakaan.

Ada notifikasi WA masuk dari HP-ku. Temanku mengabarkan ada kecelakaan pesawat dari Jakarta ke Pontianak. Cepat-cepat langsung aku hubungi suamiku. Tidak ada jawaban setelah berkali-kali kutelpon. Hanya nada sambung _"Ketaman Asmara"_ yang kudengar. Beberapa menit kemudian nada itu lenyap. Ah apa ikut tertelan panasnya api ledakan itu!

Keluargaku pun memutuskan mengadakan doa bersama setelah maghrib. Kumasih menunggu kabar suamiku dari pihak maskapai. Meski di dalam daftar penumpang suamiku tidak ada. Aku meyakini ada suamiku di sana karena _take off_ dan tujuan pesawatnya sama dengan yang disampaikan suamiku. Apa suamiku memakai KTP palsu? Setelah beberapa lama, aku liat no WA suami aktif. Aku telusuri keberadaan hpnya dengan fitur _find my device_. Karena akun google HP-nya memakai milikku. Terlacak HP itu ada di sebuah hotel di Bali. Aku _screenshot_ peta tersebut. Aku kirim ke suamiku. "Mas! Darah dari payudaraku menetes deras. Kau jatuhkan aku dari ketinggian 250 kaki." Aku matikan HP. Entah ada apa besok pagi saat kubangun menjemput mentari kelabu.

Surabaya, 14/01/2021

Sumber: Akun FB KPI/Moech Mudhofar


POSTING PILIHAN

Related

Utama 916167256350116408

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item