Puisi-Puisi Muhammad Abduh Ar-Ridha



Muhammad Abduh Ar-Ridha, Lahir Di Sumenep, 16 Oktober 1999. Alumni Mathali'ul Anwar Pangarangan-Sumenep. Beberapa Karya Tulisnya  Pernah Dimuat Di Media Cetak, Di Antaranya: Radar Kampus IDIA Dan Radar Madura. Sekarang Sebagai Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah Filsafat Islam, IDIA Prenduan. Aktif di organisasi AJMI dan Jam’iyatul Qurra’ Wal Huffadz (JQH). Email; arridhaabduh2696@gmail.com

*****


Merindu kekasih
‘tuk alm.Mbah Maimun Zubair
 
Dada sesak
lidah keluh
mata menitik rindu

Tiada sangka
atas pelukan shofa marwa
gugur permata nusantara

Dunia pun piluh
munajah zikir dan doa
membahana mengetuk langit

Rasa dahaga merindu
diri tak rela melepas jeda antara
bunga dawuhmu menelaga
bermekaran harum seroja
di altar-altar hati rintih
 
Rohani menggigil rindu
tetesan sebening embun barokah
walau sejumput cinta bias selendangmu
hendak kularung dalam hati yang lembut
hingga bersama dalam seteguk mata air surga

 IDIA  Prenduan, 07082019




Santri, Nelayan Cinta

Santri mengaji alam samudra
berselimut gerimis pekik tasbih
di sudut-sudut serambi masjid
di lorong-lorong temaram penuh jejaring
berlayar kitab-kitab suci nan klasik tertebar
beriring deburan ombak yang menggigil kekasih
pada huruf-huruf mantra atas geladak doa-doa

Detak jantung santri kian burai permata suci
telusuk rindu pada qalbu yang dingin
geliat tari sufi bawah seruling abadi
jendela nurani mengakar jangkar
adzan pun merayu mozaik jiwa

dayung teruntai sibak tabir jelaga
hasrat cumbu semerbak kasih
labuhkan seribu kapal atas dermaga
penuh mutiara ijabah tuhan
hingga senja sabda dalam dekapan

IDIA Prenduan, 2019




Di Peluk Ibu, Aku Berlayar

CintaMu, lautan yang tak bertepi.
RinduMu, perahu bagiku, ‘tuk melawan tarian-tarian ombak zaman di dahaga rindu, di tepian pantai ku bernyanyi dan menari, sambil memetik bunga-bunga surgawi, lewat kalam-kalam suci ilahi, yang memelodikan sajak-sajak baginda nabi.

Di atas hamparan sajadah alam, kugelar Mahkota namaMu di malam petang.

PelukanMu dan Doa cintaMu selalu bersemayan di detak-detak jantung dan hatiku.
Kurangkai sebuah kata dari gelombang laut yang beraroma maut, dalam pencarian asa, tinggalkan yang aku cinta, mengobati luka kerinduan dalam doa, untuk meraih cita-cita demi seorang aku cinta.

Sumenep, 2020




Perihal Cinta

Dek, di antara keramaian
Ada bunga wajahmu, menari di sudut kota
Kata-kata yang kita rawat bersama adalah rindu yang bergerumuh dalam jiwa
Di lorong sepi kau hadir tanpa bayang,
bayang sunyimu selalu mengabadikan kenang.

Dek, di saat gerimis
Kau tersenyum membawa setangkai bunga dan membawa payung,
 mengantarkanku pada gubuk teduh.
Pandangmu bening di permukaan jalan,
sampai aku mengigil pada nyanyian malam.
Lalu kau hadir menjelma secangkir kopi,
menghangati jiwa dan mengisi hari-hariku dengan kehangatan cintamu.

Sumenep, 2020




MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 599033255669812010

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA