Dari Webinar Pelatihan Menulis
Mengenal Fiksi Realis dari Sosok Cerpenis dan Penyair

 

Suasana saat webinat berlangsung. Syaf Anton Wr dan M. Shoim Anwar (pojok kanan atas)

Oleh Bintu Assyatthie

Hari ini saya diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam acara Webinar Diklat Literasi Menulis Fiksi Realis, yang diselenggarakan oleh Rumah Literasi (Rulis) Sumenep. Dua pemateri yang cukup inspiratif yaitu Bapak M. Shoim Anwar (Cerpenis) dan Bapak Syaf Anton Wr. (Penyair), telah mampu menghipnotis kami (terutama saya) untuk lebih menghargai kemampuan diri dan mengeksplornya dalam bentuk karya tulis. Bagi saya, mereka bukan hanya pemateri yang berbagi pengalaman dan ilmu, tetapi mereka juga motivator yang mengalirkan energi semangat untuk senantiasa menghargai nikmat Tuhan berupa kesehatan dan kesempatan.

Menulis adalah salah satu bentuk syukur kita kepada Tuhan. Berlimpah ruah anugerah nikmat yang Tuhan berikan, namun seringkali kita lalaikan. Setiap hari, setiap jam, menit, detik bahkan dalam setiap tarikan napas adalah wujud belas kasih-Nya yang tiada batas. Tuhan memberikan kita dua potensi besar, yaitu akal dan hati. Keberadaan dua potensi itu memberikan peluang yang signifikan agar kita bisa memahami dan memposisikan diri sebagai ‘abdun (hamba) dan khalifah (pemimpin). Di sinilah aktivitas “menulis” menjadi ikon penting dalam memaknai dua posisi tersebut secara proporsional.

Menulis identik dengan mengarang. Dalam beberapa hal, penulis seringkali disebut pula sebagai pengarang. Dari identifikasi yang sederhana itu, kita dapat memahami bahwa menulis adalah upaya mengonstruksi ide atau gagasan yang dituangkan dalam bentuk kata-kata. Ada hal baru, unik dan menarik yang kita tawarkan pada pembaca, bukan hasil jiblak atau copypaste, yang dalam dunia literasi dikenal sebagai dosa besar yang harus dihindari. Sesuai dengan tema webinar kali ini, menulis fiksi realis, yakni mengkolaborasikan realita dengan imajinasi sehingga menjadi satu kesatuan yang sinergis dan harmonis.

Fiksi Realis: Mengungkap Realita dengan Manis

Saya tidak mempunyai pengalaman yang cukup banyak dalam dunia cerpen. Satu-satunya cerpen yang pernah saya tulis judulnya “Mimpi yang Sempurna” dan sudah mendapat kritikan cukup pedas tapi manis, karena tokoh dan alur ceritanya kurang konsisten. Sejak itu, saya memutuskan keluar dari dunia tulisan yang bergenre cerpen. Saya anggap, cerpen bukan dunia saya. Akhirnya saya kembali menulis esai dan artikel meski diakui masih belum konsisten.

Saat dapat info tentang Diklat Literasi Fiksi Realis ini, saya memberanikan diri untuk ikut bergabung, menimba ilmu dari pakarnya. Kalau sebelumnya saya hanya menikmati cerpen-cerpen Bapak Shoim Anwar di media, hari ini Rulis mempertemukan kita dengan sang cerpenis tersebut. Meski hanya daring, namun penyampaian materinya cukup padat, berbobot dan mudah dimengerti. Sungguh, sebuah moment spektakuler yang telah menumbuhkan benih-benih cinta dalam diri saya pada dunia fiksi realis.

Menulis harus diawali dengan banyak membaca, entah membaca teks atau konteks. Membaca bukan hanya soal membuka serta memperluas wawasan dan pengetahuan, tetapi membaca adalah perintah agama yang jelas tertulis dalam al-Qur’an pada surah al-‘Alaq ayat 1-5. Dalam aktivitas membaca, kita harus mengfungsikan akal untuk menghubungkan isi teks dengan konteks atau sebaliknya, mengaitkan realita dengan imajinasi dan mengolahnya menjadi tulisan fiksi yang realistis. Tentu saja, semakin banyak membaca, semakin banyak peluang untuk bisa berkarya.

Menulis adalah sebuah proses panjang yang memerlukan kesabaran dan keistiqomahan. Tidak ada penulis yang lahir secara instan, termasuk sang cerpenis, Bapak M. Shoim Anwar yang karya-karyanya sangat mengagumkan itu, telah melalui jalan terjal penuh tantangan dan perjuangan. Baginya, tidak ada kata menyerah apalagi bosan bagi seseorang yang mempunyai tekad kuat untuk menulis. Sehingga dari proses panjang itulah lahir karya-karya fiksi realis yang penuturannya cukup manis.

Ciptakan Peluang, Hancurkan Segala Alasan

Peluang adalah nikmat Tuhan yang sering dilupakan. Banyak sekali waktu terbuang sia-sia. Kadang kita begitu betah berlama-lama nongkrong di media sosial, tetapi terasa amat jenuh saat berhadapan dengan buku bacaan meski hanya sebentar saja. Kenapa hal itu bisa terjadi? Satu jawaban dari Bapak Syaf Anton ialah “Keinginanmu kurang kuat” (Madura: korang bhârénténg). Jawaban sederhana, terkesan klise namun cukup menjadi cemeti bagi hasrat dan keinginan saya yang mungkin selama ini kurang saya seriusi.  

Saat hendak menulis, kita sebenarnya menjual gagasan. Seberapa tinggi kualitas gagasan yang kita tawarkan akan menjadi brand tersendiri bagi tulisan yang kita hasilkan. Ingin menjadi penulis, jangan terbiasa menciptakan alasan, tetapi ciptakan peluang untuk rajin membaca, berpikir dan berimajinasi dalam melahirkan karya-karya orisinil sesuai yang kita minati.

Sebagai pemula dalam menulis fiksi realis, seperti saya tentunya, hendaknya akrab dengan berbagai tulisan-tulisan para cerpenis ternama di tanah air. Seperti Bapak Shoim yang awal mula berkenalan dengan dunia literasi melalui tulisan para penulis nusantara. Beliau lahap habis berbagai macam tulisan sehingga tercipta satu pengetahuan yang solid. Menulis bukan hanya pandai menyebutkan tentang suatu benda, peristiwa atau tempat, tetapi kita harus paham betul bagaimana kondisi dan situasi yang meliputi karakter, budaya, ras, agama, sosial, ekonomi dan juga politik tentang benda, peristiwa atau tempat tersebut. Dengan begitu tulisan kita akan memberikan daya pikat tersendiri dan tentunya lebih realistis.

Dalam closing statement sebagai akhir acara webibar tadi, Bapak Syaf Anton mengatakan bahwa “Jika sempat terlintas, saya ingin jadi cerpenis, novelis, esais, penyair dan seterusnya. Hilangkan dulu itu semua. Berproseslah dengan baik, sehingga nanti kita dapat menemukan identitas kita yang sebenarnya.”  Disempurnakan lagi dengan closing statement dari Bapak Shoim, “Mengarang itu tidak ada hentinya”. Hal itu menunjukkan bahwa menulis merupakan suatu proses panjang yang takkan pernah usai.

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 4642558360563498451

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item