Ibu Ajari Aku Tak Menyabu Rindu


Cerpen: Amiyatul Padilah

Menunggu adalah kata kerja yang memiliki durasi waktu tak terhingga. Jadi tak jarang penunggu mengeluh akan hal ini. Bersabar adalah kunci dalam menunggu, terutama perihal menunggu waktu. Iya, benar sekali. Terutama menunggu waktu temu agar dapat melepas penatnya rindu.  

Dua tahun sudah aku merantau jauh ke tanah garam, tanah yang menurut filosofinya adalah tanah yang berisi gudangnya ilmu, terutama ilmu Agama. Madura adalah kota yang tanahnnya sudah aku pijaki selama dua tahun ini, dan Instute Dirosat Islamiyah IDIA adalah tempat yang menjadi pilihan Ayahku untuk menimbah ilmu. Akibat pilihan Ayah inilah, aku harus berpisah dengan sandaran ternyamanku selama ini-ibu.

Lima menit lagi jarum jam dinding menunjukkan ke angka 06.00 WIB. Yang artinya HP asrama akan dikeluarkan ustadzah dari tempat persembunyiannya. Kebetulan hari ini adalah hari senin, jadi marhalahkulah yang mendapatkan jadwal menelpon. Jadwal menelpon ini memang sudah ditentukan oleh ustadzah sehingga waktu menelpon menjadi per semester, gunanya agar para santri senior dan junior tidak berebutan yang akan mengakibatkan perdebatan ringan.  

“Assalammulaikum ustadzah. Minjam HP ustadzah” ucapku dari depan jendela kamar ustadzah. “Waalaikumussalam. Iya ukhti, tunggu bentar ya”. Tidak perlu menunggu waktu lama, yang ditunggu-tunggupun muncul. HP tononet, begitulah nama khas yang kerab disebut santri untuk benda berukuran sedang tersebut. Namanya hidup di asrama, dan semuanya dituntut untuk sederhana. Termasuk fasilitas menelpon ini. Peraturan di ma’had ini para santri tidak diperbolehkan membawa HP, gunanya agar kami lebih fokus belajar dan belajar. Jangankan kami sebagai santriwati, ustadzahpun tidak diperbolehkan dari atasan untuk memegang HP sejenis android, yang dibolehkan hanya HP tononet.

“Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jaringan,” suara operator itulah yang muncul setiap aku menelpon Ibu. Belum putus asa, akupun menelpon ke nomor Ayah. Lagi dan lagi suara operator lagi yang menghiasi pendengaranku pagi ini. Berkali-kali aku mencoba menelpon ke nomor yang sama, tapi tetap saja hasilnya sama. Waktu seminggu yang aku tunggu selama ini berbuah kecewa.

Rinduku sudah membara, tak jarang air mataku jatuh dengan sendirinya karena menahan rindu yang teramat dalam. Rindu ingin curhat, rindu tertawa bersama, dan yang paling aku rindukan dan tak pernah aku dapatkan adalah rindu omelan ringannya dikala aku melakukan kesalahan. Betapa beratnya menjadi perantau, selain ujian kantong kering dan sakit tanpa keluarga,  ujian rindu adalah ujian yang teramat berat.

Sepertinya foto Ayah dan Ibu yang terpajang rapi di pintu lemariku, memberi energi positif dalam kecewaku hari ini. Walaupun tidak sepenuhnya mengobati. Dalam diam aku bergumam “Ibu, ajari aku agar tak merindu”. Kata-kata itu sangat pas buat aku yang sedang dan sangat merindu. Walaupun aku tahu, bagi seorang perantau kata rindu itu pasti ada. Sekuat apapun cara untuk menghindar dari rindu, dan semakin kuat jugalah rindu itu bertambah. Berpikir positif dan mencari aktivitas-aktivitas positif, cara ampuh dalam menepis pikiran negatif. Mengisi setiap waktu kosong yang datang adalah salah satu cara menghindar dari pikiran-pikiran negatif. Sama halnya dengan aku, agar tidak selalu ingat Ibu, aku mencari aktivitas yang dapat menyita setiap waktu kosongku. Karena aku yakin, do’a disetiap sujudku sudah cukup menjadi wasilah rinduku pada Ibu.

(Amiyatul Padilah, Palembang, Semester VI Prodi Pendidikan Bahasa Arab IDIA Prenduan)


POSTING PILIHAN

Related

Utama 1567444983606634687

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item