Kisah Asal-Usul Tasbih Biji Pisang Pidak Sunan Bonang Di Tuban


Catatan blusukan: Mashuri Alhamdulillah

Pada tahun 2010-an, saya lupa persisnya, ketika sedang blusukan di kawasan Pantura Jawa Timur, saya nyasar ke makam Sunan Bonang, di belakang Masjid Agung Tuban. Karena pikiran saya agak berbau nonmainstream, alternatif, dan lain sebangsanya, saya ingin menulis sisi lain dari makam Sunan Bonang, yang di luar kebiasaan. Pilihan saya pun jatuh pada seuntai tasbih berwarna hitam yang menjadi souvenir bagi para peziarah. Untunglah, saya bertemu dengan seorang mantan petinju yang bersedia mengisahkan asal-usul tasbih tersebut. Berikut ini tuturannya, tentu dengan sedikit bumbu agar tidak hambar.

Sunan Bonang merupakan walisanga yang dikenal sebagai wali kelana. Beliau menyebarkan Islam mulai dari Demak, Lasem, Tuban, Lamongan, hingga ke luar Jawa/seberang seperti Madura dan Bawean. Sebagai buktinya di tempat-tempat itu ada ‘makam’ dan petilasannya. Dalam perjalanannya, beliau selalu saja membawa tasbih. Ternyata, tasbih itu tidak hanya berfungsi untuk berdzikir atau mengingat Tuhan, tapi juga sebagai senjata.

Suatu ketika, pada bulan Ramadan, Sunan Bonang yang disertai muridnya, Sunan Kalijaga, sedang berkelana di sekitar Tuban. Saat itu Tuban masih berupa hutan belukar. Begitu di tengah hutan, ia dicegat oleh gerombolan penjahat. Dipimpin oleh Bajilu, seorang brandal yang dikenal sakti mandraguna. Istilahnya, papak paluning pande, ora mempan graji lan grenda. Maksudnya, otot kawat balung wesi. Brandal itu sangat ditakuti.

“Hai berhenti orang asing. Tinggalkan bawaanmu,” sapa Bajilul.

Sunan Bonang berhenti, diikuti muridnya Sunan Kalijaga. Sunan Bonang lalu menyerahkan bingkisannya, juga tongkatnya.

“Tolong serahkan juga barang yang ada kantongmu!” pinta Bajilul.

Sunan Bonang menggeleng.

“Maaf Kisanak, ini tasbih. Tidak sembarang orang bisa membawa tasbih ini. Karena sering dijadikan sarana pengingat Tuhan, maka tasbih ini menjadi berat. Tidak sembarang orang bisa membawanya, bahkan kalau dipukulkan pada orang, maka orang itu bisa pingsan atau mati!” terang Sunan Bonang.

Bajilul tertawa terbahak-bahak. Baginya, apa yang diucapkan oleh Sunan Bonang adalah mengada-ada. Pasalnya, benda-benda tajam saja, tidak bisa mempan pada kulitnya apalagi dengan tasbih. Oleh karena itu, ia pun menantang Sunan Bonang.

“Okelah, untuk membuktikan omonganmu. Pukullah tubuhku!” tantang Bajilul.

Ia langsung memuka baju untuk pamer diri di hadapan anak buahnya. Selama ini, ia memang terkenal kebal. Anak buahnya sudah tahu, sehingga mereka pun turut memberi dukungan sambil menertawakan Sunan Bonang. Anah buah Bajilul sudah tahu, bahwa pemimpin mereka memang dikenal sakti dan tak mempan dengan senjata apapun. Sehingga sangat ditakuti orang.

“Maafkan aku, Kisanak, jika Anda nanti terluka,” terang Sunan Bonang.

“Cepatlah. Paling-paling nanti aku seperti digigit semut!” sesumbar Bajilul.

“Baiklah…” tutur Sunan Bonang.

Dengan mengucap nama Tuhan, Sunan Bonang mengayunkan tasbihnya dengan pelan ke punggung Bajilul. Begitu tasbih itu menyentuh kulit Bajilul, terjadi ledakan dan percikan api. Biji tasbih itu pun bertebaran, sedangkah tubuh Bajilul langsung terjerembab ke tanah, ia pingsan. Anak-anak buahnya begitu ketakutan melihat pemimpin mereka tak berdaya. Mereka pun akhirnya menyembah Sunan Bonang dan minta diampuni.

“Jangan menyembah aku, sembahlah Tuhan,” terang Sunan Bonang.

Sunan Bonang lalu menyadarkan Bajilul. Wajah Bajilul pucat pasi ketika ia siuman. Ia langsung mengaku salah dan insaf. Ia dan anak buahnya akan menjadi orang-orang yang berjalan di jalan yang baik. Selanjutnya, Sunan Bonang minta Sunan Kalijaga untuk mengumpulkan biji tasbih yang berhamburan. Begitu dikumpulkan ternyata hanya sampai 99 butir, padahal sebelumnya 100 butir.

“Sudahlah, mari kita lanjutkan perjalanan. Biarlah yang sebutir itu tumbuh agar kelak menjadi warisan buat anak cucu. Tasbih ini berasal dari biji pisang yang banyak bijinya. Kelak ketika tumbuh, namakanlah pisang itu sebagai pisang fidya’, pisang untuk membayar denda bagi orang yang tidak berpuasa, karena aku merasa bahwa puasaku telah ternoda oleh perbuatanku tadi yang memukul Bajilul dengan tasbih biji pisang ini,” tutur Sunan Bonang. “Biji pisang itu bisa menjadi pembeli surga, kelak ketika kita sudah berpulang,” lanjutnya.

Demikianlah kisah tutur, yang pernah saya dengar dari seorang mantan petinju. Dimungkinkan terdapat kisah lain seputar asal-usul tasbih pisang tersebut. Hingga kini, pisang fidya’ yang selanjutnya disebut pisang pidak itu masih ada. Dulu, pada 2010-an, serumpun pisang itu tumbuh di makam Sunan Bonang Tuban dan bijinya masih dibuat tasbih. Pasalnya, bijinya tak perlu dilubangi karena atas kebesaran Tuhan sudah berlubang sendiri. Dulu sempat beredar kabar, pisang ini sulit tumbuh di lain tempat dan tak beranak. Sayangnya, kini, pisang itu sudah tidak ada di kompleks makam Sunan Bonang.

Namun, kini, banyak warga Tuban yang membudidayakannya, terutama untuk souvenir bagi pengunjung yang berziarah ke makam Sunan Bonang di Tuban. Di sisi lain, banyak orang yang meyakini khasiat tasbih biji pisang pidak ini untuk berbagai keperluan, selain untuk mengingat Tuhan tentunya.

Adakah kawan-kawan yang memiliki kisah berbeda terkait dengan asal-usul tasbih biji pisang pidak tersebut?

Mangan sate ditambahi gule
Enak rasane

Sidokepung, 2021

Judul asli: "Sebuah versi kisah asal-usul tasbih biji pisang pidak yang pernah saya dengar dari seorang mantan petinju di Kompleks Makam Sunan Bonang di Tuban", diangkat dari FB Mashuri Alhamdulillah

POSTING PILIHAN

Related

Utama 6440458295263450807

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item