Pantai, Alih Fungsi Lahan, dan Desa yang Berubah

Anak-anak pulau Giliyang ketika di tengah laut sebelum ditetapkan sebagai distinasi wisata (foto: A. Dardiri Zubaidi)

  Dardiri Zubairi

Janji harus ditepati. Tibalah pagi itu saya, bersama teman yang saya ajak untuk jadi pemandu, berkemas-kemas berangkat ke pantai. Mengantar anak bersama 5 teman sepermainannya menjelajahi laut, atau tepatnya pinggir laut. Ini semacam barter bagi anak yang sudah merampungkan buku cerita Matilda, cerita anak super cerdas, yang keranjingan baca buku. Tepat pukul 06.15, kami berdelapan, berangkat ke pantai yang jarak tempuhnya, kira-kira 1 jam 10 menit dari rumahku.

Tiba di pantai, anak-anak ceria. Girang melihat kilau pasir putih, birunya air laut, dan jernihnya air sungai kecil yang membelah sisi selatan pantai. Melihat kegirangannya justru kadang membuat saya cukup sedih. Berbeda dengan generasi saya, hampir anak anak saat ini untuk berenang saja harus jauh pergi ke pantai, atau ke kolam renang. Dulu, saya cukup 10 menit berjalan dari rumah ke sungai untuk mandi, berenang, main seluncuran, mancing, bahkan beol. Entahlah, 10 tahun yang akan datang mungkin pantai ini sudah berubah jadi tambak udang. Atau dikuasai pemodal rakus untuk dijadikan hunian aksklusif. Dan anak anak makin sulit untuk sekedar bermain dengan pasir dan air laut dengan gratis. Mereka akan manangguhkan keceriannya.

Sungai kecil ini masih sangat alami. Tak ada polesan apapun untuk mempercantiknya. Airnya berasal dari sumber mata air tak jauh dari panrai itu. Rimbunan pohon dibiarkan berserakan menjadi semak. Ada titian dari batang entah pohon apa yang ditaruh negitu saja untuk menjadi linyasan penyebarengan dari sisi sungai ke sisi lainnya. Kedalaman air cuma sebatas pusar anak anak, yang paling dalam cuma nyampek leher anak-anak. Aman sekali menjadi tempat mandi dan berenang anak. Sungai ini baru berbahaya untuk anak jika air laut pasang dan menutupi permukaan sungai.

Sambil membiarkan anak dan 5 teman sepermainannya berenang di sungai, saya ngobrol dengan seorang warga di situ. Duduk di sebuah "lencak" dari anyaman bambu, di sebuah pohon teduh yang daunnya memayungi kepala kami, bapak itu memulai kisah pilunya. Ia bercerita telah terjadi banyak perubahan di desa itu, sejak kedatangan pemodal yang membangun tambak udang kira-kira 100 meter di sisi barat pantai. Tambak udang itu dibangun dekat pantai. Aturan 100 meter daei bibir pantai hanya manis di kertas.

Tambak udang itu telah menggangu warga yang mau melintas ke laut. Setidaknya orang harus memutar jika hendak laut, tidak sebebas dulu. Di pantai belakang tambak juga sulit dilintasi, karena di situ dibangun tempat mengolah limbah. Isu yang beredar, lubang itu sudah merenggut seorang nelayan yang tidak tahu kalau ada lubang karena air laut sedang pasang dam menutupi permukaan lubang. Nelayan itu malang, tercebur ke dalam lubang.

Ia juga bercerita banyaknya warga yang menyesal karena tanah sudah lepas. Di musim kemarau, warga yang juga beternak sapi begitu sulitnya menemukan rumput karena berhektar hektar tanah sudah berubah menjadi kubangan tambak. Ada yang mencari rumput hingga 7 km, terdekat 4 km. Sesuatu yang tak pernah terjadi ketika pemodal belum datang.

Kehawatiran makin nampak di wajah bapak ini, ketika suatu saat --entah kapan-- tanah-tanah di sisi timur juga ludes. Semua serba mungkin. Makelar tanah tetap berkeloaran di desa ini. Di sebelah timur pantai, kira-kira 1 km, memang sedang berlangsung pembangunan tambak udang. Ada alat berat berwaena kuning di sana yang sedang mengaduk-ngaduk tanah, membuat kubangan dan meratakannya. Semoga saja tambak udang di sisi timur tidak menjalar ke pantai ini. Pantai ini harus dirawat, bukan saja semata karena keindahan alaminya, tapi juga menjadi penyangga ekonomi para nelayan, dimana sekitar jam 10 WIB perahu-perahu para nelayan datang menepi setelah semalaman mencari ikan.

Sambil mengawasi anak agar tidak bermain terlalu jauh ke tengah laut, saya terus mendegar cerita bapak ini. Kali ini ia mundur ke belakang. Memutar waktu ke masa lalu. Ke masa kolonial ketika penduduk di sini melawan penjajah. Sambil menunjuk ke sebuah kuburan tua tak jauh dari tempat kami duduk, ia bercerita tentang Ke Serrang (mbah Serrang). Dinamai ke Serrang karena cerita lisan menyebut, beliau mati ditembak tentara belanda karena berani menyerang sendirian markasnya. Inspirasi ke Serrang ini belum mampu diterjemahkan oleh warga di sana untuk menghadapi invasi modal.

Sayang, saya harus segera pulang. Anak-anak juga sudah puas main pasir dan mandi di sungai. Kami pamit. Semua bersalaman. Termasuk 6 anak, saya minta bersalaman sama bapak ini dengan benar (mencium secara benar tangannya, bukan meletakkan di dahinya) sebagai bentuk pembelajaran akhlak langsung kepada orang tua. Juga tak lupa memastikan anak-anak menaruh sampah-sampah dari bekas bungkus makanan dan minuman yang mereka bawa.

Di mobil, dalam perjalanan pulang, saya ceritakan kembali soal ini kepada anak. Saya sudah berusaha mencari bahasa yang sesuai dengan umur mereka yang baru menginjak 10 tahun. Soal alih fungsi lahan, soal dampaknya bagi nelayan, soal menjaga lingkungan, soal rakusnya para pwmodal, dsb. Entah, mereka mengerti atau tidak saya dan teman saya --yang saya ajak untuk jadi pemandu--tetap semangat bercerita. Tapi, ketika ditanyakan apakah tambak udang yang berdiri sepanjang pantai akan mengganggu tidak? Semua setentak menjawab, "mengganggu...". Mungkin ketika mereka dewasa baru akan mengerti bahwa jawaban mereka tidak salah.




POSTING PILIHAN

Related

Utama 2256924791772162419

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal


 

item